Bukan Siti Nurbaya

Oleh: Lia Nathalia

“Zaman Siti Nurbaya sudah berlalu, zaman Kartini juga sudah lama lewat, tapi kenapa mami masih dipingit? Ya, iya kalau selesai dipingit nanti, segera dikawinin dengan duda kaya raya bak Datuk Maringgih,” ujarku, disambut gelak tawa mami di ujung telepon.

Hatiku lega, setidaknya mami bisa tertawa hari ini. Itu menandakan dia baik-baik saja. Tapi aku tak tenang, tetap aku mengingatkan mami untuk tetap tinggal di rumah, tidak menerima tamu siapapun, jangan bertemu siapapun. Mami hanya mengiyakan dari ujung telepon, menentramkan hatiku.

Aku tak takut mami diculik oleh kekasihnya, bila ada. Aku takut mami kenapa-kenapa kalau ada tamu yang dia terima. Saat ini dia harus dipingit karena beberapa waktu lalu menerima tamu, kerabat dekatnya juga.

Pingit-memingit jaman Siti Nurbaya dan Kartini lagi marak hari-hari ini. Kira-kira itulah analogiku dengan kisah klasik sastra Indonesia karya Marah Rusli yang baru-baru ini coba diadaptasi oleh Galeri Indonesia Kaya, salah satu galeri budaya di Indonesia yang peduli dengan pelestarian budaya. Ya, kisah Siti Nurbaya diangkat menjadi bentuk drama musical.

Bedanya, kalau kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dengan latar belakang tanah kelahirannya di Minangkabau, berujung pada kawin paksa dengan orang kaya bernama Datuk Maringgih, maka kisah mami dan banyak orang hari ini, mereka dipingit bukan untuk dinikahkan dengan saudagar kaya, tapi sepaya segera pulih dari infeksi virus Novel Corona 2019.

Nama virusnya memang keren, tapi berpapasan atau bersamanya bukanlah hal indah yang bisa dimimpikan. Kisah duka silih berganti di hari-hari ini kita dengar akibat sang virus yang lebih dikenal sebagai Covid-19.

Mami hanya satu dari jutaan orang di Indonesia dan dunia yang bersentuhan dengan virus Novel Corona. Mami tidak merasakan gejala apa-apa, tapi ketika dia harus terbang ke luar kota untuk sebuah perjalanan dinas, hasil tes antigen-nya menunjukkan hasil positif. Biasanya hasil positif di kasus lain adalah hal yang menggemberikan, namun itu virus ini, semua orang berharap hasil yang negatif.

Luar biasa, logika manusia kita diputarbalikkan oleh virus yang wujudnya pun tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Bahkan di bawah kaca mikroskop pun masih sulit untuk melihatnya, tapi kehadirannya sangat terasa.

Tak usah peduli dengan cerita konspirasi atau berbagai informasi sesat lainnya. Virus ini nyata, kecil, tak terlihat, mematikan. Titik.

Mami batal berangkat dan harus isolasi di rumah. Sendirian. Dia dipingit karena nakal menerima tamu, walau itu kerabat sendiri.

Kami, semuanya ketar-ketir, takut hal buruk terjadi pada mami. Kami belum siap hari ini kalau dia pergi selamanya. Walau hati ketar-ketir, kami tetap tak mau menunjukkan hal itu pada mami. Kami menyemangatinya. Urusan makanannya, vitamin untuk dikonsumsi, kami atur dari jauh. Mami hanya perlu santai, berjemur seperti anak bayi baru lahir tiap pagi, olah raga ringan seperti dulu di sekolah, makan dan tidur teratur.

Berbagai aplikasi hiburan kami minta mami unduh, biar dia tak bosan hanya nonton televisi dan sinetron yang itu-itu saja. Mami direkomendasikan berbagai judul drama Korea, berbagai lagu-lagu yang menenangkan.

“Berdoa saja tak cukup mi, harus dengan ikhtiar baik dan dilakukan,” ujar Kinan, adikku di salah satu kontak lewat video dengan mami.

“Moga-moga, mami setelah ini benar-benar dikawinin sama Datuk Maringgih ya,” ujarku disambut gelak mami di ujung telpon siang tadi.


Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *