Ramadhan Terakhir

+5

Oleh : Cicih M Rubii

Pertengahan Ramadhan tahun ini merupakan salahsatu hari yang menggetarkan bagiku. Bagaimana tidak, seorang teman, saudara, guru yang aku kenal baik meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Di bulan yang mulia ini, tanpa kami duga sama sekali beliau dipanggil illahi. 

Sebelas tahun lalu, juga di pertengahan Ramadhan kariim, ayahanda tercinta meninggalkan semua kefanaan dunia untuk selama-lamanya. 

Peristiwa tiga tahun silam, juga pada pertengahan Ramadhan, kakak lelakiku meninggalkan kami dan keluarga kecilnya dengan tiba-tiba.

Jodoh, rezeki dan azal merupakan rahasia Tuhan. Saat jatah usia telah habis, waktu sudah sampai bagi insan untuk berhenti bertebaran di muka bumi melaksanakan semua aktivitas keduniawian, baik yang bersifat duniawi maupun yang bersifat ukhrawi. 

Meskipun sejatinya dalam Al-Qur’an surat Az-Zaariyat ayat 51 Allah sudah menjelaskan bahwa “Tidak Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Bahwasanya aktivitas manusia di dunia tak jauh-jauh dari tujuan beribadah baik dalam arti luas maupun sempit. 

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan penuh keberkahan, juga bulan maghfiroh. Ada banyak keutamaan yang Allah janjikan di bulan ini. Diantaranya adalah dilipatgandakanNya pahala untuk semua amalan yang dilakukan di bulan penuh rahmat ini. Allah ta’ala juga menjadikan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa. 

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim) 

Telah aku lewati lebih dari 40 Ramadhan selama hidup di dunia, dan karunia yang luar biasa bahwa saat ini Allah masih memberi kesempatan bagiku untuk menikmati indahnya Ramadhan dengan keberkahannya. Meskipun tak dipungkiri, dari sekian puluh Ramadhan yang sudah terlewati entah Ramadhan mana yang berhasil aku isi dengan maksimal, ataukah hanya sebuah euforia yang kosong? 

Alhamdulillah, puji syukur ke hadiratNya, hari ini aku masih dipertemukan dengan kemuliaan Ramadhan. Tak ada yang mengetahui, apakah aku akan bertemu dengan bulan mulia ini di tahun yang akan datang? Ataukah justru ini Ramadhan terakhir bagika?

Jika memang ini Ramadhan terakhir, tentu saja aku harus memanfaatkan setiap detik di Ramadhan mulia ini dengan perbuatan-perbuatan baik dan bermanfaat, juga memohon ampunan dari Allah dengan penuh harap dan takut. Karena sesungguhnya keridhoan dan ampunan Allah adalah bekal untuk menghadapi kehidupan yang abadi kelak di yaumil akhir.

Sebagai manusia, aku sangat menyadari banyak sekali dosa yang sengaja aku lakukan, dan  banyak yang tak sadar aku kerjakan. Ibaratnya lumpur, dosaku sudah sedemikian tebal memenuhi sebagian besar permukaan hidupku. 

Lantas bagaimana aku bisa menghadap-Nya, sementara diri ini  dalam keadaan kotor? 

Bagaimana aku harus seorang diri menahan sakit saat sakaratul maut? 

Bagaimana aku harus sendirian di dalam kubur tanpa cahaya iman dan amal sholeh?

Dan bagaimana aku harus berjalan dengan sukacita di padang mahsyar saat hari kiamat kelak?

Dan bagaimana aku harus…

Sungguh, kesempatan Ramadhan terakhir merupakan karunia dari Allah. Tak ada yang lebih patut dikerjakan selain memaksimalkan kesempatan untuk mencari keridhaan Allah dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan.

Ya Allah, diri kotor penuh lumpur ini sangat mengharapkan ampunan. Pertemukanlah aku dengan Ramadhan di tahun yang akan datang dengan kondisi yang lebih baik. Amiin. 



Photo by Simon Infanger on Unsplash

+5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *