Mempersiapkan kehilangan

Aku mengira, sebulan terakhir ini adalah bagian yang terberat dari pandemi ini. Kami sekeluarga positif, lalu sembuh, namun merambat ke keluarga dan kerabat: kakakku, lalu keponakanku.

Virus Corona yang tadinya hanya terlihat nyata di layar kaca, kini semakin mendekat dan menjangkiti kita. Lalu kita sadar bahwa ia nyata. Sesuatu yang tadinya jauh, kini merasa ia makin dekat pada lingkaranku: aku membaca begitu banyak kehilangan yang dialami temanku, bahkan aku mulai kehilangan sahabat dan temanku sendiri.

Virus ini mulai merenggut sesuatu yang dekat dariku.

Atas semua kesulitan, ini bukanlah semata-mata soal angka mereka yang berpulang. Ketika jatuhnya korban bertambah, ia bukan soal statistik yang menghitung peluang kita bisa hidup dan bertahan.

Karena satu jiwa yang mati, bisa jadi ada seribu cerita di baliknya. Ya, mereka manusia seperti kita.

Maka, bertambahlah kekecewaan kita, manakala pemerintah tak terlihat kehadirannya. Lock down setengah hati, berkali kali diterapkan. Peraturan kegawatdaruratan, juga berkali kali ditegakkan dengan memilih-milih: ada yang dibui, ada juga yang bebas melenggang.

Atas nama pertumbuhan ekonomi, perbatasan negara tak juga ditutup. Padahal semua virus ini berasal dari luar tanah air kita. Atas nama menggerakkan ekonomi, kita masih diizinkan wara-wiri. Atas nama kebosanan, kita masih bisa bersilaturahmi.

Akibatnya, rumah sakit kelebihan pasien. Di saat yang sama juga kekurangan tenaga medis dan persediaan oksigen. Para pasien berjubel di IGD, dengan membawa tabung oksigen sendiri. Ada juga yang bertahan di selasar rumah sakit demi mendapatkan perawatan. Ada pula yang menjalani isolasi mandiri di rumah karena tak mendapat akses perawatan.

Tapi tak sedikit di antara mereka yang akhirnya dikalahkan virus ini dan menghadap Yang Mahakuasa.

Sejak pekan lalu, kabar ‘kepulangan’ silih berganti menghiasi dinding media sosial kita. Seseorang yang tidak kenal, temannya teman, atau saudaranya teman, atau seseorang yang sangat asing bagi kita.

Lalu ia berganti menjadi seseorang yang kita kenal, meski tak akrab sekali pun, kemudian berganti menjadi seseorang yang kita kenal dengan baik. Seseorang yang mungkin baru saja ada dalam daftar chat terakhir di ponsel kita.

Besok, bisa jadi, kehilangan yang lebih perih itu akan kita rasakan. Kehilangan seseorang yang dekat dengan kita, entah itu orang tua, Kakak-adik, pasangan, keponakan, anak.

Atau bahkan diri kita sendiri yang berpulang menghadap-Nya.

Bagi yang beragama, kita meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Ada perjalanan menuju keabadian. Ada masa-masa perhitungan. Juga balasan Tuhan.

Atas nama itu semua, sudah kita mempersiapkan kehilangan? Di saat yang sama, tentu saja mempersiapkan kepulangan kita sendiri.

Sawangan, 12 Juli 2021.


Photo by Kaupo Kalda on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *