Ramadhan… Aku Tak Siap Bila Ini Terakhir

+4

Oleh : Wiekerna Malibra

Malam 25 Ramadhan 1442 H. Iedul Fitri tak sampai seminggu lagi. Bahkan anak-anakku sedari sore tadi sudah berseru gembira. 

“Ma, hari Kamis depan udah Lebaran ya? Kakak gak puasa lagi dong?” tanya anak sulungku. 

“Minggu depan Lebaran? Asyik, bisa makan kue semuanya dong yang Mama beli.” seru anak keduaku.

Aku hanya bisa mengangguk dan ikut tersenyum menimpali keceriaan mereka.  Jauh di dalam hatiku ada yang mencelos lepas. Seperti tak puas. Seperti ada rasa sedih karena ada yang tak kesampaian. Kualitas ibadahku yang tak sampai sempurna. Hatiku seperti tak ingin Ramadhan ini berakhir.

“Ramadhan hanya sebulan. Setahun sekali. Tapi kita hidup setiap hari. Dan setiap hari kita bernafas dan bertemu orang lain di luar keluarga inti kita. Berbicara dengan orang lain. Bersikap menghadapi sikap orang lain yang tak melulu menyenangkan kadang acapkali menyakitkan hati kita. Sabarnya di bulan Ramadhan jangan ditinggal. Bawa terus setiap hari. Selama hidup sampai mati.” Itu kata-kata motivasi dari hatiku sendiri untuk menguatkan diriku dalam menghadapi dilema hubungan dengan orang lain dan tersandung masalah pelik. 

Perasaan sakit hati, luka, kecewa karena dibohongi dan dikhianati orang yang kita percaya. Perasaan kaget, syok, marah tapi tak bisa diluapkan karena ingat diri sedang puasa dan ini bulan puasa. Maka diam adalah sikap yang kupilih untuk menghadapi berantai kata-kata anarkis dan julid dari seorang yang begitu provokatif, sehingga sukses meraih provokasi pada orang lain untuk menyerangku dan posisiku. 

“Bisa-bisanya di Bulan Ramadhan?!” Aku sungguh tak mengira. Tapi aku yakin segala sesuatu akan ada hikmahnya. Segala sesuatu pun dalam ketentuan dan rencana Allah. Maka aku memilih diam dan mengalah manakala diserang oleh orang-orang tak bertanggung jawab pada tugasnya namun licik demi keuntungannya pribadi.

T U H A N K U…..?!

: Maka, aku pun memilih istirah

sebelum siksaMu menimpa jiwa ragaku

Tik… tak… tik… tak… 

Kubujuk usiaku; 

“Tidakkah kau sabar menunggu walau sedetik, sebelum kuusaikan do’a singkatku?”

Tik… tak… tik… tak… 

Hari-hari pun terhimpun detik demi detik 

hanya sekelumit yang bisa kunikmati 

waktu pun tersia-sia menjadi masa lampau 

Tik… tak… tik… tak.. 

Waktu mengingatkan bahwa usia tak bisa dibujuk 

merangkaki lingkaran waktu 

membelah tiga dimensi; dulu, kini, dan esok

: menuju Hari ter-Akhir.

Tik… tak… tik… tak.. 

* Jati Warna, 241117. Bada Dzuhur.

Itu kata hatiku kini. Serupa bait-bait penggalan puisi yang pernah kutulis dan kuberi judul “Sajak Jiwa”. Sejatinya itu adalah puisi lamaku. Menjelang saat-saat kelahiran putra ketigaku. Dimana aku begitu takut, was-was dan gamang tapi demi nyawa kecil dalam kandunganku aku berusaha menguatkan diriku sendiri agar mampu dan sanggup menghadapi persalinan ketigaku dengan proses normal. Hingga akhirnya nikmat dan karunia Allah kurasakan kembali. Ya, akhirnya aku pun dapat melahirkan normal dan selamat untuk ketiga kalinya. 

Dan persalinan atau melahirkan bayi adalah saat-saat refleksi diri dan jiwa yang utuh bagiku dan mungkin juga dirasakan oleh semua perempuan di muka bumi ini yang pernah melahirkan. Yang teringat hanyalah dosa, salah, khilaf. Maka seruntun doa, dzikir, shalawat terus bergulir dari bibir yang gemetar menahan sakitnya proses persalinan itu. Sungguh, aku rasa, semua perempuan merasakan ketakutan akan kematian di kala itu. Tanpa terkecuali yang melahirkan dengan proses Caesar pun.

Tapi kenapa, setelah proses itu selesai dan hari-hari kembali normal seperti semula, banyak sekali perempuan yang “lupa” akan “proses beradu dengan mautnya”? seolah lenyap sudah ketakutannya akan kematian. Maka begitu beraninya menghadapi hidupnya lagi dengan celoteh nyinyir tak guna. Fitnah, adu domba, bohong, menjilat, seolah-olah itu adalah sama nikmatnya dengan makan baso, cilok, martel, dan apapun makanan favorit mereka. Dosa ghibah menjadi tak ada artinya bagi mereka. “Opo ora eling?”

“Ramadhan…oh…Ramadhan…aku tak siap bila ini Ramadhan terakhirku…”


Wiekerna Malibra, Ibu 3 anak. Suka menulis Puisi dan pernah dimuat di LINIFIKSI dan Jejak Publisher. Puisi Antologinya :“Cinta Di Bumi Raflesia”, “Kutulis Namamu Di Batu”, “The First Drop Of Rain”, “Perempuan Memandang Dunia”, “Roncean Syair Perempuan”, “Antologi Puisi Rindu” dan “Gempa Pidie 6,4 SR. 05.03 WIB”. “Kumpulan Puisi Kopi 1,550 mdpl”, “Tifa Nusantara 3: Ije Jela”, “Cimanuk, Ketika Burung-Burung Kini Telah Pergi”, “Puisi Peduli Hutan” dan “Arus Puisi Sungai”. “Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut”, “Puisi Kartini 69 Perempuan Penyair Indonesia”, dan 4 kumpulan puisinya dimuat www.kompas.com. Antologi Cerpennya “Wak Ali dan Manusia Lumpur”. Cerpen lainnya di Majalah Sekar dan Story juga dalam KumCer Anak. 


Photo by Aron Visuals on Unsplash

+4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *