Walau Kita Jaga Jarak, Kita Tetap Saling Jaga

+3

Oleh Rakhmat Wahyudi

Akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan berita adanya virus dari Negeri Tirai Bambu yang menyebar begitu cepat dan cukup mematikan. Virus itu diyakini bermula dari kota wuhan, China kemudian menyebar luas ke berbagai negara. Virus tersebut dinamai dengan Covid-19, yaitu Corona Virus Disease 2019. Dalam waktu singkat, di kota wuhan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 cukup banyak, sehingga pemerintah setempat segera menyatakan untuk kota wuhan di lockdown.

Beragam kebijakan pun diterapkan di berbagai negara, mulai dari melarang penerbangan dari dan ke China, tidak diizinkan adanya kegiatan bersama, hingga lockdown. Namun, terus melonjak jumlah kasus positif Covid1-9 maupun jumlah kematian. Bahkan kurang dari tiga bulan, Covid-19 sudah menyebar ke 123 negara, dari Asia, Eropa, AS, hingga Afrika Selatan (sumber : https://www.kompas.com tanggal 12 Maret 2020). 

Pada tanggal 11 Maret 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global. Indonesia baru menyatakan adanya kasus terkonfirmasi Covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020. 

Seketika aktivitas kita berubah dari sebelumnya. Terbatas serta adanya pembatasan. Slogan 3M dikampanyekan oleh Pemerintah maupun satgas Covid-19, memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Bahkan beberapa Pemerintah Daerah menutup tempat perbelanjaan, tempat ibadah dan membatasi jam malam. 

Paling terasa berbeda ialah saat memasuki bulan Ramadhan. Tidak ada arak-arak warga keliling untuk menyerukan bahwa akan masuk bulan Ramadhan. Selain itu, dilarang acara buka puasa bersama, meniadakan aktivitas sholat tarawih, i’tikaf dan sholat Ied di Masjid oleh Pemerintah dengan pertimbangan menekan penyebaran Covid-19. Sedih, tetapi itulah yang terbaik untuk kita semua. 

Kondisi ditengah pandemi mengubah segalanya, apalagi bagi masyarakat kalangan kebawah. Ketika diriku bersama istri dan anak-anak berbagi makanan berbuka puasa di sekitar jalan alternatif cibubur, tampak banyak sekali pengemis yang berada di sepanjang jalan. Memang hal biasa banyak pengemis ketika bulan Ramadhan namun di tengah pandemi membuat semakin ramai pengemis. Saat itu, kami membawa sekitar 20 kotak makanan berbuka puasa tak pelak bak gula yang dikerumunin semut. Subhanallah…semoga berkah. 

Lain lagi dampak pandemi yang dirasakan, yaitu ditinggalkan orang yang disayang, usaha tutup karena sepi pembeli, beralih profesi asal halal demi bertahan hidup dan lainnya. Sabar dan syukur itulah sikap seorang muslim dalam menjalani kehidupan. Sabar ketika ditimpa musibah, bersyukur ketika Allah beri rizki. 

Kini, sudah lebih dari 1 tahun pandemi, kondisi masyarakat pelan-pelan pulih. Aktivitas masyarakat hampir kembali seperti semula, usaha kembali dibuka, banyak yang mulai masuk kerja ke kantor, tempat perbelanjaan dan tempat ibadah normal dibuka. Namun ada yang berbeda, sekarang wajib menjaga protokol Kesehatan, 3M.

Seiring kembalinya aktivitas masyarakat tak lepas dari kebijakan Pemerintah yang melonggarkan aturan-aturan sebelumnya dan penerapan protokol kesehatan di berbagai tempat. Pemerintah juga telah melaksanakan program vaksinisasi kepada masyarakat sejak Januari 2021 dan terus berjalan. 

Semua hal itu patut disyukuri, Alhamdulillah. Apalagi, Ramadhan tahun ini diizinkan melakukan sholat tarawih hingga nanti sholat Ied di Masjid dengan tetap menjaga protokol kesehatan, 3M. semoga kita semua tetap semangat beribadah dan tetap mengikuti protokol kesehatan ditengah pandemi. Jadi, walau kita jaga jarak, kita tetap saling jaga, tidak menularkan dan tidak tertular.


Photo by Maxime on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *