Cerpen Lisa Adhrianti: A Letter fur Booker

Laluna merebahkan diri di atas empuk ranjangnya yang sudah seharian ini ditinggalkan. Tubuhnya letih setelah seharian bekerja memeras otak di sebuah Laboratorium Kimia sebuah perusahaan multinasional kota Kembang. Hari-harinya sekarang telah berbeda dengan hari-harinya beberapa bulan lalu yang masih dihinggapi dengan keseruan bersama sosok yang disebutnya “miracle”. Keajaiban yang dihadirkan oleh laki-laki paruh baya yang senang dilihatnya setelah dahulu sangat anti dia memandangnya, kemudian mereka lama tidak bertemu. 

“Panggil saja aku Booker….”

Tulisan ini menghentak Laluna dengan kernyitan dahi bagai menyimpan keanehan terhadap sosok yang baru kembali berinteraksi itu.

“Wait! apa itu artinya?” balas Laluna..

“Panjang ceritanya… nanti saja,” balas laki-laki itu.

“Hahahaha aneh panggilannya!”

“Memangnya kamu memesan apa? Atau bagaimana, sih?” lanjut ocehan Laluna kepada Lodi.

“Udeeeh… ntar gue cerita!” Lodi menutup percakapan.

Laluna senyum simpul mengingat peristiwa hampir satu tahun lalu itu. Awal yang manis ketika dia merasa mendapatkan gairah kembali lagi bagi kehidupannya. Namun kini semua realita berbalik. Lodi tidak lagi ada di hari-harinya. Lodi seperti begitu cepat melupakan memori bersama Laluna dan membuatnya hening lagi. 

Dalam keheningan dan kerinduan akan sosok vitamin hari-harinya itu…. Laluna mengukir kata-kata yang memanggil kembali memori masa lalunya.

Booker…

Ketika rasa bukan hanya sekedar dilandasi nafsu semata maka apapun kondisi yang terjadi sekuat tenaga pula harus dihadapi. Jika dia bisa memilih untuk melindungi dan memagari, aku hanya bisa memilih untuk memahami.

Aku tidak pernah menganggap kita selesai karena memang tidak ada yang perlu kita selesaikan dari sebuah hubungan yg dilandasi niat baik dan kenyamanan. 

Kurasa kau tau rasaku bukan hanya nafsu karena langitpun tahu aku tak menipu. Semesta pun merasa bahwa sakitmu juga menjadi sakitku, pikirmu pun bisa menjadi pikirku, sukamu menjadi catatanku, amarahmu menjadi pengingatku, pedulimu selalu kurindu.

Meski ada cara yang keliru namun aku ingat betul kita hanya pernah berjanji untuk saling menyemangati bukan untuk saling menyakiti apalagi untuk saling menyelesaikan. 

Yang aku ingat hanya pesanmu, “kalau kita ada gesekan ga boleh saling gengsi untuk nyapa duluan ya!”

Yang aku ingat hanya kata-katamu bahwa aku tidak punya sahabat dekat perempuan.

Yang aku ingat hanya janjimu untuk selalu menemaniku sampai aku bisa menemukan muara rasa yang sesungguhnya.

Booker….

Tidak ada yang lebih menyiksa dari kemandirian sunyi tanpa kata-kata terbuka dan cerita bersama setelah kita saling mengetahui satu sama lain sebagaimana biasa.  Bedanya mungkin hanya di gejolak rasaku yang lebih terlihat, sementara kamu pandai menyembunyikannya.

Tapi aku sudah terlatih untuk bisa tahu diri dan tidak mau memumpuk benci. Rasaku biar kuobati sendiri. 

Booker…

“Sungguh aku tidak akan memaksamu. Hanya, aku minta tolong mengerti bahwa rasaku juga butuh waktu untuk menyesuaikan dengan permintaanmu. Seumur hidup akan tetap kujaga orang-orang yang telah aku pilih.  Semoga akan tetap kutemukan dirimu sampai pintu nirwana dibuka untuk kita”. Tutup goresan surat Laluna untuk Booker yang kemudian menghantarnya kepada lelap malam yang hening…. sehening hatinya yang masih merindu.

– Selesai –


Photo by Ryan Holloway on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *