Doa Kami di Tiap Ramadan

Oleh: Iecha

“Lho, gandengannya mana?”

Sorry, bukan truk, jawabku dalam hati

“Sendiri aja, nih?”

Rame-rame, sama bayangan semut.

“Anak udah berapa?”

Tiga, warna oranye.

Serius, kesal ‘kan sama pertanyaan basa-basi tapi kepo seperti itu? Entah kenapa, pertanyaan itu jadi wajib saat lebaran tiba. Buat mblo  sepertiku, hal itu menambah berat langkah kaki ke rumah saudara-saudara.

Aku berlebaran di rumah nenek di Jakarta. Letaknya tidak jauh dari rumahku dulu. Nenek orang Betawi, yang mana segenap keluarga besarnya, sepupunya, saudara jauhnya tinggal di lingkungan yang sama.  Saat lebaran, kami—keluarga keturunan nenek—harus menyambangi rumah-rumah itu untuk bersilaturrahmi, bertandang meski hanya menyodorkan ujung jari yang mengatup.

Dulu, aku semangat. Biasanya ada receh kaku yang keluar dari saku mereka. Buat anak kecl, hal tersebut sangat membahagiakan. Saat aku mulai tinggi, receh itu sudah tidak keluar. Hanya ucapan kalau aku sudah besar. Okelah, tidak masalah. Lalu? Sekarang? Bukan receh yang keluar, tapi pertanyaan paling membangongkan yang aku yakin dibenci segenap mblo di muka bumi.

“Suaminya mana?” tanya seorang ibu di rumah—kalau tidak salah—sepupu almarhum kakekku.

Aku bengong. Suami dari mana? Mau aku jawab kalau ayang mbeb lagi sibuk di Incheon, bisa-bisa aku disoraki semua yang paham. Tapi, maksudnya suami siapa, sih? Kapan dia lihat aku nikah? Aku yang punya diri saja merasa belum menikah.

“Yang kemaren nikah anaknye Titin, bukan ini.” Akhirnya, ada ibu-ibu yang menyelamatkanku.

“Oh, bukan dia. Kalo dia udah nikah?”

Yah, kenapa balik ke situ lagi pertanyaannya?

Aku bukannya tidak pernah memikirkan pernikahan. Pernah, hanya belum sampai pemikiran serius kalau aku harus menikah. Saat teman-temanku satu persatu menikah, aku kondangan dan berburu Zuppa Soup. Satu dua pertanyaan kapan nyusul memang singgah. Namun, aku tidak pernah menggubris.

Buatku, urusan menikah bukan siapa yang paling cepat. Nikah itu untuk seumur hidup. Aku harus mempertanyakan diriku lagi apa benar-benar siap untuk berbagi “hidup” dengan orang lain, termasuk berbagi ruang privasi. Aku yang akan menjalani, jadi aku dan diriku harus selesai dulu dengan semua perdebatan itu. Orang lain tahu apa?

“Eh, Fara, ya?” sapa ibu-ibu, waktu aku melintas di sebuah gang.

“Iya.”

“Inget, nggak? Mamanya Aulia.”

Aku cuma senyum. Aku ingat Aulia, teman SD-ku yang tinggi dengan rambut lurus. Kulitnya agak gelap. Anaknya baik, tidak neko-neko di kelas dan tidak ikut banyak ekstrakurikuler sepertiku. Kami berteman cukup akrab hingga lulus.

“Kuliah? Udah S berapa?”

Dalam hati, aku merasakan kesejukan tiada tara. Tumben ada yang tanya soal pendidikanku. Aku jadi tidak terlalu merasa terintimidasi karena pertanyaan-pertanyaan mainstream. Lalu, aku sebutkan di kampus mana aku menuntut ilmu dan jenjang yang sedang aku ambil.

“Wah, enak bisa kuliah. Lia nggak kuliah. Ibu sih, maunya dia kuliah, tapi dia malah nikah. Sekarang di rumah aja ngurus anak dua.”

Kalau Aulia dengar, pasti dia kesal sama ibunya karena dibanding-bandingkan. Tapi, aku justru bahagia. Akhirnya, ada juga yang pertanyaannya tidak hanya seputar nikah. Ibu ini mungkin tergolong orang langka di sini karena ingin anaknya punya jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Aku pikir, masing-masing kita punya tugas masing-masing. Lia sudah nikah karena mungkin dia memang “ditugaskan” untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, yang kelak putra-putrinya jadi sosok berpengaruh buat Indonesia. Sedangkan, tugasku mungkin masih sebatas mengajak orang lain menulis, melahap ilmu banyak-banyak, dan hal-hal sejenisnya.

Tapi ‘kan, tidak semua orang bisa memahami itu.

Lalu pertanyaan tentang menikah menjadi makin kerap. Di mana melangkah—apalagi acara keluarga—pertanyaannya selalu seputar hal yang sama. Aku terusik. Sedikit banyak mulai memikirkan dengan lebih serius. Aku memang menjalani dengan satu dua orang, tapi bukan berarti kami bersepakat untuk meneruskan ke jenjang berikutnya.

Aku mulai memikirkan dengan benar-benar serius saat orang-orang di sekitarku punya orok. Oh My! Lucu! Aku merasa anabul oranye yang sudah memilih menjadi petarung di luar rumah itu tidak ada apa-apanya. Apalagi sejak aku punya keponakan. Aku memperhatikan betul bagaimana orang-orang itu mengurus bayinya, mengkhawatirkan sosok kecil dengan semburat pink itu, dan bergembira saat bayi itu memulai sesuatu untuk pertama kalinya.

Aku juga mau punya yang begitu. Tapi … bukankah aku harus bertemu orang yang tepat terlebih dahulu?

Lalu, Ramadan ini—sebagaimana Ramadan beberapa tahun sebelumnya—doaku senada dengan doa para mblo lain di dunia ini:

“Ya Allah, jadikan Ramadan ini sebagai Ramadan terakhir dalam status jomblo. Mudah-mudahan Ramadan depan sudah ada gandengan. Alhamdulillah lagi kalau sudah ada yang di gendongan.”

Mengutip satu kalimat di status Facebook: Yang tulis ‘Aaamiiin’ dapat pahala.


Photo by Ellicia on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *