Cerita Buka Puasa

+1

Oleh: Iecha

Semua berubah. Pandemi yang datang—tidak tiba-tiba juga, sih—mengubah kebiasaan dan rutinitas banyak orang. Pekerja kantoran harus bekerja di rumah, belajar juga dari rumah, bahkan ibadah pun di rumah saja.

Aku ingat betul hari itu. Sabtu, 14 Maret 2020. Aku kebosanan dalam perjalanan ke Bandung untuk menghadiri pernikahan sepupu. Yang bisa aku lakukan cuma makan dan main ponsel. Perutku sudah protes kekenyangan, jadi pilihan yang tersisa hanya browsing. Aku memilih membuka Twitter, karena aku bisa mendapat banyak informasi dan berita-berita terbaru.

Lalu, muncullah berita itu, tentang Gubernur DKI Jakarta, Bapak Anies Baswedan, yang menginstruksikan untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah.

Pikiranku segera menangkap ada kegentingan dari virus impor ini. Terbayang jika harus mengunci kota sebagaimana yang dilakukan pemerintah China pada kota Wuhan, tempat asal virus. Tiga bulan tanpa keluar rumah, bukankah itu menjemukan?

Aku juga masih ingat bagaimana timeline­-ku dipenuhi doa agar Covid-19 angkat kaki dari Indonesia sebelum Ramadan datang. Dengan instruksi  #dirumahsaja dan situasi yang cukup mencekam, pasti Ramadan yang akan segera tiba tidak akan sesemarak biasa. Bayang-bayang Ramadan tanpa bukber, ngabuburit, bahkan tarawih berjamaah menghantui.

Benar saja! Semua berubah! Semua! Termasuk hari-hariku, hari-hari Ramadan-ku!

Sebelum pandemi datang, aku terbiasa berangkat kerja di siang hari, dan baru kembali ke rumah setelah lewat waktu Tarawih berjamaah. Aku sedang mengerjakan liputan mendalam tentang suatu fenomena untuk media tempatku bekerja. Banyak dari narasumber yang meminta bertemu di luar saat jam buka puasa. Kalau mereka asyik bercerita, bisa jam sembilan malam baru bubar. Jika sedang tidak ada jadwal bertemu narasumber, aku ditugaskan menghadiri undangan kegiatan yang biasanya diadakan sore hari.

Di luar hari kerja, aku punya agenda buka puasa bersama. Entah dengan teman gank, alumni ini, alumni itu, komunitas ini, komunitas itu. Aku merasa seperti orang penting yang sibuk. Sampai ada jadwal yang tidak bisa aku hadiri karena sudah ada booking dari yang lain.

Setelah semua ke-riweuh-an itu selesai, kantor memasuki masa cuti, teman-teman sudah pada mudik, aku punya jadwal yang berbeda; mengantar camilan lebaran ke rumah kerabat. Bukan satu rumah, tapi beberapa. Tentu saja aku buka puasa di situ karena empunya rumah sudah menyiapkan jamuan. Lalu tiba-tiba lebaran!

Sejujurnya, aku kangen buka puasa di rumah.

“Ah, dia mah jarang di rumah. Buka puasa aja jarang banget di rumah,” komentar Babe, kalau ada yang bertanya tentangku.

Beberapa bulan sebelum pandemi menghantam Wuhan, aku memutuskan resign dari kantor dan menjadi pekerja lepas. Tujuan utamaku agar dapat mengatur jadwal dengan lebih baik, khususnya di Ramadan. Aku merasa menjadi orang zalim karena mengutamakan pekerjaan ketimbang ikut buka puasa di rumah. Orang rumah pasti kecewa melihatku sibuk sendiri di luar tanpa mengindahkan mereka. Beruntung aku tidak dicoret dari KK.

Sejak pandemi muncul di Indonesia, praktis aku kehilangan pekerjaan. Aku memilih mengunci diri di rumah daripada harus keluar dan berisiko membawa virus itu ke dalam rumah. Hari-hari aku habiskan dengan membantu menyelamatkan negara: rebahan.

Ramadan datang, aku nelangsa. Selain karena situasi pandemi yang relatif mencekam, juga karena simpananku berada di titik terendah. Ditambah, aku tidak punya pekerjaan apapun. Bagaimana bisa aku memberi tambahan untuk belanja lebaran jika seperti ini? Sempat terbesit sesal karena sudah memutuskan resign. Jika tidak, mungkin aku tetap bisa bekerja dari rumah dengan melansir berita-berita dari luar negeri.

Ya sudah, aku pasrah saja. Percuma juga menyesal. Aku yakin, pasti ada hal baik dari kondisi tidak menyenangkan seperti ini. Setidaknya, Ramadan ini aku tidak terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan sehingga bisa lebih menikmati Ramadan.

Lalu, tiba-tiba lebaran!

Tiga puluh hari Ramadan benar-benar aku jalani sesuai instruksi pemerintah: di rumah saja. Seperti keajaiban karena ternyata aku bisa berdamai dengan situasi yang ada. Pun, berdamai dengan suasana hati yang sering keruh karena merasa gagal. Lebaran tetap menjadi lebaran yang kami nikmati dengan bahagia.

Tiga puluh hari di rumah? Tiga puluh hari berbuka puasa di rumah? Hei, bukankah itu memang keinginanku?


Photo by Spencer Davis on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *