Penerapan Protokol Keimanan

Oleh: Anita Yulia

Ada filosofi cukup tinggi pada kondisi pandemi saat ini, andai kita sebagai manusia yang punya banyak waktu untuk mentafakuri dan merenungi semua yang terjadi. Tak ada satu pun yang dapat memprediksi bahwa akan ada waktu dimana mulut tertutup, jarak terjaga dan kebersihan yang dari dulu sebagian dari iman kini semakin di tegakan. Ada banyak hal yang harus diadaptasi, tak sedikit pula yang terdampak oleh adanya pandemi ini.

Saat mulut tertutup oleh masker, seharusnya bukan hanya virus yang tak akan tertular tetapi harusnya ucapan-ucapan buruk pun terjaga dan tertutup. Istilah isolasi seperti layaknya ujlah dari kerumunan atau lingkungan yang tak baik, menuju kesendirian yang penuh muhasabah diri, lebih pada mendekatkan diri pada illahi. Kondisi pandemi harus menjadi pengingat kita untuk senantiasa bertobat, meminta ampunan dan perlindungan setiap waktu. Karena, pada hakikatnya kita adalah manusia biasa yang tidak punya daya dan upaya kecuali karena pertolongan dan rahmat Allah SWT. Selain protokol kesehatan, ternyata ada yang lebih penting yaitu protokol keimanan.

Protokol keimanan ini merupakan aturan yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana pun situasi dan kondisinya. Keimanan layaknya roda perjalanan kehidupan yang berputar, kadang diatas kadang pula dibawah.

Protokol keimanan layaknya protokol kesehatan yang kini berlaku terdiri dari 3 M yaitu :

1. Memakai masker, tentu dalam protokol kesehatan ini sangat penting tapi memakai masker saja tidak cukup, kaitannya dengan protokol keimanan ini perlu diiringi dengan menjaga lisan dari hal-hal yang dapat menyakiti orang lain, menjauhi gibah, dengki dan fitnah.

2. Mencuci tangan, intinya adalah kita harus berjuang untuk shalat tepat waktu, dari wudhu sehari minimal lima kali saja kita sudah menerapkan mencuci tangan dengan baik, bahkan setiap gerakan wudhu dan shalat itu pada dasarnya adalah obat untuk segala penyakit.

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menganjurkan agar tetap menjaga kesucian kedua tangan. Beliau bersabda:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قَالَ: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلاَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثاً، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ 

“Idza stayqazha ahadukum min naumihi fala yudkhilu yadahu fil inai hatta yughsilaha tsalatsan, fa innahu la yadri aina batat yaduhu.”

Yang artinya: “Jika seseorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka hendaknya tidak memasukkan tangannya dalam bejana sampai dia membasuhnya tiga kali karena sesungguhnya dia tidak menyadari di manakah posisi kedua tangannya semalam.”

3. Menjaga jarak, sadar gak kalau ini pelajaran berharga tentang batasan interaksi kita dengan lawan jenis, kita harus menjaga diri agar tak bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Penerapan jaga jarak terbaik ternyata tetap menghadirkan ucapan salam dan senyum kepada sesama.


Photo by Manzi Gandhi on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *