Doa, Senjata Seorang Muslim

+3

Oleh Rakhmat Wahyudi

Menurutku, bulan Ramadhan merupakan bulan rahmat, ampunan, dan perjuangan. Setiap amal kebaikan yang kita lakukan akan dibalas pahala yang berlipat ganda oleh Allah, itulah rahmat. Dosa dan khilaf yang pernah kita lakukan akan Allah hapuskan, itulah ampunan. Rasa haus, lapar dan hawa nafsu yang harus kita tahan sejak adzan shubuh hingga berkumandang adzan maghrib, itulah perjuangan. 

Begitu banyak kemurahan yang Allah berikan di bulan Ramadhan, namun diriku di waktu kecil belum dapat menjalankan ibadah dengan baik. Ramadhan ku tempo doeloe berlalu begitu saja hingga di suatu Ramadhan terjadi hal konyol, raibnya uang lebaran.

Pengalaman di masa kecil menjadi pelajaran berharga bagiku untuk menjalani Ramadhan kini. Harapku, Ramadhan bisa menjadi ajang untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Hingga kelak menjadi kebiasan di luar bulan Ramadhan untuk tetap giat beribadah.

Kini, sudah masuk bulan Ramadhan 1442 H, terpaut jauh dari jaman Nabi Muhammad S.A.W. Kalau kita mengenang, ternyata banyak peristitiwa besar yang pernah terjadi di bulan Ramadhan. Antara lain, Nuzulul Quran, Perang Badar, bahkan kemerdekaan Indonesia terjadi di bulan Ramadhan.

Salah satu peristiwa di bulan Ramadhan yang menunjukkan besarnya kuasa Allah dan dahsyatnya kekuatan doa adalah perang Badar. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Perang ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi di kota Badar, sebuah tempat yang sering menjadi pemberhentian para musafir yang sedang melakukan perjalanan dari kota Makkah ke Madinah.

Perang Badar juga menjadi peperangan pertama umat muslim melawan pasukan kafir Quraisy setelah peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah. Perang ini membuat banyak kalangan heran karena pasukan muslim yang hanya berjumlah sekitar 300 orang lebih mampu mengalahkan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah sekitar 1.000 orang lebih. Mengejutkannya, ratusan pasukan muslim tersebut justru mampu mengalahkan ribuan pasukan kafir Quraisy. Kemenangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari pertolongan Allah berkat doa Nabi Muhammad S.A.W.

Saat perang itu terjadi Rasulullah berdoa:

Allahumma anjis lii maa wa’adtani, Allahumma aati maa wa’adtani, Allahumma in tuhlik haadzihil ‘ishoobah min ahlil islaam laa tu’bad fil ardhi.

Artinya: “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Doa yang Nabi Muhammad S.A.W panjatkan kepada Allah menunjukkan bahwasannya manusia adalah makhluk yang dhoif (lemah), tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah. Doa merupakan komunikasi antara hamba dan Allah, bahkan Allah senang bila hamba Nya berdoa. Demikianlah rahasia doa yang terbukti mampu menjadi senjata ampuh dalam suatu kesempitan. Semoga kita mendapat hikmah dan pelajaran.


Photo by Visual Karsa on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *