Apakah Kamu Siap Untuk Ramadan Terakhir?

+2

Oleh: Ainag Inairah

Berkali-kali orang mengatakan,

“Bagaimana kalau ini adalah ramadan terakhirmu?”

“Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu ini akan menjadi bulan sucimu yang terakhir?”

Bagaimana Anda menjawab ketika mendapat pertanyaan semacam itu? 

Apakah Anda akan langsung siap dengan jawaban :

“Tentu saya akan tekun beribadah, memperbanyak munajat kepada-Nya.”

“Tak ada pilihan lain bagi saya selain banyak-banyak bertobat.”

“Pastilah saya akan memperbaiki kualitas diri, memohon pada Allah agar dimatikan dalam iman Islam.”

Mungkin demikian kira-kira beberapa jawaban yang akan terdengar ketika pertanyaan tersebut dilontarkan. Jawaban-jawaban yang bisa disebut perwujudkan sikap hamba Allah yang sepenuhnya tawakal pada qadha dan qadharnya.

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan. – (Q.S Al-Anbiya: 35)

Sementara pada beberapa orang yang lain ketika pertanyaan yang sama ditanyakan, mungkin kira-kira akan begini tanggapannya.

“Apa?!?! Iiihh, ngomongmu serem-serem!”

“Kalau aku mati, siapa yang urus anak-anak? Kasihan mereka…”

“Janganlah, aku masih belum membahagiakan ayah ibuku…”

“Ya sedihlah, masa harus seneng.”

“Ngga tau ya, belum kepikiran…”

Tapi paling seru kalau ketemu jawaban semacam di bawah ini.

“Enak aja! Suamiku langsung kawin lagi dong!”

Sego isih penak rasane kok takon mati (nasi rasanya masih enak kok nanya soal mati)…”

“Kamu pasti lega kan, utangmu ngga bisa kutagih lagi?!”

Well, bagaimanapun Anda menjawab, kita tidak bisa menjustifikasi level keimanan seseorang hanya dari sana. Saya meyakini hal semacam ini terlalu kompleks untuk dinilai lewat indikator terbatas. 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Luqman  31:34).

Sebagaimana kematian yang tak pernah bisa sungguh-sungguh kita persiapkan, tak semudah itu bisa kita antisipasi. Hanya Allah azza wa jalla yang paling mengetahui dimana makhluk-Nya akan ditempatkan setelah mati.

Seperti peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu, hanya beberapa saat setelah challenge menulis dengan tema “Bagaimana Bila Ini Adalah Ramadan Terakhirmu,” diumumkan.

Saat membaca pengumuman saya sudah berada di atas kendaraan yang setiap hari mengangkut rombongan kami, pegawai sebuah kantor pemerintahan. Dengan jarak tempuh sekitar 150 kilometer sekali jalan dan merupakan jalur antar kota yang padat, resiko yang dihadapi di jalan cukup menantang.

Sekalipun saat itu ramadan, dan kami seperti di bulan-bulan lain berangkat pukul lima lewat, arus lalu lintas sudah cukup padat. Kendaraan beraneka ukuran dan muatan adalah kawan akrab perjalanan kami. Baru tiga puluh menit perjalanan dan belum sepenuhnya keluar dari wilayah kabupaten tempat kami menetap, arus mulai melambat. Kami penumpang semobil yang sebagian besar sudah dalam kondisi lelap, melanjutkan tidur yang terputus oleh sahur dan keberangkatan ke titik penjemputan, sudah hafal kemungkinan yang terjadi bila terjadi kemacetan semacam itu.

Apalagi kalau bukan karena terjadi kecelakaan lalu lintas. Truk yang terguling di tengah jalan, kendaraan yang terjun ke sungai di pinggir jalan, tabrakan antar kendaraan, ataupun kecelakaan tunggal, sudah kenyang kami lewati.

Pagi itu kami yang sebelumnya menduga-duga, berbalut doa mengharap keselamatan untuk semua pengguna jalan, akhirnya melewati titik TKP penyebab kemacetan. Di sana seorang bapak tengah duduk di pembatas jalan, meratap histeris, ditenangkan masyarakat dan petugas yang sudah berkumpul di sekitar.

Di depannya, terbujur sosok yang tadi berada di boncengannya, tertutup sehelai kain, tepat di tengah jalur aspal sebelah timur.

   اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ

Keduanya, entah suami istri, entah ibu dan anak, entah kakak adik, tak mungkin menduga, bahwa pagi itulah ramadan terakhir perempuan tersebut.

Bagaimana dengan saya sendiri, bila mendapatkan pertanyaan yang sama?

Jujur, saya seringkali dibayang-bayangi kematian, sering memikirkan bagaimana saya berpulang, kapan batas umur dunia. Kalau orang-orang taat, ahli ibadah saja tak berani menjamin dimana ia ditempatkan setelah mati, apalah saya ini.

Sebagai seorang ibu tunggal, seringkali saya menitipkan anak-anak pada sahabat-sahabat saya, yang tentunya memiliki keterbatasan dalam menolong mereka. Para sahabat biasanya menyakinkan saya, bahwa saya akan mendampingi anak-anak hingga uzur usia. Lalu terlantun doa, untuk membersamai kesendirian saya mengasuh mereka dan menjalani sisa umur.

Kepada anak-anak sudah sering saya pesankan, apa-apa yang harus dilakukan, jika sewaktu-waktu kematian mendatangi ibunya. Semoga mereka dipelihara Allah, senantiasa shalih dan taat kepada-Nya. Karena keshalihan mereka adalah salah satu bekal kehidupan kekal saya kelak.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya.”

Entah saya mendengar dari siapa, atau membaca di mana, untuk kesekian kali, yang akhirnya mendorong saya untuk agak serius mengejar amal jariyah ini. Mulai aktif di kegiatan donasi buku, donasi gawai siswa terdampak pandemi, donasi tempat ibadah, tempat pendidikan, atau tempat tinggal kaum dhuafa, meski hanya seperak dua perak. 

Sungguh, se-sen dua sen saja! Pelit sekali kan saya!

Begitu juga dengan kegiatan literasi, seperti menulis artikel maupun cerita fiksi yang membawa pesan-pesan kebaikan. Antara passion dan niatan ibadah bisa berkolaborasi.

Di atas semua itu, saya terus-terusan berlatih berbaik sangka kepada Allah. Ketika dalam keadaan sempit, masih mudah mengeluh, ketika dalam kondisi susah, masih ringan melupakan syukur. Ibadahpun pas-pasan. Terlebih, kehidupan saya masih dominan dalam kegiatan mengetuk pintu rezeki, bekerja sebagai abdi negara, melaju dalam jarak, waktu, dan target kerja yang melelahkan. Sekalipun ramadan, semua itu tidak surut, malah tekanan pekerjaan semakin kuat. 

Hingga sering bertanya, mengapa ramadanku tak pernah nyenyak dalam ibadah?

Lalu kembali saya disadarkan, ribuan kilo yang telah kutempuh, ribuan jam yang telah kuhabiskan, jutaan beban yang disematkan, adalah salah satu bentuk ibadah. Anda tak mungkin berharap seorang single mom hanya menengadahkan tangan bukan?

Semoga Allah ridho, semua itu menjadi jariyah. Saya tak akan berkecil hati, tapi berusaha memacu diri, melihat mereka yang tekun menjaga ibadahnya.  Saya berbaik sangka, Allah tak akan menyelisihi amalan umat-Nya.

Sebagaimana hadits riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, 

Jangan lah seorang mati kecuali dia dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah.”


Photo by Soragrit Wongsa on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *