Ramadhan yang Berbeda

+1

Oleh: Etika Aisya Avicenna

Pada tiap rutinitas di hari kerja, sering terselip rasa ingin jeda sejenak, mengisi hari dengan nuansa berbeda. Ingin dua puluh empat jam di rumah selama sepekan, melakukan aneka pekerjaan rumah tangga dari dini hari hingga sang rembulan meninggi. Tak menyangka keinginan itu menjadi nyata. Meski dengan nuansa yang berbeda. Kepungan makhluk-Nya yang tak terlihat mata membuat kita lebih sering di rumah saja. Kebiasaan yang mengiringi rutinitas, yang berganti kebiasaan baru yang harus diatur dengan cerdas. 

Saya tak pernah menyangka ada kejadian luar biasa di awal 2020 lalu. Saya tak pernah menduga bahwa bisa merasakan kerja dari rumah. Saya pun tak pernah berpikir bahwa negeri tercinta ini akan terkena wabah Covid-19 hingga kita menikmati Ramadan dalam nuansa yang tak seperti biasanya.

Pada awal Ramadhan tahun 2020 lalu bahkan suami sempat ingin mencukur rambutnya seperti saat umrah pada Ramadhan 2017. Karena semua tempat cukur ditutup, akhirnya dia ridho plontos di tangan istrinya sendiri. Saya tak menyangka bisa jadi tukang cukur dadakan. 

Selain jadi tukang cukur dadakan, tiap hari kerja dari rumah, di Ramadhan tahun lalu saya juga lebih rajin masak untuk berbuka dan sahur. Biasanya jajan takjil maupun menu berbuka baik secara online maupun ke warung terdekat, tapi pada Ramadhan tahun lalu saya jadi sering di dapur untuk mempersiapkan buka dan sahur dengan hasil masakan sendiri. 

Tiap Jumat saya belanja lauk, sayur, dan buah dengan pemesanan lewat Whatsapp dan sebelumnya sudah transfer sejumlah uang ke penjual sayur yang sering keliling komplek. Saat  Ramadhan saya mengalokasikan waktu untuk masak sebisa mungkin nggak lebih dari 1 jam. Biar cepat, saya sudah menyiapkan bumbu putih, bumbu merah, dan bumbu hijau. Untuk bumbu kuning biasanya saya pakai bumbu putih ditambah kunyit bubuk/tumbuk. Bumbu halus ini habis sekitar 2-3 pekan, ada yang lebih juga tergantung masaknya apa dan seberapa banyak dipakainya. Saya juga sudah menyiapkan bawang merah dan bawang putih yang sudah dikupas dan dicuci. Jadi kalau mau bikin tumisan tinggal iris-iris saja. 

Suami berkata, “Didi nggak usah masak yang ribet-ribet ya. Buka puasa dengan air putih dan kurma saja sudah sangat mengenyangkan dan menyegarkan.” Pesan suami itu pula yang menjadi patokan saya dalam menyiapkan menu berbuka atau sahur sehingga tak sampai 1 jam kalau memasak agar waktu di dapur tidak terlalu lama juga, bisa dimanfaatkan untuk aktivitas lain. Dalam menyiapkan menu berbuka yang penting ada nasi, lauk, sayur, dan buah plus sambal untuk makan besar. Untuk sahur, apa yang akan dimasak saat sahur sudah saya siapkan sejak sore. Jadi waktu masak juga bisa dipangkas. Aktivitas di dapur saat Ramadhan bisa jadi tantangan tersendiri sehingga saat masak bisa sambil zikir, dengerin murottal, menyimak kajian online, dan lainnya. Biar aktivitas masaknya tetap bernilai lebih.

Alhamdulillah, pada Ramadhan di masa pandemi tahun lalu ada satu buku antologi saya yang terbit berjudul “Cerita dari Rumah”. Ada karya saudari kembar saya juga di buku tersebut. Dalam buku tersebut ada kisah sepasang dokter, seorang mantan perawat yang rekan sejawatnya meninggal karena Covid, ada cerita seorang ayah yang menuai hikmah sejak di rumah aja, ada tips untuk tetap produktif selama pandemi, ada kisah seorang mahasiswa, dan lainnya. Puluhan cerita seru, sedih, inspiratif, dan penuh hikmah dari para penulis  semoga menghadirkan rasa syukur, optimis, dan semangat dalam melewati pandemi ini.

Ramadan di masa pandemi tahun lalu, saat banyak bisnis turun drastis, saya  juga mengambil langkah yang cukup tiba-tiba, yakni berjualan mete Wonogiri secara online. Biasanya saya hanya jualan desk to desk di kantor, akhirnya mencoba jualan mete secara online. Alhamdulillah, tak disangka berhasil terjual melebihi target dengan omzet 8 digit. Banyak yang berpesan agar setelah lebaran tetap jualan juga.  Masya Allah… Sejak awal jualan mete tersebut saya niatkan profitnya sebagai THR juga untuk beberapa orang spesial. Bagi saya, THR bukan semata tentang untuk apa uang itu akan dihabiskan, tapi untuk siapa ia berlabuh pada yang membutuhkan. Semoga semua bermuara pada kebaikan. 

Salah satu yang bikin baper parah di Ramadhan tahun lalu adalah ketika tidak bisa mudik. Sebenarnya tahun lalu jatah mudik ke Lahat, kampung halaman suami. Akan tetapi, karena pandemi, tiket pesawat yang sudah saya beli akhirnya terpaksa dibatalkan. Berhubung tidak bisa mudik, akhirnya saat lebaran saya menyiapkan aneka hidangan lebaran yang biasa disajikan saat lebaran di Lahat. Rekor bagi saya bisa masak sebanyak itu. 

Ramadhan tahun ini ternyata suasananya tak jauh beda dengan Ramadhan tahun lalu karena pandemi masih ada di negeri ini. Hanya saja memang lebih longgar, seperti sudah diperbolehkan shalat di masjid, dan beberapa aktivitas sosial sudah diperbolehkan meski dengan pembatasan. Hanya saja mudik masih dilarang karena kasus Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah.

Tapi insya Allah, setiap kejadian pasti mengandung pelajaran. Pandemi Covid-19 ini bisa sebagai ujian agar senantiasa pantang menyerah dalam menghadapi tantangan, bisa sebagai teguran agar semakin sadar akan kesalahan dan segera bertobat memohon ampunan, serta bisa berbuah nikmat sehingga tetap harus bersyukur agar hanya pahala yang tercatat dan nikmat itu tambah berlipat-lipat. Semoga pandemi ini segera berlalu dan kondisi kembali normal serta lebih baik dan semoga setelah wabah ini berakhir, banyak kebiasaan baik yang akan lahir. 


Terlahir kembar pada 2 Februari. Saat ini berprofesi sebagai statistisi (ASN). Senang membaca, menulis, jualan online, dan jalan-jalan. Ada puluhan karya Anggota Forum Lingkar Pena DKI Jakarta ini yang sudah diterbitkan baik secara solo, duet bersama saudari kembarnya, maupun antologi, di antaranya: “OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses”, “The Secret of Shalihah”, “Diary Ramadhan : Mengetuk Pintu Ar-Rayyan”, “Pendamping di Dunia, Kekasih di Surga”, “Cerita dari Rumah”, dan lainnya. Meski seorang ASN, pemilik akun instagram @aisyaavicenna ini tetap semangat merangkai karya, agar kelak saat tiada tak hanya sekadar meninggalkan nama.


Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *