Ramadan dan Pandemi Sebuah Refleksi Diri

Oleh: Denik

Pandemi covid-19 yang melanda dunia dan juga Indonesia sungguh menyisakan duka berkepanjangan. Terpuruknya perekonomian menyebabkan  pengangguran di mana-mana. Para pelaku usaha banyak yang gulung tikar. Segala bentuk aktivitas dilakukan dari dalam rumah. Pemasukan yang tersendat bahkan terhenti sama sekali, berbalik seratus delapan puluh derajat dengan apa-apa yang mesti dikeluarkan.

Pandemi covid-19 menyebabkan pengeluaran membengkak. Sebab ada asupan vitamin dan obat-obatan yang wajib dibeli guna menjaga imun tubuh. Belum lagi dana untuk masker sebagai bagian dari protokol kesehatan. Dana untuk pembelian paket internet  guna menunjang proses belajar mengajar anak yang dilakukan secara online.

Bagi mereka yang termasuk golongan mapan saja merasa goyah. Apalagi bagi mereka yang baru merangkak. Ambruk iya. Itulah kenyataan yang terjadi dalam masyarakat. Was-was dan khawatir terhadap kehidupan yang dijalani. Terutama untuk ke depannya. Ditambah dengan datangnya bulan Ramadan. Yang mana pengeluaran lebih besar dari biasanya. Mereka yang tak memiliki penghasilan tetap, merasa gambling menghadapi pandemi dan bulan Ramadan. 

Hidup segan mati tak mau. Semacam itu.  Namun hidup terus berjalan. Meski terasa berat tapi harus dihadapi dan dijalani. Berdiam diri serta mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Bergerak. Terus bergerak. Itulah yang harus dilakukan. Soal hasilnya seperti apa. Serahkan kepada Tuhan. Dialah yang mengatur segala sesuatunya. 

Ya, Tuhanlah yang mengatur semua. Termasuk adanya pandemi. Kapan pandemi akan berakhir, Tuhan juga yang tahu. Kita hanya bisa menjalani semua dengan lapang hati. Berusaha dengan sebaik mungkin. Berdoa dengan segenap kemampuan serta keyakinan. Sebab tanpa keyakinan maka percuma saja doa-doa yang dipanjatkan.

Pandemi menjadi pengingat diri. Bahwa Tuhanlah penguasa atas segala sesuatunya. Kamu yang merasa berkuasa. Merasa hebat. Tak kuasa bukan menghadang pandemi covid-19 agar tidak masuk ke Indonesia? Tak mampu menghentikan pandemi dengan kekuasaan dan harta yang dimiliki. Maka jangan sombong. Jangan semena-mena. Diberi cobaan seperti ini saja sudah bingung.

Lalu bagi mereka yang sudah payah hidupnya. Merasa Tuhan tidak adil. Padahal jika mau direnungkan. Justru di sinilah Tuhan menunjukkan keadilannya. Mereka yang hidupnya mapan menjadi was-was atas masa depan. Bukankah itu yang dirasakan oleh mereka yang hidupnya pas-pasan. Setiap hari  merasa was-was akan hari esok. Dengan pandemi rasa was-was tersebut di dirasakan oleh semua.

Jika mereka mau merenung, berpikir dan introspeksi diri. Maka dengan ringan tangan membantu mereka yang kesusahan. Sebab hidup susah dan penuh ketidakpastian itu tidak enak. Empati. Rasa itu yang seharusnya muncul di hati mereka yang selama ini tenang-tenang saja. Merasa nyaman dengan hidupnya.

Bulan Ramadan momentum tepat untuk bergerak. Sebab setiap perbuatan akan dilipatgandakan pahalanya. Jangan lelah berdoa dan memohon kepada Sang Khalik. Yakinlah bahwa doa-doa yang kita panjatkan pasti dikabulkan. Bukankah Dia telah berjanji.

“Berdoalah kepadaKu. Niscaya akan Aku kabulkan.”

Ramadan dan pandemi sebuah refleksi diri bagi kita yang mau berpikir. (EP)



Photo by Emma Shulzhenko on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *