Cerpen Lisa Adhrianti: Imaji Hati

Ya Rabb….

Sungguh aku tidak tahu apa rencanamu terhadap masa depanku. 

Ya Rabb….

Jika Engkau ciptakan Adam berpasangan dengan Hawa maka tentu kau pun tahu bagaimana rasanya hidup tanpa berdampingan....

Engkau tentu tahu bagaimana pertarungan kekuatan hati yang melawan dingin kesendirian

Engkau sangat tahu hati-hati yang meronta dalam diam tanpa dekapan, mulut yang terkunci tanpa banyak bercerita keseharian, raga yang redup tanpa kehangatan sandaran, tangan yang lunglai tanpa genggaman, dan langkah yang pincang tanpa bimbingan sang Imam.

Engkau tahu itu, ya Rabb…

Aku mungkin masih tergolong hambaMu yang kurang bersyukur dan belum lulus memperbaiki diri, ya Rabb…. Namun insting manusiawi berpasangan yang Kau berikan itu nyatanya memang mampu membuatku kian berhalusinasi, berimajinasi dan terus mencoba merangkai mimpi akan hari-hari yang akan Kau genapi kembali.

Hari-hari yang masih menjadi imaji namun selalu kunanti agar aku mampu menjadi hamba yang kian pasti dalam menjalankan kehidupan dengan ketenangan bertahtakan keimanan dan ketaqwaan pada bangunan rumah tangga idaman.

Rabb… pastikanlah aku dengan peribadatan yang engkau ridai.

Pastikanlah aku dengan orang yang telah mengusik imajiku….

Pastikanlah aku bisa memperbaiki diri bersamanya, ya Rabb….

Tolong jangan Kau biarkan imaji ini hancur tanpa terganti dengan yang lebih baik, dengan yang lebih mencintai dan dicintai, dengan yang sama-sama mengagumi, dengan yang selalu ringan saling menasihati dan menaati, dengan yang sejati dan abadi....

Rabbi la tazarni fardhaw… wa anta khairul waritsiin….

Rabb... tolong jangan biarkan aku berlama lama menikmati kesendirian ini.

Panjang sekali renungan Adinda malam itu. Renungan yang melangitkan kekagumannya pada seseorang sosok yang begitu dia kagumi, namun tidak bisa dia miliki seutuhnya.

“Heh! Berenti ngelamun aja Kak!” sungut Tere yang datang tiba-tiba mengejutkannya.

“Apa sih, Dek?” Adinda menimpali dengan lemas.

“Kalau jodoh nggak bakal kemanaaa, Kaaak,” sungut Tere lagi.

“Aaakh… entahlah. Kok aku bisa jadi begini sih, ya? Apa-apa mikirin dia. Kayak manusia bodoh aja!”

“Nah, itu sadar kalau sudah bodoh, hahahaha.” Tere tertawa.

“Kak, besok lusa kamu harus sering-sering berdoa khusyuk biar kalo nggak dikabuli ya mending dicabut aja rasanya.” Tere coba kembali menasihati kakaknya.

“Iya, aku doa minta cabut aja deh. Karena susah banget sepertinya, so complicated!

Adinda memang telah jatuh cinta. Semua membuatnya serasa limbung dan sulit berkonsentrasi. Terlebih sosok yang dikaguminya itu masih suka meresponnya.

Ahmad bagi Adinda tidak jemu untuk didekati. Dia selalu banyak bercerita dan antusias ketika bersama Ahmad. Adinda tidak pernah menemukan energi sebegitu besarnya sebelum dekat dengan Ahmad yang merupakan teman sepermainannya sejak kecil yang telah lama tidak bersua dan kemudian sebuah acara reuni mempertemukan mereka kembali, lalu dilanjutkan dengan sebuah pekerjaan sosial yang harus mereka garap bersama.

Namun, Ahmad tidak pernah menyatakan rasa yang tegas terhadapnya, dan dia pun malu mengakuinya langsung. Kini hanya imaji hati saja yang terus bermain-main di pikirannya. Berharap sosok Ahmad mampu menggenapkannya suatu hari nanti.

-Selesai-


Photo by Isaac Quesada on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *