Pandemi dan Qadarullah

0

Oleh: Nanang FS

Tidak pernah sebelumnya kita membayangkan, keadaan yang serba dibatasi seperti sekarang ini. Tanpa terkecuali termasuk ritual ibadah sekalipun, harus patuh mengikuti anjuran pemerintah menjaga protokol Kesehatan. 

Ramadhan dan Lebaran tahun lalu, kita terpaksa lebih banyak melakukan aktifitas di rumah saja. Bahkan, dengan segala keterbatasan itu kita harus siap pula mengimami keluarga kita dalam menunaikan sholat Iedul Fitri. Tidak sedikit di antara kita yang kemudian tercerai berai dan tidak bisa bersilahturahmi dengan keluarga, karib kerabat, dan handai taulan. Social distancing istilahnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, demi kemaslahatan Bersama harus kita jalani. Semua itu qadarullah, kata ustadz.

Sebagai seorang muslim kita wajib meyakini bahwa, semua ketetapan Allah SWT pasti baik bagi kita. Ketetapan Allah SWT tersebut seringkali kita sebut sebagai qadarullah, yang artinya hukum, perintah, kehendak, atau ketetapan Allah SWT.

Dalam kurun dua tahun terakhir, berbagai peristiwa telah kita lewati. Pun, dalam Ramadhan kali ini kembali kita harus bersabar dan berikhtiar untuk tetap patuh menjalani protokol Kesehatan karena pandemic Covid 19 belum kunjung reda. Alih-alih berkurang, yang ada semakin kesini wabahnya semakin mengganas. Bahkan, beberapa negara pada gelombang kedua serangan Covid 19 ini, terpaksa melakukan lockdown. Apa sebab, apakah memang wabah ini sulit diatasi, atau belum ada solusi yang benar-benar mumpuni untuk melawan atau menghentikannya?

Ada beberapa sikap yang mestinya dapat dan patut kita lakukan sebagai seorang muslim. Selain soal disiplin dan kepatuhan kita terhadap protokol Kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, disiplin pribadi dalam menghadapi situasi dan kondisi akibat wabah ini pun harus bersandar kepada keyakinan akan qadarullah tadi.

Nah, ada berbagai cara untuk melawan dan menghentikan penyebaran virus ini diantaranya dengan berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana tertulis dalam firmanNya: “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10) 

Ikhtiar yang sungguh-sungguh penting, tapi keyakinan dan prasangka baik kepada Allah SWT atas semua kejadian juga harus kita tanamkan dalam diri kita. Senada dengan ayat di atas, seperti disebutkan dalam Hadits Qudsi : “Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku, karenanya hendaklah ia berprasangka semaunya kepada-Ku.”

Pada hadits berikut, Rasulullah SAW memberikan motivasi dan rasa optimisme kepada umatnya bahwa,”Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wa Jalla.” (HR. Muslim). 

Jadi sangat jelas anjuran bagi seorang muslim dalam bersikap menghadapi pandemi Covid 19 ini. 

Ramadhan kali ini pun, meski pemerintah telah melakukan relaksasi terhadap aturan sholat berjamaah bukan berarti ancaman virus covid 19 dapat diabaikan begitu saja. Terbukti, pasca vaksinasi dan dibukanya berbagai kemudahan dalam beraktifitas secara masal walau disebutkan tetap dalam prokes yang ketat, statistik sebaran virus kembali menanjak.

Maka, sudah sepatutnyalah kita kembali memaknai Ramadhan kali ini selain bulan penuh ampunan, pastinya dalam setiap aktifitas kita harus tetap kuat menahan hawa nafsu sebagai esensi dari puasa yang kita lakukan. Keistimewaan puasa Ramadhan ini adalah karena ibadah kita langsung untuk Allah SWT. Ibadah puasa kali ini harus mampu mengembalikan sifat-sifat kemanusiaan kita sebagai seorang muslim untuk selalu berada di arah yang benar, mampu berinteraksi dan saling mengevaluasi kesadaran sosial kita.

Jadi, Ramadhan dan pandemi covid 19 ini adalah hikmah yang patut kita syukuri karena semua yang datang dari Allah SWT pasti baik untuk kita.


Photo by Azzedine Rouichi on Unsplash

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *