Buat Ibu Tercinta

Oleh : Nik Damayanti

Ibu, bagaimana kabarnya? Semoga ibu bahagia. Aku sangat merindukanmu. Tak tahu kalimat seperti apa yang harus kuungkapkan untuk dapat meluapkan rasa rinduku padamu. Aku selalu menulis apa yang ingin kuceritakan pada Ibu di kala bahagia atau pun sedih.

Ibu, saat ini menjelang puasa tahun kedua tanpa kehadiranmu. Kami lengkap enam orang putra-putrimu tidak lupa mengunjungi pusaramu. Saat Bapak Juru Kunci makam membacakan doa untukmu, kami semua larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Isak tangis yang kami tahan tetap terdengar meskipun lirih. Seusai mendoakanmu, kami beristirahat sebentar di pendopo makam. Satu-persatu dari kami mengingat apa saja kenangan bersamamu saat nyekar menjelang puasa.

Ingatkah Ibu, dulu saat kita nyekar eyang, Ibu berpesan pada Pak Juru Kunci kalau nanti berpulang ingin dimakamkan di bawah pohon kamboja yang daunnya rindang, sehingga Ibu membayangkan betapa teduhnya beristirahat di situ. Pak Juru Kunci hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun. Setelah selesai nyekar eyang, kita melewati pohon kamboja itu lagi dan permintaan yang sama Ibu sampaikan. Namun, hanya senyuman sebagai jawabannya. Sebelum kita pulang, sambil istirahat sejenak di pendopo makam, keinginan yang sama Ibu sampaikan lagi ke beliau. Dengan bijak bapak yang berusia sekitar tujuh puluhan itu hanya menjawab,”Sampun ngendikan ngaten, Bu, sakmeniko Ibu taksih diparingi sehat, kok (Jangan berbicara begitu, Bu, sekarang Ibu masih dianugerahi kesehatan, kok).”

Kita akhirnya tahu bahwa Pak Juru Kunci ternyata mendahului berpulang. Selanjutnya tugas diemban oleh putranya dan saat Ibu berpulang tempat yang Ibu pesan sudah dipakai orang lain yang lebih dulu berpulang.  Mohon maaf ya, Bu, keinginan Ibu tidak bisa kami laksanakan. Tapi kami percaya, Ibu tidak keberatan.

Sekarang makam sudah banyak terisi, Bu. Di sebelah Ibu sudah mulai banyak penghuni, padahal dua tahun yang lalu masih terasa lapang. Pohon di samping pusara Ibu sekarang sudah tinggi sehingga bisa melindungi kami dari panas. O, iya, sebelum ke makam Ibu kami tidak lupa nyekar di makam eyang. Hari ini tidak ada orang lain yang nyekar kecuali keluarga kami. Maaf, Bu, hari ini, Khaniif, cucu Ibu, tidak bisa ikut karena mengerjakan tugas kuliah, insya Allah minggu depan akan mengunjungi Ibu.

Ibu, biasanya setelah kita nyekar pasti Ibu ingin menikmati nasi cumi di pasar. Rasanya berbeda kalau kita membeli di tempat lain. Kangen atas rasa nasi cumi itu cukup dengan setengah piring sudah terpuaskan, selebihnya pasti aku yang menghabiskan. Setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan untuk nyekar Bapak. Rute yang sama kami lakukan saat ini seperti dulu kala bersama Ibu dengan lengkap delapan putra-putri Ibu. 

Perjalanan kali ini sangat menyesakkan dada. Bagaimana tidak, Allah sudah memanggil tiga orang hamba-Nya, Ibu, Mas Yudi, dan Mas Totok. Setelah Ibu berpulang, Mas Yudi menyusul sekitar satu tahun setelah itu, dilanjutkan dengan Mas Totok tiga bulan kemudian. Namun, kami yakin, Ibu, Mas Yudi, dan Mas Totok sudah tenang di sisi-Nya dan sembuh dari segala penyakit yang diderita selama ini. Saat hati bisa berpikir tenang maka bahagia yang kami rasakan. Aku yakin, Ibu juga bahagia sekarang. Dengan usia 92 tahun tentu sudah terlalu lelah bagi Ibu untuk menjalaninya. Tidak ada bahagia yang dirasakan orang lain melebihi kebahagiaanku, ditemani Ibu sekitar sepuluh tahun terakhir.

Setelah Ibu berpulang, acara lebaran yang dulu selalu di rumah, sekarang tidak lagi, Bu. Sesuai kesepakatan kami putra-putrimu, acara lebaran diadakan bersamaan dengan arisan keluarga dan yang ketempatan adalah yang dapat arisan. Tahun ini adalah lebaran kedua tanpa kehadiranmu, Bu. Sungguh hal yang sangat sulit bagi kami, menjalani kehidupan tanpa Ibu. 

Ibu, semua sisi rumah menjadi kenangan atas kehadiranmu. Saat aku tidur, tempat itu yang dulu menjadi tempat Ibu beristirahat. Saat aku membuka lemari, ada mukena, kerudung, pakaian maupun handuk Ibu. Kenangan terberat adalah saat membuka galeri foto di gawaiku, foto Ibu tersimpan banyak sekali di situ. Segala cara telah kucoba namun begitu sulit menghapus kenangan bersamamu. Satu-satunya cara adalah kusimpan rapi kenangan itu di dalam hati. Aku bangga bisa menemani ibu lebih lama dibanding putra-putri Ibu lainnya.

Ibu, aku sangat mencintaimu. Rasa itu tersimpan kokoh di hati dan tak akan pernah terganti.  Terima kasih atas segala curahan cinta tanpa letih dan kasih sayang yang tanpa pamrih. Di saat rindu yang begitu hebat kugoreskan pena bertinta di atas kertas sehingga tercipta untaian kata. Ibu, surat ini aku tulis untukmu, Di sini tertulis bait-bait rindu yang terbelenggu, Serta harapan untuk bisa bertemu, meski hanya dalam mimpi.

Ibuku sayang, selamat tinggal untuk selamanya. Tenanglah engkau di alam sana. Kami semua akan menyusulmu, karena hakikatnya diri kita adalah tiada. Namun, kasih-Nya membuat kita ada, itu pun hanya sementara. Jarak yang membentang di antara kita, tidak akan jadi penyusut semangat doa yang akan terus-menerus kubaca, supaya engkau berada di tempat yang paling indah di sisi-Nya.Aamiin.

Sidoarjo, 7 April 2022

Anakmu yang selalu merindukanmu


Photo by JORGE LOPEZ on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *