Blessing in Disguise

+8

Oleh: Ristanti Anistiya

Selepas Asar di hari pertama puasa Ramadhan, dengan hati gembira saya bergegas ke area bunderan di ujung kompleks perumahan yang setiap Ramadhan biasanya selalu dipenuhi para pedagang yang menjajakan berbagai menu jajanan lengkap untuk berbuka puasa. Dan di benak saya sudah tercatat daftar panjang makanan kesukaan apa saja yang akan dibeli untuk buka puasa nanti.

Namun tercengangnya saya saat tiba di lokasi dan menyaksikan area yang sepi nyaris tak ada pembeli yang biasanya ramai mengerumuni setiap penjual. Sudah pindah kah ke tempat lain? “Sekarang tidak banyak yang jualan di sini,” ujar seorang penjual es buah sambil menyiapkan dagangannya dan seakan dapat membaca mimik wajah keheranan saya. Dan akhirnya saya harus menelan kenyataan bahwa Pandemi Covid-19 masih menunjukan kehadiran dan dampaknya di bulan Ramadhan tahun ini. Dan ini belum seberapa.

Tak terasa, ini Ramadhan kali kedua kita di tengah Pandemi Covid-19. Ramadhan 1442 H tahun ini masih seperti Ramadhan tahun lalu saat awal pandemi mulai merebak di bumi Indonesia. Kita kembali menjalani puasa dalam situasi yang tidak biasa. Pandemi ini telah membuat sejumlah hal yang lazim dilakukan selama puasa tidak bisa lagi leluasa dilakukan. Masyarakat kembali harus menahan diri berdamai dengan pandemi. Namun tak sedikit pula yang nampaknya telah lelah lahir dan batin dan akhirnya memilih untuk melupa.

Umumnya manusia cenderung untuk melihat segala sesuatu sesuai dengan sudut pandang yang diyakininya dan hal ini mempengaruhi sikap dan keputusan yang diambil. Seperti halnya bagaimana kita menyikapi Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun lebih ini. Beragam pendapat, sikap dan tindakan pro dan kontra, positif dan negatif, penuh harap dan keputus-asaan, telah riuh berkecamuk di masyarakat dan di media sosial sejak Pandemi ini merebak sampai kondisi sekarang yang dirasa telah mereda namun tetap menghadirkan rasa was was dan waspada karena virus Corona yang belum murni enyah dari muka bumi ini.

Sebagian besar merasa bahwa Pandemi ini adalah ujian dari Tuhan yang terlampau berat dan telah memberikan dampak buruk yang tak tertahankan pada kehidupan setiap insan. Hampir semua akan setuju dengan pendapat bahwa tidak ada sisi baik sedikit pun dari pandemik ini. Dan itu sangat manusiawi. 

Padahal Allah Ta’ala selalu menurunkan hikmah disetiap kejadian, seburuk apapun itu, Apalagi jika kita sikapi masalah pandemi ini dilihat dari keberkahan bulan Ramadhan, maka sebenarnya ada beberapa  hikmah dan anugerah besar yang dapat kita raih, baik anugerah sebagai individu mau pun anugerah sebagai umat muslim.

Aktivitas ibadah yang rutin kita jalankan pun memang tak luput dari dampak Pandemi ini. Menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan pun tak terkecuali. Betapa kita dipaksa untuk menerima keadaan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kita akan dirumahkan dan dibatasi dalam berkegiatan ibadah, salah satunya menjalankan sholat Tarawih berjamaah di mesjid atau mushola. Sulit digambarkan sedih dan dan beratnya menerima hal ini. Namun tidak ada pilihan lain karena memang virus yang mematikan itu sedang merajalela.

Maka aktifitas sholat Tarawih mendadak dipindahkan ke rumah dan dilakukan secara mandiri bersama keluarga. Para kepala keluarga, siap tidak siap, mau tidak mau, mendapat tugas memimpin sholat berjamaah bersama anak istri mereka. Setiap anggota keluarga berusaha menghangatkan suasana ibadah di rumah dengan menciptakan vibrasi kebersamaan dan kekusyuan dan berusaha menyamai seperti saat mengikuti sholat tarawih berjamaah di masjid. Dan hal ini terus berlangsung hingga Ramadhan berakhir. Tanpa disadari, semakin eratnya ikatan dalam keluarga melalui aktifitas ibadah sholat Tarawih dan lainnya ini telah menjadikan salah satu hikmah kebaikan yang tercipta melalui adanya Pandemi ini. 

Hikmah lainnya adalah dengan meningkatnya kesolehan sosial di masyarakat. Umat Muslim seperti mendapat tantangan untuk meningkatkan solidaritas dan kepekaan sosial mereka untuk bersama-sama mencegah penyebaran virus ini. Mulai dari aparat Pemerintah, tokoh masyarakat dan alim ulama bahu membahu menyadarkan masyarakat akan bahayanya virus ini dan pentingnya untuk mematuhi protokol kesehatan saat melaksanakan ibadah demi kepentingan bersama. Tidak boleh ada seorang pun yang egois tidak mematuhi hanya karena mengikuti keinginannya sendiri. Maka budaya saling mengingatkan satu sama lain dan budaya malu pun mulai tumbuh di masyarakat. Sekarang malu rasanya jika kita tidak memakai masker saat di tempat umum. Para pengurus masjid atau DKM pun semakin semangat meningkatkan kinerjanya dengan semakin melengkapi sarana dan tata tertib di masjid untuk memenuhi protokol kesehatan sehingga jamaah dapat beribadah dengan lebih aman dan nyaman.

Memang akan sangat manusiawi untuk menyikapi Pandemi ini secara negatif. Kelelahan lahir dan batin dalam menjalani Pandemi yang panjang ini salah satu penyebabnya. Maka respon alamiah sebagian besar kita adalah menolak dan menghujatnya. Dan alih-alih berusaha sabar dan mencari makna dibaliknya, kita malah mempertanyakan Tuhan mengapa mengirim virus yang mematikan itu dan membiarkannya merajalela dan menghancurkan banyak sendi kehidupan. Banyak dari kita masih sulit menerima kenyataan perubahan yang dipaksakan oleh Pandemi ini.

Namun, dengan cahaya iman yang dihadirkan di kalbu setiap muslim dan upaya saling mengingatkan dan menasehati terutama dari para alim ulama, kita menyadari dan mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas izin Allah Pemilik bumi dan langit beserta isinya. Bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohon pun adalah atas seizin-Nya. Termasuk virus penyebab Pandemi ini pun hadir atas izin Allah dan semua pasti ada hikmah dibaliknya yang seharusnya kita cari dan maknai.

Maka seiring waktu berjalan, terutama dengan keberkahan di bulan suci Ramadhan ini, semakin banyak dari kita yang mulai menyadari hikmah dari semua ujian ini. Pepatah dari Barat mengatakan: Blessing in disguise, akan selalu ada hikmah dibalik kejadian yang tidak kita inginkan. Pandemi telah membuat kita untuk jeda sejenak, menghela napas dan merefleksi tentang diri dan semua yang telah dan sedang kita lakukan.

Pandemi telah membuat kita untuk mensyukuri apa yang telah ada dalam hidup kita, keluarga tercinta dan waktu-waktu berharga bersama keluarga yang banyak terlewatkan selama ini. Pandemi telah menyadarkan kita tentang kekuasaan Allah yang tanpa batas dan betapa lemah dan tak berdayanya manusia sehingga tak layak untuk menyombongkan apa pun. Pandemi pun telah mengajarkan kita untuk terus bersangka baik pada Pemilik Hidup bahwa kita tidak akan diberi cobaan melebihi kemampuan kita dan Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya dan bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. 

Sepahit apapun kehidupan yang harus dijalani sebagai dampak dari ujian pandemi ini, akan selalu ada asa dan persangkaan baik pada Pencipta alam semesta bahwa virus Corona ini akan diangkat pada waktunya dan pandemi akan segera usai. Semoga kita dimudahkan untuk mendapatkan hikmah dibalik semua ujian ini dalam keadaan seburuk apapun dan dimudahkan untuk meridhoi apapun yang Allah putuskan dan berikan. Dan semoga ini menjadi Ramadhan terakhir dalam pandemi dan tahun depan kita bisa menyambut Ramadhan Mubarak yang tak lagi sunyi dengan penuh suka cita, biiznillah.


Photo by Guillaume de Germain on Unsplash

+8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *