Ramadan Terbaik di Masa Pandemi, Mungkinkah?

Oleh: Nur Afilin

Tak terasa Ramadan 1442 H sudah memasuki 10 hari terakhir. Begitu pun masa pandemi Covid-19 sudah lebih dari 1 tahun membersamai kita. Beruntungnya, tahun ini kita masih diberi beberapa kelonggaran untuk beribadah di masjid, tidak seperti Ramadan tahun lalu. Meskipun tetap saja protokol kesehatan sepatutnya diterapkan. Nah, dalam situasi inilah, saya sempat berpikir, mungkinkah Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik?

Bagi sebagian orang yang belum baca buku Wujudkan Ramadhan Terbaikmu karya Ustaz Akmal Sjafril mungkin akan menjawab pesimis pertanyaan saya. Bagaimana bisa Ramadan terbaik ada saat pandemi seperti ini? Kita kumpul-kumpul tadarus Alquran di masjid dibatasi; bukber sebaiknya ditiadakan; mudik pun dilarang; dan sebagainya. Barangkali kurang lebih argumentasi yang muncul demikian.
Sayangnya, setelah membaca buku karya gurunda saya di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta itu, saya cenderung sepakat bahwa situasi pandemi justru lebih memungkinkan kita mewujudkan Ramadan terbaik sepanjang hidup. Mau tahu caranya? Berikut saya sarikan 5 tips yang saya simpulkan usai melahap buku tipis tapi daging semua itu.

  1. Naikkan Level Saum

Secara hukum asal, pembatal saum memang hanya makan, minum, dan berhubungan seks. Namun demikian, dalam banyak riwayat Rasulullah SAW mengabarkan bahwa nilai (pahala) saum itu juga tergantung pada pikiran, perkataan, dan perbuatan kita secara keseluruhan. Artinya, jika kita ingin mendapat pahala lebih tentu level saum kita harus dinaikkan.

  1. Lengkapi dengan Amal Unggulan

Tidak sekadar saum yang ditingkatkan kualitasnya, Ramadhan terbaik tentu lebih besar nilainya jika diiringi amalan unggulan lainnya. Isyarat ini bisa kita jumpai di kelanjutan ayat 183 surat Al-Baqarah, yaitu 184-187. Lebih lanjut, Rasulullah juga mencontohkan serta menerangkan dalam berbagai kesempatan amal-amal unggulan itu.

  1. Kurangi yang Kurang Penting

Jika kita sibuk dengan banyak kebaikan semestinya tak ada waktu untuk hal yang kurang atau bahkan tidak baik. Jika tidak di masa pandemi, kecenderungan kita gagal fokus karena sibuk dengan hal-hal yang tidak terlalu penting. Akibatnya, kita sering salah memilih prioritas.

  1. “Gaspol” Sampai Akhir

Suatu hari Rasulullah pernah menyebut bahwa sebaik-baik urusan manusia dinilai pada akhirnya. Konsekuensinya, kita tidak boleh berpuas diri jika saat ini sudah baik. Kebaikan itu seyogianya dipertahankan atau bahkan ditingkatkan hingga akhir hayat. Terlebih dalam hal ibadah di bulan Ramadhan, Rasulullah dan orang-orang saleh terdahulu mencontohkan kesungguhan yang berlipat memasuki hari-hari terakhir Ramadhan.

  1. Bersama dalam Beramal

Sudah menjadi tabiat, seringkali kita lupa, lalai, atau turun semangat pada suatu kesempatan. Hal ini juga bisa berlaku saat Ramadan. Kebersamaan dalam beramal bisa jadi salah satu cara kita bangkit. Tak cuma “mood boster”, memang kita butuh “iman booster” untuk meraih misi Ramadan terbaik. Namun demikian, khusus masa pandemi, kita lebih dianjurkan mencukupkan anggota keluarga sebagai “iman booster”.

Sebagai penutup, mari kita cerna apa yang disampaikan oleh Ustaz Akmal saat menyebutkan tujuan akhir dari Ramadan:

“Tujuan ibadah di bulan Ramadan bukanlah untuk Ramadan itu sendiri, melainkan untuk menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Adapun takwa adalah konsistensi dalam kehidupan sehari-hari; sikap yang penuh kehati-hatian dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tugas ini baru berakhir jika hidup kita berakhir, dan kehidupan manusia dinilai pada akhirnya. Siapa yang mengetahui dalam keadaan apa ia mati?”

Pemalang, 2 Mei 2021


Photo by Rumman Amin on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *