Jangan Menjadi Kaum Yang Merugi

+1

Oleh: Pipit Fitria

Sedih, sedih yang teramat sedih. Sesuatu yang dirindukan akan pergi meninggalkan kita hingga 11 bulan ke depan. Saya takut yang dikhawatirkan adalah iman yang semakin menyusut dengan bekal yang sudah menciut. Saya takut jika Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir untuk melakukan perubahan-perubahan yang berarti sebab hany adengan Ramadan kami banyak mengumpulkan amal yang terserak dengan sedikit keinginan dan harapan yang sudah mengerak.

Ya Allah, betapa banyak dosa yang dilakukan. Hanya dengan hidup di bulan Ramadan, amal setiap manusia semakin bertambah, ibadah dikebut, dan tilawah semakin sering didengungkan. Aku berharap Ramadan ini adalah Ramadan yang berkesan untuk terus menyambut Ramadan di masa yang akan datang.

Rindu, rindu yang teramat rindu kepada kekasih yang ditunggu. Ia adalah himpunan dari limpahan hadiah yang Allah turunkan, penyejuk, dan penetram setiap insan yang membutuhkan. Saya berharap Ramadan kali membawa perubahan baik iman, lisan, dan perbuatan. Saya berharap Ramadan kali ini tidak hanya sekadar lewat lalu kemudian “say by” di saat waktu yang terlewat sementara amal hanya hitungan jari. Waktu dibiarkan berlalu sedangkan ibadah masih cenderung bermalas-malasan.

Adapun jika mengutip dari Isa bin Ali al-Unzi dalam makalahnya berjudul “Nikmah Idrak Ramadhan” menuliskan, “berapa banyak ahli kubur yang ingin kembali ke dunia untuk mendapati hari-hari yang diberkahi ini lalu mereka memakmurkannya dengan Tha’atullah (taat kepada Allah). Supaya derajat mereka ditinggikan, kesalahan-kesalahan mereka dihapuskan, dan mereka dibebaskan dari neraka.”

Lihatlah betapa keagungan yang begitu besar ketika kita hadir di bulan Ramadan. Bukanlah karena sudah menjadi budaya bahwa Ramadan adalah bulan mulia lantas kemudian kita memuliakan diri tanpa adanya pengetahuan yang menyertainya. Bulan Ramadan adalah karunia Allah atas setiap muslim bahwa Allah berkenan dengan karunia dan rahmatnya melalui banyak hikmah di bulan Ramadan itu sebagai sarana untuk berlomba-lomba meningkatkan amaliyah ibadah dan untuk memperbaiki dirinya. Saking mulianya, hingga para penghuni kubur pun menginginkan hidup kembali ke dunia untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan yang akan dijadikan sebagai pengurang siksanya di neraka.

Sungguh teramat sangat disayangkan jika ada seorang muslim yang hidup di bulan Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan di dalamnya. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan salawat kepadaku. Dan celakalah seseorang, bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan. Dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam surga (karena kebaktiannya).” (HR. at-Tirmidzi)

Begitu sangat dalam pesan di atas hingga Rasulullah berucap “aamiin” ketika para malaikat mengucapkannya. Dan betapa disayangkan sekali jika hal itu terjadi pada diri seorang muslim yang hidup di bulan Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan-Nya hingga akhir Ramadan dan berlalu meninggalkannya. Lalu apa yang akan kita persembahkan kehadirat-Nya jika Ramadan hanya lewat di tenggorokan saja?

Tidaklah hal itu sampai terjadi dengan diri kita. Mari sambutlah detik-detik Ramadan akhir ini dengan memperbaiki diri dan perbanyak ibadah. Kencangkan ikat pinggang untuk menyelesaikan tilawah, menunaikan zakat, infak dan perbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan manusia hingga menjadikan kita kembali fitrah di akhir Ramadan bukan kembali menebar fitnah setelahnya. Nauzubillah.


Photo by Gift Habeshaw on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *