Kang Kebab, Aku Iri

+2

Oleh: Iecha

“Kang Kebab ke mana?” tanyaku pada tukang martabak yang asyik membuatkan martabak keju pesananku.

Sudah beberapa kali aku wara-wiri di foodcourt depan gang sejak awal Ramadan, tapi tidak sekali pun aku lihat tukang kebab membuka lapaknya. Gerobak warna merah itu tertambat di bawah pohon, tertutup terpal. Padahal, aku yakin, banyak orang yang mencari kebab untuk penganan berbuka mereka. Ada satu gerobak lagi yang juga hanya parkir sejak awal: ketoprak.

Sengaja yang aku tanyakan adalah tukang kebab. Gerobak martabak dan kebab sebelahan, sedangkan ketoprak agak jauh, di dekat tukang buah. Pasti ada pembicaraan antara mereka sebelum tukang kebab memutuskan merapatkan gerobaknya di pohon berhari-hari.

“Mudik. Udah dari sebelum Ramadan.”

“Takut keburu gak boleh mudik?”

“Katanya mau puasa di rumah.”

Pembicaraan itu kemudian berlanjut pada sosok Kang Kebab. Selama sebelas bulan ia sibuk mencari rezeki agar bisa menikmati Ramadan di kampungnya. Ia ingin berpuasa bersama keluarga, sekaligus menghabiskan hasil jerih payahnya untuk membahagiakan orang tua.

Aku diam. Pikiranku segera membandingkan diriku dengannya. Betapa nikmat bisa fokus beribadah tanpa terusik urusan dunia. Ramadan hanya datang sekali setahun dan Kang Kebab menyiapkan penyambutannya sejak sebelas bulan lalu,

Lalu? Aku? Bahkan, saat Ramadan mendekati ujungnya, aku masih saja disibukkan dengan setumpuk pekerjaan!

Aku sendiri bingung apa yang aku kejar dari semua kesibukan itu. Materi tentu tidak. Rata-rata pekerjaanku adalah MC: Makasih, Cha! Popularitas apalagi. Boro-boro aku memikirkan popularitas. Aku hanya menulis—kalau diajak—lalu tiba-tiba buku di rumah sudah menumpuk. Impian juga tidak. Sejak kapan Aspergers’ punya mimpi muluk-muluk?

Lalu? Entahlah. Aku juga bingung. Aku hanya menjalani rutinitasku tanpa peduli kalau saat ini Ramadan.

Sejak bertahun-tahun aku seperti itu. Aku sok sibuk sendiri dengan setumpuk jadwal, pekerjaan, dan rutinitas yang harus aku kerjakan, kemudian menangis diam-diam di malam takbiran karena ibadah jauh dari kata maksimal. Tapi, tahun berikutnya, hal tersebut kembali aku ulangi.

“Allah cuma minta waktu sebulan, selama Ramadan aja. Kalo kita nggak bisa kasih full sebulan, minimal sepuluh hari terakhir Ramadan kita ‘kasih’ buat Allah.”

Cuplikan ceramah yang aku dengar tidak sengaja saat Babe menyimak SalingSapa TV singgah lagi di benakku. Tidak ada rasa apa-apa waktu dulu kata-kata itu menyelinap masuk telingaku. Aku sudah terbiasa dengar ceramah, khususnya yang ditayangkan kanal tersebut. Namun, kini terasa seperti penuh penghakiman.

Sepuluh hari doang, Cha. Lu taro dah itu kerjaan, tutup laptop, ambil alquran. Lu banyakin dah ngaji sama solat sunnah. Tidur lebih cepet biar bisa Tahajud sebelum sahur. Ye minimal, lu sahur dengan kesadaran penuh, nggak separo doang kayak sekarang. Waktu sahur itu bagus buat baca doa,

“Ini, Teh!”

Aku kemballi ke alam nyata. Tukang martabak berdiri di depanku sambil mengangsurkan plastik bening berisi kotak martabak. Aku menyerahkan selembar uang hijau dan selembar uang cokelat, lalu pamit.

Langkahku melintasi gerobak merah yang terbungkus terpal. Sebersit iri terlintas. Namun, hatiku lekas berucap terima kasih karena telah membuat kerinduanku pada rutinitas Ramadan membuncah.

Aku tidak peduli sekarang Ramadan ke berapa dan masih berapa lagi. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik yang aku bisa di bulan mulia ini.


Photo by Julie Ricard on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *