Aktivisme Jurnalis, Bukan Jurnalis-Aktivis

4+

Dalam salah satu sesi Kelas Daring Literasi Media II oleh Aksara Institute, seorang peserta bertanya, bolehkah jurnalis sekaligus menjadi aktivis? Satu topik lama yang pernah saya diskusikan bersama sejumlah teman, dan sampai sekarang selalu menjadi pembahasan menarik, sulit dijawab, dan memunculkan banyak pertanyaan lanjutan.

Menurut saya, ini bukan jenis pertanyaan yang dapat dengan mudah dijawab: boleh atau tidak boleh. Ada sejumlah konteks yang menyertai.

Satu dari delapan saran terbaik yang diberikan oleh panel jurnalis dan editor saat meliput isu lingkungan adalah avoid activism. Joydeep Gupta, Direktur Third Pole di Asia Selatan, portal berita lingkungan yang fokus pada Himayala, mengatakan, tidak masalah jika kita mewawancarai aktivis. Tetapi, pemeriksaan silang tetap harus dilakukan sama seperti terhadap pernyataan perusahaan atau politikus.

Memilih apa yang Anda ingin orang ketahui adalah bentuk aktivisme, meskipun bukan merupakan pawai dan protes.

Matt Pearce, reporter Los Angeles Times

“Sebagai editor, saya tidak akan menerima berita hanya karena itu adalah isu perubahan iklim atau lingkungan. Nilai berita adalah yang terpenting. Saya tidak ingin jurnalis aktivis dan penting untuk menjaga batas itu tetap utuh,” kata Gupta.

Topik mengenai jurnalis-aktivis juga muncul dalam artikel feature yang dimuat di laman Nieman Reports. Salah satu pertanyaannya mirip dengan bahasan jurnal-isme kita pekan lalu mengenai bolehkah wartawan mengekspresikan pandangan politik mereka, di media sosial misalnya?

Mantan Editor New York Times yang kini mengelola The Marshal Project—portal nonprofit yang fokus pada isu sistem peradilan pidana di Amerika Serikat—mengatakan, “Kami menyediakan informasi kredibel yang dapat menjadi rujukan siapa pun. Tapi kami tidak mendukung, kami memberi orang informasi untuk mengambil keputusan sendiri.”

Nilai berita adalah yang terpenting. Saya tidak ingin jurnalis aktivis dan penting untuk menjaga batas itu tetap utuh. (Joydeep Gupta, Direktur Third Pole)

Samhita Mukhopadhyay, Editor Eksekutif Teen Vogue, mendesak reporternya untuk menahan diri dari keinginan ikut serta dalam demonstrasi ketika mereka sedang meliput. Alasannya, akan sulit mendapatkan berita jika reporter ikut aksi. “Jika mereka ingin memprotes pada waktu mereka sendiri, saya tidak akan memutuskan, apakah boleh atau tidak,” kata Mukhopadhyay.

Cerita Mukhopadhyay pernah saya alami ketika seorang rekan kerja menulis laporan jurnalistik dan pada saat bersamaan, ikut dalam demonstrasi yang dia liput. Pandangan saya ketika itu adalah, dia harus memisahkan antara meliput dan turun aksi sebagai cara mengekspresikan pandangannya terhadap isu tersebut. Pemisahan yang saya maksudkan dalam konteks saat itu bukan berarti larangan untuk mengekspresikan opini pribadi.

Dan dengan menceritakan pengalaman itu kepada peserta KDLM II, saya menjawab pertanyaannya: saya tidak melarang sang reporter untuk ikut aksi mendukung atau protes, tetapi sebagai wartawan, kita punya peran sendiri dalam meliput peristiwa. Protes atau dukungan kita dalam konteks saat itu dan topik tersebut, bisa dilakukan dalam bentuk lain. Apalagi jika kita punya fakta yang solid, kita bisa melakukannya lewat laporan jurnalistik.

Sebagaimana dikatakan Matt Pearce, reporter Los Angeles Times, “Memilih apa yang Anda ingin orang ketahui adalah bentuk aktivisme, meskipun bukan merupakan pawai dan protes.”

Wartawan membuat banyak pilihan sebelum laporan jurnalistik mereka dipublikasikan. Memilih sudut pandang dengan segala pertimbangannya: fakta mana yang menjadi gagasan utama, data dan dokumen apa yang dapat mendukung gagasan itu, serta siapa narasumber yang paling kredibel dan relevan untuk diwawancara. Dan jika pilihan-pilihan ini kita anggap sebagai bentuk aktivisme jurnalis, saya sependapat.


Penulis: R. Dewi Kandi

Feature Photo by Clay Banks on Unsplash

Photo by Allec Gomes on Unsplash

4+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *