Definisi Terisolasi yang Sebenarnya

Oleh Delfitria

Pandemi mengajarkan kita banyak hal, salah satunya tentang kondisi terisolasi. Isolasi menurut KBBI adalah pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia lain atau dalam kata lain yaitu pengasingan, pemencilan, dan pengucilan. Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan jika isolasi bukanlah keinginan setiap manusia.

Manusia yang tabiatnya adalah makhluk sosial sehingga kebutuhan akan berhubungan dengan orang lain menjadi sangat penting. Kondisi ini hampir-hampir membuat kita sulit memenuhi kebutuhan mengenai hubungan tersebut. Kondisi inilah yang akhirnya melahirkan banyak krisis. Lalu, apa yang terjadi ketika ramadhan datang bersama pandemi? Apakah semakin bertambah krisis atau justru kita jadi sibuk melakukan refleksi terhadap keterasingan yang terjadi?

Ingatan kita masih kuat untuk menyetel bagaimana Ramadhan tahun lalu berjalan dengan kondisi terisolasi. Tanpa tarawih di masjid, tanpa buka puasa bersama hingga tanpa shalat ied berjamaah. Kondisi ini akhirnya menyebabkan banyak manusia yang merasa ‘kekurangan’. Menariknya, tidak semua larut dalam jurang kesedihan karena isolasi. Masih banyak yang justru memanfaat waktu Ramadhannya khusus untuk keluarga dan dirinya sendiri.

Keluarga banyak menyadarkan aku bahwa selama ini kondisi ibadahku dalam keadaan ‘terisolasi’. Jika aku ingat masa-masa sebelum pandemic, hampir-hampir waktuku lebih banyak habis dengan pertemuan organisasi, komunitas, bukber kelas, dan lain-lainnya. Bertemu keluarga biasanya saat sahur. Setelah sahur, tidur hingga waktu yang terkadang sulit ditentukan. Setelah bangun siap-siap bukber hingga malam. Dilanjut tarawih lalu tidur untuk mengulang siklus selanjutnya. Aku ‘terisolasi’ dari keluargaku. Aku ‘diasingkan’ oleh jadwal-jadwal ‘sibuk’ saat ramadhanku.

Bagiku, kondisi isolasi tidak hanya keadaan dalam pemisahan secara fisik, namun juga psikologis. Kita ‘terpisahkan’ oleh perasaan terisolasi yang disebabkan karena jadwal-jawal rutin Ramadhan yang telah membudaya. Ironisnya lagi, pertemuan dengan keluarga tak lagi dimaknai secara progresif, melainkan memandangnya hanya sebagai formalitas. Ini benar-benar menjadi refleksi bagiku yang waktunya masih banyak disibukkan dengan diri sendiri dan hal-hal di luar keluarga. Padahal, aku ingat sekali sebuah hadist  mengenai Malam Lailatul Qadr yang baru saja ku dengar hari ini, Ia berbunyi:

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).

Melihat poin ketiga ini, Rasulullah mengajak kita untuk membangunkan keluarga untuk ibadah. ‘keluarga’ jelas sekali yang dimaksud adalah orang yang sedang berada dalam satu rumah bersama kita. Kini, aku semakin yakin bahwa ada ruang isolasi yang perlu ku buka. Ruang isolasi yang selama ini tidak ku sadari telah terjadi bertahun-tahun. Perlu pandemic dulu agar aku sadar bahwa selama aku mengasingkan diri dalam keluaga.

Barangkali ini terdengar begitu ‘keras’ meskipun terasa tepat bagi mereka yang sering berkonflik dengan keluarga. Aku mulai sadar bahwa banyak sekali hal-hal di keluarga yang baru ku kenal. Padahal sudah 23 tahun berada di rumah yang sama. Ramadhan selama pandemic justru membuat aku dan keluarga saling mengenal satu sama lain. Aku melihat bagaimana Ayah dan Ibu di saat lembut dan marah. Aku melihat adik yang sabar dan tidak sabar saat dibangunkan sahur. Aku benar-benar menyaksikannya dengan sadar, tanpa terbebani jadwal-jadwal rutinitas seperti saat sebelum pandemic.


Photo by David Clarke on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *