Menjadi Secantik Kupu-Kupu

+4

Oleh: Etika Aisya Avicenna

Setiap Ramadhan sampai di ujung perjalanan, ada rasa takut dan harap yang bercampur aduk. Takut karena belum tentu semua ibadah yang telah dijalankan saat di bulan suci ini diterima Allah, serta rasa harap semoga bisa berjumpa lagi di Ramadhan tahun berikutnya. 

Kalau ditanya, saya pribadi ingin sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Ramadhan bulan yang istimewa, berlimpah pahala, bertabur rahmat, serta salah satu momentum terbaik untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Apalagi di bulan Ramadhan ada malam Lailatul Qadr yang keutamaannya lebih dari seribu bulan. Tentu setiap kita ingin selalu berada di bulan Ramadhan.

Tapi, Ramadhan hanya ada sebulan dalam setahun. Kita tak bisa menghalangi waktu yang terus berputar. Seharusnya kehadiran bulan mulia benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sungguh merugi jika Ramadhan berlalu begitu saja padahal belum tentu akan bertemu di Ramadhan tahun berikutnya.

Kita bisa menganalogikan perjalanan selama Ramadhan dengan proses metamorfosis kupu-kupu. Sebelum Ramadhan ibaratnya kita adalah ulat yang “menjijikkan” karena penuh dosa. Pada saat bulan suci, kita adalah kepompong yang tengah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan perintah Allah dengan berpuasa dan aneka ibadah lainnya. Lalu setelah Ramadhan kita akan berubah menjadi kupu-kupu bersayap cantik, terlahir dengan pribadi baru dengan gelar taqwa yang semoga memang layak dianugerahkan Allah untuk kita.

Menjadi pribadi yang lebih baik secantik kupu-kupu, adalah impian kita pasca Ramadhan. Salah satu ciri keberhasilan Ramadhan adalah ketika ada keistiqomahan serta peningkatan dalam hubungan dengan Allah (hablumminallah) maupun hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Ibadah yang rutin dikerjakan saat Ramadhan, seharusnya juga konsisten dilakukan setelah Ramadhan. Misalnya, saat Ramadhan berhasil membaca Alquran minimal 1 juz, maka di luar Ramadhan juga tetap semangat untuk membaca Alquran minimal 1 juz. Begitu juga dengan ibadah lainnya.

Cara terbaik untuk tetap istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya di bulan Ramadhan maupun bulan-bulan setelahnya adalah zikrul maut atau mengingat mati. Kematian adalah takdir-Nya yang pasti terjadi, hanya saja waktu dan bagaimana terjadinya masih menjadi rahasia Allah. Dengan zikrul maut, kita akan lebih sungguh-sungguh untuk mengakhiri Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Kita akan berusaha membuat Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik dan terindah. 

Pada Ramadhan tahun ini, ada saudara dari ibu, sahabat saya, suaminya teman saya, anaknya sahabat yang meninggal dunia. Ada yang karena sakit, kematian mendadak, kecelakaan, dan lainnya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun… Semoga Allah hadiahkan husnul khotimah untuk mereka yang telah mendahului kita. Tentu kita tidak akan menyangka bahwa Ramadhan ini menjadi bulan suci terakhir yang mereka lalui. Seharusnya kematian mereka menjadi pengingat terbaik untuk kita yang masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat atas segala salah dan dosa, sehingga bisa terus berusaha untuk makin mendekati-Nya. 

Mari melangitkan doa pada setiap detik yang begitu istimewa di bulan mulia. Semoga Allah berikan umur yang panjang lagi barokah untuk kita semua sehingga bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin…

Alangkah merugi

Jika Ramadhan tak jadi pembaik diri

Padahal bisa saja

Tahun depan tak lagi jumpa

Duhai Allah yang Maha Pemurah

Meski Ramadhan akan berakhir jua

Jadikan kami istiqomah

Meramadankan hari-hari setelahnya


Terlahir kembar pada 2 Februari. Saat ini berprofesi sebagai statistisi (ASN). Senang membaca, menulis, jualan online, dan jalan-jalan. Ada puluhan karya Anggota Forum Lingkar Pena DKI Jakarta ini yang sudah diterbitkan baik secara solo, duet bersama saudari kembarnya, maupun antologi, di antaranya: “OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses”, “The Secret of Shalihah”, “Diary Ramadhan : Mengetuk Pintu Ar-Rayyan”, “Pendamping di Dunia, Kekasih di Surga”, “Cerita dari Rumah”, dan lainnya. Meski seorang ASN, pemilik akun instagram @aisyaavicenna ini tetap semangat merangkai karya, agar kelak saat tiada tak hanya sekadar meninggalkan nama.


Photo by Ed van duijn on Unsplash

+4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *