Riuhnya Malam Selikuran

+327

Oleh : Eny Sofie

Ramadan adalah bulan yang banyak di nanti oleh anak-anak di desaku. Di bulan ini banyak sekali kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Mulai dari sholat tarawih, buka bersana, membangunkan orang untuk makan sahur pun secara bersama-sama. Kesenangan tak berhenti sampai di situ, Bulan Ramadan juga identik dengan bermain petasan dan kembang api. Meskipun permianan itu cukup berbahaya namun anak-anak di desaku senang sekali memainkannya. Mereka biasanya main kembang api dan petasan sepulang dari  sholat tarawih di masjid. Kebahagiaan di bulan Ramadan ini makin terasa saat memasuki 10 hari terakhir. Pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan ini ada tradisi yang sudah dilakukan secara turun menurun. Tradisi ini dilakukan pada malam ke 20 bulan Ramadan. Tradisi ini dinamakan Malam Selikuran.

Malam Selikuran biasanya diadakan di sebuah tua masjid yang ada di desaku. Masjid itu sering dikunjungi orang dari daerah luar yang sedang berziarah di makam wali di desaku. Oh ya… desaku adalah salah satu desa wisata religi yang ada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di desaku ada makam seorang wali yang bernama Waliyullah Hasan Munadi. Beliau merupakan pendiri masjid pertama yang ada di desaku dan beliau juga yang membangun desaku untuk pertama kalinya. Karena adanya makam itu, maka desaku banyak dikunjungi oleh peziarah, baik yang berasal dari Jawa tengah maupun berasal dari luar Jawa Tengah, bahkan luar Jawa.

Pada bulan Ramadan ini, penduduk desaku selalu mengadakan tradisi malam selikuran. Tradisi ini dilakukan untuk menandai 10 hari terakhir bukan Ramadan yang didalamnya terdapat malam Lailatul Qadar. Tradisi ini dilakukan dengan cara berjalan dari rumah masing-masing menuju ke sendang Kalimah Toyyibah untuk membersihkan diri, Setelah mandi dan membersihkan diri  di sendang, dilanjutkan jalan ke masjid untuk mengikuti acara doa bersama dan tahlil. Doa bersama dan tahlil selesai menjelang adzan maghrib, lalu acara dilanjutkan buka puasa bersama dan sholat maghrib secara berjamaah.

Setelah sholat maghrib adalah waktu yang dinanti-nanti oleh sebagian besar anak di desaku. Jeda waktu maghrib dan isya banyak digunakan anak-anak untuk melihat orang ang berjualan di sepanjang jalan desa, Oh ya,,, tradisi malam selikuran di desaku juga diramaikan oleh orang yang berjualan, baik penduduk desaku maupun penduduk dari luar desaku. Hal ini menjadi ciri khas tradisi selikuran ini dan membuat anak-anak di desaku sangat bergembira karena mereka bisa membeli berbagai macam jajanan yang ditawarkan oleh para penjual. Bahkan karena padatnya pengunjung terkadang sampai kita harus jalan bedesak-desakan dan mengantri panjajng jika ingin membeli makanan,

Saat adzan isya berkumandang, orang-orang bergegas menuju masjid untuk melaksakana sholat isya dan sholat tarawih. Setelah itu mereka berduyun-duyun jalan ke makam. Di makam Waliyullah Hasan Munadi, anak-anak dan orang tua berjejal masuk kedalamnya. Karena keterbatasan tempat dan banyaknya pengunjung yang datang, maka banyak diantara mereka yang berdoa diluar makam, Di sana mereka melakukan istighosah untuk mendoakan para leluhur. Mereka juga ngalap berkah dari Waliyullah Hasan Munadi dan putranya Hasan Dipuro. Setelah berdoa dan ngalap berkah, Sebagian pendududk desa dan anak-anak pulang keruamah masing-masing. Sebagian pengunjung ada yang menghabiskan malam di makam itu  sampai menjelang subuh. Mereka akan makan sahur yang di sediakan di masjid dan sholat subuh berjamaah disana.

Tradisi ini dilakukan setiap tahun, dan ternyata semakin banyak orang yang datang ke desaku untuk mengikuti tradisi ini, Hal ini merupakan kebanggan tersendiri bagiku dan orang-orang di desaku karena desaku dikenal banyak orang yang ingin mengunjungi makan wali dan ngalap berkah disana, Disamping itu, kegatan ini juga bisa dimanfaatkan oleh Sebagian penduduk desa untuk mencari rejeki denag cara berjualan di sepanjang jalan desa. Hal ini otomatis akan sangan membantu perekonomian penduduk desa, Itulah sekelumit cerita tentang keriuhan malam selikuran di deasku, yang membawa kebahagiaan tersendiri di hati kami, penduduk desa Nyatnyono, Kabupaten Semarang.


Photo by Rene Bernal on Unsplash

+327

5 Comments on “Riuhnya Malam Selikuran”

  1. Tradisi itu memang dapat mempersatukan masyarakat, meningkatkan ekonomi, mengingakan kita akan kejayaan masa lampau.
    Coretan penanya Keren membagi pengetahuan, dan semoga bermanfaat

    +3
  2. Kerren…
    Slmt nguri-uri tradisi bumi prtiwi… smga lestari… kini dan nanti
    👏👏👏👍👍👍

    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *