Dilarang Mudik Masa Pandemi, Sejak Dulu Belum Pernah Tahu Rasanya Mudik

Oleh: Dian Sulis Setiawati

Banyak story berseliweran. 10 hari terakhir pintu langit di buka oleh Allah, sedangkan pintu perbatasan di tutup oleh pemerintah. Sentilan aduhai dari para netizen terkait larangan mudik hari raya kedua masa pandemi covid hehe.

Ya tahun lalu juga banyak yang memilih tidak mudik apalagi saat itu penyebaran infeksi virus covid-19 baru beberapa bulan. Masih genting, masih worry. Pilihan untuk tetap berada di rumah saat itu lebih dipilih, bahkan tidak bersilaturahmi walaupun ke saudara dekat sekalipun. Ya silaturahmi virtual saat itu yang dilakukan banyak orang.

Lalu bagaimana dengan mudik kali ini?

Rindu sudah tak tertahankan, banyak yang berharap bisa mudik bertemu dengan keluarga di kampung halaman, di kota kelahiran, di rumah sungkem kepada orang tua.

Apakah pandemi ini sudah berakhir? Jawabnya belum. Tapi semua sudah lelah, ya sangat paham. Pilihan mudik ada pada kita semua. Yang ingin mudik lakukan sesegera mungkin sebelum perbatasan di tutup hehe. Yang memilih tidak mudik, takut tidak hanya sekedar disuruh putar balik tapi juga sangsi yang akan diberikan.

Bagaimana memilih menerobos perbatasan sebelum di tutup atau memilih silaturahmi virtual lagi?

Bagaimana dengan saya? Ah tak ada bedanya saya dari kecil sampai saat ini tak pernah merasakan mudik. Mau mudik kemana? Tak punya saudara jauh bahkan impian menikah dengan orang jauh pun sempat terlintas supaya saya dan anak-anak saya kelak punya cerita tentang serunya mudik.

Tapi jodoh sudah tertulis dalam satu kota saja hehe. Ya sudah saya tidak ditakdirkan jadi pemudik sampai saat ini. Jadi larangan untuk tidak mudik bukan hal yang membingungkan saya.

Tapi bukan berarti hati saya senang ketika orang lain sedih tidak bisa mudik ya. Saya pun ikut sedih membayangkan betapa rindunya mereka berkumpul pada situasi lebaran bersama seluruh keluarga besar. Serunya kebersamaan itu pasti membuat kegalauan tersendiri ketika ada himbauan 10 hari terakhir perbatasan akan ditutup dan kita tidak diijinkan keluar masuk dari satu kota ke kota lain.

Bersabarlah untuk semua, kesedihan kalian semua akan segera berakhir jika pandemi ini usai. Sementara bagi kami yang bahkan belum pernah merasakan serunya mudik lebaran hanya bisa membayangkan saja seperti apa melakukan perjalanan mudik untuk bertemu keluarga di kampung halaman.

Kita syukuri keadaan kita saat ini. Di manapun kita berada, di manapun keluarga kita yang terpenting semua dalam keadaan sehat. Walaupun belum bisa bersua tapi kita tidak kehilangan mereka, percayalah jauh di mata dekat di hati, jauh di mata dekat di doa, dan jauh di mata dekat di layar handphone kita.

Salam silaturahmi dari saya yang dari dulu belum pernah tahu rasanya mudik.


Photo by Tan Kaninthanond on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *