Dilarang Mudik Lagi

0

Oleh: Agit Yunita

Tiba-tiba dia datang. Melumpuhkan segala aspek kehidupan. Virus Corona datang menjadi sejarah yang memilukan. Apalagi saat ia tak kunjung pergi ketika bulan Ramadhan tiba. Dan ini sudah tahun kedua kita harus melalui bulan penuh rahmat ini di tengah pandemi.

Saya mungkin hanya satu dari sekian banyak orang yang harus tinggal jauh dari orang tua. Apa pun alasannya, berkumpul bersama keluarga di saat bulan suci hingga hari raya tiba selalu menjadi waktu yang paling dinanti.

Namun sayang, pandemi mau tak mau mengubah cara kita untuk tetap menjaga tali silaturahmi. Menahan rindu bertemu orang tua dan sanak keluarga lebih lama lagi. Mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada di sekitar kita.

Meskipun memang keadaan di tahun kedua ini tak seburuk tahun pertama, tetapi tetap saja kita harus selalu ingat. Bahwa pandemi ini belum usai. Kita harus tetap menjaga protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah demi sebuah kata tetap sehat. Tetap baik-baik saj

Kita dilarang Mudik lagi. Tak harus marah. Tak perlu mencari cara untuk melanggar aturan itu. Karena ini berhubungan dengan kelangsungan hidup sesama manusia. Mungkin saat kita memaksa untuk tetap mudik, kita dalam keadaan sehat. Tetapi kita tidak pernah bisa memastikan bahwa selama perjalanan kita tidak terkena virus mematikan itu. Tentu saja kita tidak mau jika kedatangan kita ke kampung halaman hanya akan membawa penyakit. Lalu tanpa kita sadari kita menularkannya kepada orang tua dan keluarga yang kita temui.

Tak apa dilarang Mudik lagi, percayalah itu tidak akan mengurangi nilai tinggi sebuah Hari Raya. Hari kemenangan bagi kita yang telah selama 30 hari menjalankan ibadah puasa. Rasa rindu yang pasti sudah menumpuk lebih tinggi lagi, harus kita tangguhkan sedikit lagi. Kita tetap bisa menjalin silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi saat ini.  Kita harus selalu bersabar dan tak pernah berhenti berdoa agar pandemi ini segera berlalu.

Saya sendiri tinggal di Yogyakarta. Sedangkan ibuku berada di kota Bandung. Mungkin teman-teman masih ada yang berjarak lebih jauh dari ini. Tetapi rasa rindu yang kita miliki pasti sama besarnya. Apalagi jika hari libur di hari raya menjadi satu-satunya waktu yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan perjalanan cukup jauh dan lama. Tahun kemarin saya harus bersyukur masih bisa mendengar suara ibu dan menatap wajahnya meskipun hanya lewat telepon seluler. Dan hari raya tahun ini pun saya harus rela melakukannya lagi.

Ramadhan dan pandemi, akan menjadi cerita kita di masa yang akan datang. Ketika segalanya telah kembali pulih. Bahwa kita pernah berada di posisi yang begitu menakutkan namun tetap harus berjuang memerangi. Dan saya percaya, tak akan ada hasil yang mengkhianati prosesnya. Segala kerelaan kita insyaallah akan berakhir di titik yang membuat kita bahagia.

Bantul, 4 Mei 2021


Photo by Tristan Hess on Unsplash

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *