Bumiku yang Sekarat

Oleh Sriwulan

Tanjung Mulyo, 13 april 2022

Untuk Bumi Tercinta

Bumiku yang sekarat, Maafkan kami yang tak bisa menjagamu. Hutan yang dulu hijau, laut yang bersih hingga kehidupan ekosistem di dalamnya terjaga dan air sungai yang jernih kini telah tercemar, juga tanah selalu digali untuk diambil hasil buminya. Pun polusi udara kian meningkat.

Gerakan transmigrasi guna mengurangi kepadatan penduduk di kota besar justru membuat hutan banyak ditebang,  berdalih membuka pemukiman baru belum lagi dampak pembakaran hutan ketika musim kemarau guna membuat lahan tanam mengakibatkan banyak hewan-hewan yang hidup di hutan terancam mati.

Hewan-hewan kehilangan tempat tinggal, mereka terancam punah. Hingga terpaksa turun ke pemungkiman untuk mencari makan.

Pegunungan yang dulu hijau kini banyak yang gundul. Bahkan sekarang paru-parumu kini telah habis terbabat ulah oknum tak bertanggung jawab yang katanya demi kemajuan zaman. Namun, mereka enggan melakukan reboisasi untuk menghijaukan kembali hutan dan gunung.

Pun lautan yang dulu jernih kini penuh dengan sampah, terumbu karang banyak yang mati akibat air laut yang tercemar, belum lagi habitat di laut terpaksa memakan sampah karena mengira itu adalah makanannya. Pun mereka ikut terancam punah.

Air sungaimu kini juga bercampur dengan limbah pabrik, keruh dan bahkan mengering. Sampah yang menumpuk dan pembangunan membuat ukuran sungai yang tadinya luas menjadi sempit.

Tanahmu kini menganga memperlihatkan lubang yang dalam. Timah, emas, perak, nikel, berlian dan minyak bumi diambil oleh orang-orang yang tamak yang tak memikirkan dampak dari perbuatannya.

Polusi udara semakin menjadi-jadi, bahkan lapisan ozon semakin menipis hingga menimbulkan cuaca panas yang ekstrim. Iklim yang berubah membuat semuanya ikut merasa dampaknya.

Dampak dari rumah kaca dan gedung-gedung pencakar langit membuat es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mulai mencair, kau telah memberi peringatan pada kami tapi tak ada yang menyadarinya.

Berton-ton sampah menumpuk dan membiarkan alam mendaur ulang sendiri. Padahal alam butuh waktu lama untuk mendaur ulang satu jenis sampah, apalagi ada banyak jenis sampah.

Sampah plastik yang entah sampai kapan selesai didaur ulang, sampah dari sisa makanan yang tak habis yang dibiarkan membusuk padahal sampah ini bisa dijadikan kompos sebagai pupuk untuk menumbuhkan hutan. Sampah pakaian yang pembuatannya membutuhkan berton-ton air tapi setelah tak terpakai dibuang begitu saja tanpa didaur ulang.

Bumiku tercinta wajar jika engkau murka, mengutus alam untuk menghukum kami. Memerintahkan gunung-gunung memuntahkan laharnya, meminta tanah longsor meluluh lantahkan rumah dan bangunan.

Hujan berkepanjangan membuat banjir karena sungai tak mampu mengalirkannya. Bahkan air laut ikut menggulung sampai merusak tempat tinggal kami.

Ketika wabah yang menimpa atas semua kesalahan kami padamu mulai dari munculnya penyakit Demam Berdarah, Asma, TBC dan ISPA, Flu Burung juga munculnya berbagai macam Virus tetap tak membuat kami peduli.

Kini semua bertubi-tubi menyerang, menghukum bahkan merenggut nyawa kami. Namun tetap tak ada yang mau sadar jika semua itu adalah ulah dari keserakahan kami. 

Kami justru saling menyalahkan, bahkan mengatakan segala bencana yang terjadi merupakan dampak dari usiamu yang telah menua.

Pun tak jua kami mulai berbenah memperbaiki diri, berubah dan berusaha untuk mengurangi pemakaian sampah plastik dan mendaur ulangnya agar kau kembali sehat. Bahkan kami berlomba-lomba memperbanyak kendaraan yang membuat polusi udara semakin meningkat. Berlomba membuat kerusakan padamu.

Maafkan kami yang telah membuat luka di tubuhmu menganga, membiarkanmu menderita menjerit kesakitan.

Kini dirimu telah sekarat, menunggu ajal datang menjemput.


Photo by Maud CORREA on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *