Ramadhan Tempo Doeloe

+2

Oleh: Rakhmat Wahyudi

Melihat tema “Ramadhan dan masa kecil”, pikiranku langsung menerawang ke era 90an. Senyumku terbit tak terelakkan mengingat kelakuan kala itu. “Gue waktu itu, begajulan juga ya”. Main petasan, membangunkan orang sahur, ngabuburit, main monopoli, mengisi jurnal Ramadhan, pesantren kilat, jajan di Masjid dan perang sarung saat sholat tarawih menjadi rutinitas sebulan penuh kala itu.

Kondisi Ramadhan yang kujalani 23 tahun lalu tentu berbeda dengan sekarang. Bumi terus berputar, dunia berubah begitupun dengan manusia di dalamnya. Dulu, ada jurnal Ramadhan yang senantiasa menemani hari-hari di bulan puasa. Jurnal Ramadhan merupakan sebuah buku catatan untuk memonitor aktivitas ibadah seperti puasa, sholat, tilawah, tarawih, sedekah, dan lainnya. Salah satu lembarannya adalah isi kultum sholat tarawih yang harus ditandatangi oleh si penceramah. Alhasil, diriku yang saat itu masih males-malesan sholat tarawih harus menunggu hingga penghujung sholat untuk berburu tanda tangan.

Selanjutnya, hal yang terngiang tentang Ramadhan di masa kecil adalah bermain monopoli seharian, permainan fisik seperti benteng, bola kaki di kebun belakang yang saat ini beralih menjadi rumah petakan. Maklum, di usia kanak-kanakku, tekhnologi tidak secanggih sekarang. Kami yang hidup di era 90an tidak punya banyak pilihan bermain gawai. Jikapun ada hanya kalangan menengah ke atas yang mampu memilikinya.

 Jenis makanan yang tersedia pun cukup berbeda. Kolak, es buah dan aneka macam gorengan tentu masih jadi pilihan kebanyakan orang hingga sekarang. Namun, ada makanan yang perlahan hilang tergantikan oleh makanan dengan nama-nama aneh. Lihat saja sepanjang jalan Cibubur tempatku tinggal, sangat mudah menemukan kedai yang menjual teoppoki, boba milk, Korean barbeque, dan masih banyak lagi. Ini Cibubur atau Cheongdamdong?.

Terakhir, hal paling berbeda yang kurasakan adalah kegiatan pulang kampung alias mudik.  Kereta api menjadi primadona pilihan transportasi untuk mudik. Daya tampungnya yang besar dan bebas hambatan jadi alasan dibaliknya. Namun, jangan bayangkan kenyamanan dan kebersihan kereta api seperti masa kini. Mendapatkan tempat duduk selama perjalanan sudah jadi hal yang sangat disyukuri kala itu. Aku pernah terpaksa duduk di dalam kamar mandi kereta api karena penumpang memenuhi ruangan bahkan hingga ke sambungan gerbong. Belum lagi pedagang yang hilir mudik menjajakan makanan menggoyahkan puasaku.

Kondisi sekarang sudah jauh berbeda dengan dulu. Walaupun begitu, masa lalu tetap menjadi sejarah untuk masa depan. Masa untuk dikenang dan menjadi pembelajaran yang berharga agar kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Dengan kemajuan teknologi dan semakin banyak kreativitas membuat semua terasa mudah saat ini.

Ramadhan ku tempo doeloe begitu menggelitik karena keluguan kanak-kanak. Tak terasa, kini diriku sudah berkeluarga dan telah dikaruniai 2 anak dan semoga mereka dapat tumbuh menjadi insan yang baik, bermanfaat bagi sekitar dan penghafal Al Quran. Aamiin yaa Rabbal Alaamiin.


Photo by frank mckenna on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *