Flash Fiction Lisa Adhrianti: Kabar Gembira

Selepas menjejak tanah Ottoman beberapa waktu lalu, aku semakin yakin akan kekuasaan Allah dalam setiap jengkal ciptaannya di muka bumi. Sungguh banyak pelajaran yang dapat diambil dari proses tadabbur alam yang dilakoni manusia. Hamparan bumi dan seisinya ini semakin mengajarkan kita akan banyak kelemahan sebagai seorang manusia.

Aku seorang perempuan yang dilahirkan dari negeri yang asri dan kaya akan hasil bumi Indonesia pun merasa tidak berarti ketika berhasil menjejak di berbagai belahan bumi lainnya. Namaku Pearl dan aku sangat menyukai perjalanan sejak kecil. Bangunan gedung tinggi, teknologi canggih kota besar, mobilitas tinggi masyarakat modern hingga rutinitas tradisi adat budaya sebuah negeri selalu membuatku bahagia dan menjadi sehat seketika.

Perjalanan selalu menyisakan kabar gembira bagiku. Jika dalam keyakinanku sebagai seorang muslim, kabar gembira dinamakan dengan Bisyarah yang telah banyak disebutkan dalam kitab suci sebagai janji kepada orang-orang yang beriman tentang sebuah janji yang akan terjadi di masa depan semisal perumpamaan surga. Kita memang belum mampu melihat namun kita dapat dilatih untuk dapat merasakan datangnya waktu kabar gembira tersebut yang dijanjikan Allah dan disampaikan oleh Rasul dalam setiap dakwahnya.

Setiap diri ini harusnya mempunyai orientasi untuk meraih bisyarah agar tidak putus asa lalu memutus harapan akan kabar gembira yg dijanjikan itu. Guna meyakini suatu bisyaroh kita juga dapat melalui jalan dengan memperlajari kisah-kisah yang termaktud dalam kitab suci.

Tanah Ottoman menyisakan sejarah yang mengesankan mengenai sosok Muhammad Al Fatih. Nama  Al Fatih adalah nyata dan keberadaannya disebut dalam hadist nabi. Kutemukan pedang megah Al fatih di musium Topkapi dengan panjang gagang 1.5 meter dari gading Gajah dilengkapi tulisan enskripsi bahasa Arab yang bertuliskan  Muhammad Han bin Murad di bagian tengahnya.

Melihanya langsung membangkitkan khayalanku sewaktu Al Fatih bertarung dalam perang Khandak yang diabadikan dalam surah Al Ahzab yang kemudian berhasil menaklukkan kota Konstantinopel pada pukul 05.37, hari Selasa, 29 1453 bertepatan dengan 20 Jumadil Ula 875 Hijriah. Sebelum matahari terbit, Sultan Muhammad Al-Fatih di atas kudanya mengucapkan doa mengagungkan Allah. Diiringi guru, sahabat, dan para pasukannya, Al-Fatih mengendarai kudanya memasuki Kota Konstantinopel yang sekarang berubah nama menjadi Istanbul yang berarti Kota Islam. Kota pelabuhan laut ini menjadi pusat perdagangan utama Turki modern saat ini.

Semua yang didapatkan pagi itu tak lain adalah bisyaroh Rasulullah dan tentu saja kuasa Allah. Jika Al Fatih kini telah terbukti menjadi bagian dari janji Rasulullah yang akhirnya berimbas pada peralihan Hagia Sophia yang dahulunya adalah bangunan gereja termegah yang kemudian difungsikan menjadi museum dan akhirnya menjadi masjid termegah saat ini, maka kita pun sebagai hamba Allah layak memperoleh bisyarah itu ketika kita dapat terus istiqomah berada dalam jalur yang dikehendaki oleh Tuhan…

Hai Pearl…. apakah kamu bisa mendapatkan bisyaroh atau kabar gembira itu? bisikku.

Aku adalah makhluk lemah tidak sempurna, masih sering lalai dan kerap berbuat salah ini sangat wajar mempertanyakan bisyaroh itu.

Kabar gembira yang selalu dinanti setiap insan dalam fase perjalanan hidupnya ternyata bisa diperoleh dari sebuah perjalanan yang mampu semakin mengingatkan kita akan keberadaan Tuhan.

Kabar gembira yang akan datang menghampiri jiwa-jiwa yang penuh daya juang dalam sesak rayuan doa-doa panjang.

Kabar gembira yang hanya akan dapat dinikmati oleh insan yang berhati lapang dan tidak bosan berlatih tentang keihlasan dalam riak gelombang kehidupan.

Pearl, kau berhak mendapatkan kabar gembira itu di masa depan!


Photo by Miltiadis Fragkidis on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *