Bapak dalam Kenangan

+96

Oleh : Nining Handajani

Saat mulai memasuki kelas tiga sekolah dasar, bapak seringkali menceritakan nikmatnya berpuasa di bulan ramadan.  Aku yang sebelumnya hanya puasa setengah hari, bahkan seringkali nyaris hampir tidak puasa, sekali ini rasanya tertarik melakukan ibadah puasa ramadan penuh. Dua-tiga hari sebelum bulan ramadan tiba, kuutarakan keinginku untuk puasa penuh. Ada kakak yang bertanya “beneran kuat, nanti mokel lagi, setengah hari lagi”. Ada juga yang mendukung dan berjanji memberikan bonus di akhir ramadan.

Awal ramadan tiba, bangun untuk makan sahur, amatlah berat. Menu spesial saat sahur yang nikmat, segelas susu, ditambah satu buah roti isi coklat,  membuat mata ini lebih segar dan jauh dari rasa kantuk. Bapak membimbingku mengucapkan niat dan memintaku untuk tidak tidur kembali, sembari menunggu adzan subuh tiba. Kami sholat subuh berjamaah di rumah. Inilah awal drama dimulai.

Ketika adzan dhuhur, mulai aku merasakan lapar dan dahaga. Beruntung hari itu, bapak khusus menjemputku pulang sekolah. Diajaklah aku keliling kota sejenak dan segera kembali pulang ke rumah. Bapak mengajak sholat dhuhur berjamaah. Walaupun rasa kantuk tidak tertahankan, aku patuh mengikuti perintahnya. Sedikit bawel dan rewel, aku mulai mengeluh lelah walaupun akhirnya aku tertidur pulas karena bapak berjanji mengajakku jalan-jalan sore harinya.

Seharusnya bapak kembali ke kantor usai sholat dhuhur, tetapi yang kuingat saat itu sore harinya, bapaklah yang membangunkanku  untuk segera mandi dan sholat ashar. Bangun dari tidur pun, aku masih bawel, rewel dan mulai menjengkelkan. Salah seorang kakakku sempat meledek “buka saja ya kalau rewel”. Rasanya gengsi jadi taruhannya. Aku bergegas mandi dan ikut bergabung shalat berjamaah.

Bapak menepati janjinya, diajaklah aku ke alun-alun dimana diseberang jalan ada masjid besar, maskot kota tercinta. Bapak mengajakku ke toko roti langganan. Hampir semua roti kutunjuk dan ingin kubeli. Bocah yang sedang lapar mata. Bapak tersenyum dan membelikan beberapa saja ditambah susu kotak dingin. Belanjaan aku genggam erat-erat. Lisan ini terus meracau, lelah dan haus, minta ini dan itu, semua kutunjuk.

Adzan maghrib tiba, rasanya seperti surga dunia. Kuhabiskan susu kotak dan satu buah roti, tiba-tiba rasa kantuk menyerang. Bapak menuntunku mengambil air wudhu, tapi rasa kantuk ini tidak hilang. Dalam perjalanan pulang, aku sudah tertidur lelap dalam gendongannya.

Selama hampir tujuh hari, Bapak selalu membimbingku, mengorbankan kegiatan kantor dan meluangkan waktunya hanya untuk menemaniku agar tidak lagi puasa setengah hari. Bapak pula yang terus memberikan semangat untuk menegakkan sholat lima waktu dan mengaji. Bagi kebanyakan orang, bapak adalah cinta pertama putrinya. Tetapi bagiku bapak adalah cinta seutuhnya. Cinta pertama, bisa membuat luka atau mungkin berakhir indah. Tetapi cinta seutuhnya, akan hadir sepanjang usia.


Photo by Juliane Liebermann on Unsplash

+96

One Comment on “Bapak dalam Kenangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *