Kampung Halaman Kedua

Oleh Lembayung Senja ( Sri Rita Astuti)

Aku hidup dan besar di tanah Kalimantan, walaupun aku tidak dilahirkan di tanah ini tapi bagiku tanah kalimantan serasa kampung halamanku sendiri. Ya, aku bukan penduduk asli sini, kedua orang tuaku berasal dari daerah Jawa Barat. Bapak  kelahiran kota hujan Bogor dan ibu dari kota karawang. Aku sendiri lahir di Jakarta dan sempat bersekolah hingga kelas 3 SD di ibu Kota negara kita tercinta itu. Kedua orang tuaku merantau ke Jakarta setelah mereka menikah. 

Di saat usiaku menginjak 10 tahun bapak terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Karena kehidupan di saat itu sulit bapak dan ibu memutuskan merantau ke pulau Kalimantan dengan harapan bisa meraih kehidupan yang lebih baik lagi. Akhirnya jadilah kami sekeluarga bapak ,ibu, aku dan ke lima adikku boyong pindahan ke kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat.

Walaupun pada saat itu ada rasa sedih karena harus meninggalkan teman – temanku di Jakarta tapi di sisi lain jiwa kanak kanakku senang sekali karena untuk pertama kalinya aku akan merasakan naik pesawat terbang. Itu adalah pengalaman paling menakjubkan. Sebelumnya pesawat hanya bisa kulihat saat melintas di atas langit yang tinggi. Di Tahun 80 an pesawat adalah alat transportasi mewah. Rasanya wajar saja kalau aku teramat sangat gembira dan tak sabar menunggu saat keberangkatan kami ke pulau Kalimantan.

Ah, aku ingat ada beberapa kerabat dan saudara yang berkata bahwa kami harus berhati hati setibanya di Kalimantan. Karena katanya penduduk asli Kalimantan itu suka makan manusia dan menurut kabar mereka juga memiliki ekor. Ada sedikit rasa takut hadir. Tapi euforia naik pesawat terbang mengalahkan rasa takut itu.  Apa lagi di Kalimantan sudah ada uwa, kakak  dari ibu yang telah lebih dahulu merantau. Salah seorang di antaranya bekerja sebagai seorang polisi. Dalam pikiranku uwaku itu pasti akan melindungiku nanti. Dia pasti punya pistol yang bisa ditembakkan ke orang yang akan menggangguku. Isshh polos banget aku saat itu ya .

Pada hari keberangkatan jam 4 shubuh kami sudah berangkat ke bandara. Dengan menggunakan Angkot, diantar oleh kakak bapak dan suaminya. Banyak sekali barang yang dibawa, karena kami pindahan bukan sekedar berlibur. Ada pengalaman yang tak terlupakan pada saat cek in dan pemeriksaan barang ada barang bawaan kami yang ditahan petugas. Rupanya itu kotak berisi kompor.  Dan kompor itu adalah kompor minyak tanah yang masih lengkap dengan minyak tanah dan sumbunya. My god, kalau jaman sekarang ga kebayang deh bawa kompor ke pesawat. Kami diminta untuk tidak membawa kompor itu ke dalam pesawat. 

Tapi ibuku bukan ibu – ibu yang pantang menyerah, karena bagi beliau kompor adalah alat yang penting banget sebagai sarana menunjukan dedikasinya sebagai seorang ibu di keluarga. Akhirnya setelah negosiasi diputuskan ibu bisa tetap membawa kompornya tapi harus dalam ke adaan kosong dan sumbunya dibuang. Alhasil Bapak dibantu uwa membawa kompor ke luar ruangan membuang minyak tanah dan mencabuti sumbu kompor. Setelah itu barulah kami diperbolehkan memasuki ruang tunggu. Kenangan ini selalu mengukir senyum bila mengingatnya. 

Dari dalam ruang tunggu untuk pertama kalinya kulihat pesawat dari jarak dekat, ternyata sangat besar dan lebih besar dari bis dan metromini yang pernah kunaiki. Pesawat yang kami naiki namanya Bouraq, sekarang maskapai tersebut sudah tak lagi beroperasi. Hatiku rasanya ingin berteriak gembira ketika saatnya tiba kami harus menaiki pesawat. Rasanya kaki ini ingin menari dan melompat lompat saking senangnya.

Dengan menggandeng dua orang adikku di kiri dan kanan  kami berjalan memasuki bis yang akan mengantar kami ke pesawat yang berada di tengah landasan. Sementara ibu menggendong si Bungsu dan membawa tas di tangan satunya.

Begitu juga dengan bapak di sibukkan dengan menggendong adikku yang ke tiga dan ke empat. Di Dalam pesawat aku memilih duduk di tepi jendela. Aku ingin melihat pemandangan dari pesawat. Pada saat itu semuanya terasa amazing. Aku tak ingin melewatkan apapun dalam perjalanan ini. 

Sesampainya di Bandara Supadio Pontianak mulai dari memasuki ruang tunggu mataku sudah menjelajah ke segala arah. Ya, aku mencari orang Kalimantan yang mempunyai ekor ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€. Tapi hingga kami ke luar dari Bandara dan sampai di rumah uwaku, tak ada satupun kutemui manusia yang memiliki ekor. Tapi karena keriuhan keluarga yang datang menyambut kedatangan kami aku lupa menanyakannya pada uwaku. Bahkan hingga usiaku dewasa sekarang tak pernah kutemui manusia berekor itu.

Akhirnya sejak saat itu aku hidup dan besar di Pontianak. Banyak kisah terukir baik sedih maupun bahagia di tanah ini. Tanah ini memang bukan tanah kelahiranku, tapi aku mencintainya selayaknya kampung halamanku sendiri. Di sini aku menemukan cinta dan di sini lahir ketiga Qurrota A’yunku. Bahkan mungkin juga nanti di tanah ini tempatku kembali pada sang penciptaku.

Sungai Raya, 06072021


Photo by Sigmund on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *