Ramadhan, Aku Minta Maaf

Oleh: Dwina

Bulan ramadhan tiba. Ada keseruan tersendiri untuk kami, anak-anak di kampung.  Kegiatan apa saja tidak luput dari canda dan gelak tawa, terutama saat di masjid. Mulai dari ikut makan takjil, tilawah maupun salat tarawih, hingga kami tiba di rumah masing-masing.

Biasanya, setelah berbuka puasa kami janjian untuk segera ke masjid. Setibanya di masjid, kami segera mengambil air wudu dan salat tahiyatul masjid dua rakaat.  Selesai salat, tiba-tiba ustaz, guru kami mengaji, memanggil kami.

“Pstt… dek, dek …sini sini” 

Kami menoleh ke arah sumber suara. “Iya, ustaz?”

“Itu, di pojok sana masih ada takjil” Ucapnya sambil menunjuk meja di pojokan emperan masjid. “itu boleh kok, kalian makan”

Sesaat, aku dan teman-temanku bertatapan, berusaha menyatukan pendapat apakah kami akan memakannya atau tidak. Salah satu dari kami mengangguk, diikuti dengan yang lainnya. Dengan cepat, kami berlari, berlomba-lomba menuju meja takjil sambil sedikit bersorak.

“Waaaaah, terima kasih ustaz!”

Sampai di meja tempat takjil, kami segera mengambil takjil dan duduk dengan khidmat di lantai tepat di sebelah meja. Ada yang makan kolak, kue lapis, kue pai, dan  juga salad buah. Kami menikmatinya sembari diselingi senyuman.

Tak lama kemudian, azan isya dikumandangkan. Kami mengambil air wudu kembali usai menyantap takjil sekaligus ingin berkumur. Selama di tempat wudu, ada saja candaan sambil menyipratkan air. Alhasil, baju kami penuh dengan cipratan air alias basah kuyup!

Di pintu masuk masjid jamaah tarawih mulai berdatangan. Saf laki-laki maupun perempuan sudah terisi separuh. Kami anak-anak ditempatkan di saf perempuan yang paling belakang.

Salat isya pun dimulai. Imam membaca surat-surat  Al-qur’an dengan tartil. Saat dia selesai membaca surah Al-fatihah pasti makmum bersuara menjawab dengan bacaan. Aaaamiii….nnn. kali ini nada amin dengan khusuk dan datar.

Setelah salat isya, kegiatan dilanjut dengan wirid dan siapa yang mau melaksanakan salat rawatib masih diberi waktu. 

Tiba waktunya salat tarawih. Kebiasaan di kampung kami, salat dilaksanakan 23 rakaat bersama salat witirnya, sehingga bacaan dan gerakan salat imam itu benar-benar cepat. Kami anak-anak biasanya tidak kuat mengikuti.

Dua rakaat pertama berjalan dengan sempurna. Salat yang kedua sudah mulai ada yang berhenti. Mungkin saat itu pengetahuan bagaimana salat yang sah itu belum kami pahami, maka salat kami iringi dengan muka konyol dan tawa.

Saat imam selesai membaca surah Al-fatihah, biasanya suara amin yang dibalas oleh anak-anak nadanya tinggi sekali sampai-sampai terdengar seperti “aaamooooooiiin”, saling bersahutan dengan sengaja. Maklum, kami belum benar-benar mengerti bagaimana cara beribadah dengan baik.

Bukan hanya bilang amin saja yang dibuat-buat, kenakalan kami ketika salat terkadang juga seperti mengemut permen. Saat kami lelah mengikuti salat tarawih yang terbilang cepat ini, kami tidur begitu saja atau usil dengan membuat tertawa teman sebelah saf. Tak jarang, kami saling senggol menyenggol bahkan terjatuh. 

Kalau kuingat kembali, masa kecilku yang lucu itu sedikit membuatku malu karena ilmu agama yang aku dan teman-temanku terima saat itu masih dangkal. Kami belum paham apa syarat sahnya salat, apa yang menyebabkan batalnya salat, dan apa yang membuat kami tertawa ya kami lakukan. Simple but so annoying. 

Anehnya, saat itu orang dewasa mengingatkan, tapi sayangnya itu hanya lewat begitu saja. Besoknya bisa saja akan diulangi lagi. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Mungkin itu ungkapan yang sesuai untuk kami saat itu.

Beranjak dewasa, aku mulai dapat memahami seandainya ada anak kecil yang dunianya selalu dipenuhi dengan pikiran untuk bermain, diingatkan berkali-kali pun akan sulit dan butuh waktu bagi mereka untuk memahami dan menyadarinya.

Untungnya, banyak orang berubah seiring waktu. Pengalaman dan ilmu yang didapat dari membaca atau dari guru membuat orang lebih khusyuk dan lebih baik. Hai, orang tua, apa yang kau rasa jika anak-anakmu seperti yang di atas?


Photo by Vladimir Mokry on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *