Jika Ini Ramadan Terakhirku, Jauhkan Dari Hutang Piutang

Oleh: Denik

Tak terasa bulan Ramadan akan segera berakhir. Lebaran tinggal menghitung hari. Rasanya sedih akan berpisah dengan bulan yang penuh kebarokahan dan keagungan ini. Bulan mulia dimana terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Yakni malam Lailatul Qadar. Bulan diturunkannya Al-Qur’an Nur Karim. 

Hari-hari terakhir bulan Ramadan semakin menyisakan sesak di dada. Sedihnya melebihi saat berpisah dengan sang mantan. Sungguh lho. Namanya berpisah pastilah ada perasaan sedih. Wajar saja sih. Manusiawi kalau kata orang-orang.  Begitu direnungkan, dicamkan. Meski sambil berlinang air mata kita masih bisa berujar, ”Aku rapopo. Memangnya cowok cuma dia aja.” Tapi besok-besok stalking media sosial sang mantan. Kepo. Diam-diam masih ingin mengetahui kabarnya. Berharap bisa balikan lagi.

Berbeda dengan bulan Ramadan. Mana bisa stalking. Yang ada perasaan was-was.  Akankah tahun depan masih bisa menjumpai bulan Ramadan lagi? Apakah ini akan menjadi Ramadan terakhirku? Ya Allah, jika mengingat hal tersebut semakin membuat dada terasa sesak. Sebab urusan umur memang tidak ada yang tahu. Jodoh, rezeki dan maut hak prerogatif Allah. Semua sudah diatur 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. 

Jika berbicara umur memang patut was-was. Apalagi jika mengingat bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Justru kematian merupakan awal kehidupan baru yang kekal abadi. Dengan dua jurusan sesuai amal dan perbuatan kita selama di dunia. Surga atau neraka. Surga tempatnya segala kenikmatan. Neraka tempatnya segala siksaan. Bagi orang beriman paham betul akan keberadaan surga dan neraka. Oleh karenanya mereka sangat menjaga segala perbuatan selama di dunia.

Jika ini Ramadan terakhirku, satu hal yang sangat aku jaga jangan sampai terlewatkan. Yaitu urusan hutang piutang. Duh, jangan sampai menyisakan urusan yang satu ini. Sebab berat urusannya. Di dunia memberatkan ahli waris. Di akhirat menjadi penghalang kita untuk masuk ke surga. Dalam salah satu hadist Rasulullah SAW menjelaskan:

“Bahwa tidak akan masuk surga, seorang hamba yang masih memiliki hutang.”

Oleh karena itu bila seseorang meninggal dunia, sebelum diberangkatkan ke pemakaman. Maka ditanyakan kepada ahli warisnya, apakah almarhum meninggalkan hutang? Jika ada mohon segera diurus demi kelancaran almarhum di akhir.

Jika tidak diurus atau si ahli waris tidak mengetahui. Maka celakalah bagi si almarhum. Sebab pahala yang ia miliki akan terkikis untuk membayar hutang-hutangnya. Atau jika orang yang dihutangi tak mau mengikhlaskan hutang tersebut. Hal ini menjadi penghalang juga. Oleh sebab itu jangan bermain-main dengan hutang. Sekecil apa pun yang namanya hutang tetaplah hutang. Jangan meremehkan. 

Dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya ketegasan. Ketika sesama saudara, sesama teman atau tetangga meminjam sesuatu harus ditegaskan.

“Pinjam atau minta?”

Kalau pinjam berarti ada hitungannya. Kalau minta tentu seikhlasnya yang memberi. Sungguh hutang perbuatan ringan yang memberatkan kita saat di akhirat nanti. 

Jika ini Ramadan terakhirku, jauhkan aku dari hutang piutang. (EP)


Photo by Gabriel Meinert on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *