Ramadhan dan Pandemi: Kultur yang Berubah tapi Tidak Iman Kami

0

Oleh: Lisvy Nael

Ini tahun kedua umat muslim menikmati kegembiraan ramadhan di tengah pnademi. Ada dua hal yang juga sangat membekas.  Pertama, tahun lalu keluargaku (dan umumnya umat muslim) mentaati pemerintah untuk tarawih di rumah, dan hari ini jadi tahun pertama aku (kemungkinan besar) tidak berlebaran di rumah. Tentu saja keduanya disebabkan pandemi.

Masih teringat dengan jelas pertama kali pemerintah mengumumkan covid19 sebagai pandemi (Bencana Nasional). 13 Maret 2020 sore. Melihat bagaimana pemerintah Wuhan dan Tiongkok menerapkan kebjjakan lockdown total di Wuhan membuatku was-was. “OK, aku akan langsung pulang hari Minggu (15/3).”Selain karena membayangkan lockdown, aku pun menyadari saat itu bulan ramadhan sudah hampir menjelang. Jadi, apa salahnya pulanh menghindari pandemi sekaligus menikmati ramadhan penuh di kampung halaman dengan kedua orang tua dan keluarga kakakku.

Meski akhirnya aturan peraturan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) sebagai bentuk preventif penyebaran pandemi tidak sepenuhnya ketat, tetapi tidak bisa dipungkiri aktivitas ibadah pun diawasi dan dibatasi. 

Aku ingat bagaimana masjid-masjid menjadi kosong. Bahkan ketika waktu salat jumat. Hingga tibalah ramadan dan ibadah-ibadah sunnah yang menyertainnya. Misalnya salat tarawih.  

Ramadhan 2020 menjadi yang pertama (dan semoga yang terakhir) kami harus melaksanakan tarawih di rumah. Abi menjadi imam. Aku, ummi, mas, mbak, dan anak-anaknya menjadi makmum. 

Sejak saat itu, masjid yang lokasinya tidak lebih berjarak 20 langkah kaki pun terasa jauh dan asing. Aku hampir tidak lagi salat di masjid. Itu sangat disayangkan. Lalu, beragaman catatan tentang menyikapi pandemi pun semakin mudah dijumpai. Satu yang sangat berkesan adalah tentang bagaimana pandemi memberikan kesempatan dan pelajaran berharga untuk beribadah dalam khusyu, dalam sunyi. 

Kesunyian seringkali menjadi teman terbaik untuk bisa berpikir dengan lebih jernih. Kita diminta untuk lebih Utama membungkam mulut ketimbang mengumbar kebisingan tak berguna. Ramadhan di tengah pandemi menjadi penyelamat bagi banyak orang. Mereka yang takut bertemu teman lama dalam reunion karena rasa insyekuriti: tidak lebih kaya, bertemu dengan teman lama pembuli, atau mantan kekasih yang sama sekali dihindari.

Kita menemukan kebiasaan baru. Kultur yang bergeser. Silaturahmi virtual, tidak bersalaman saat lebaran, beribadah dengan tenang di rumah, dan kehati-hatian yang berlebih. Meski demikian, aku yakin Iman kita tidak berbuah dan menjadi tua bersama. 

 Jika bukan karena Iman, aku pun ragu dapat menyelesaikan segala hal yang terasa berat dipikul sendirian. Jika bukan karena Iman, pastilah masjid dan surau kami sudah berteman. Jika bukan karena Iman, tentu saja semua hal menjadi tidak berarti sama sekali. Jika bukan karena Iman, perubahan akan terasa lebib sulit. 


Photo by Clem Onojeghuo on Unsplash

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *