Rezeki Ramadan yang Diluluhlantakkan Pandemi

Oleh: Ainag Inairah

Bahwa pandemi akibat Covid-19 meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian, semua pasti tahu. Tulang punggung keluarga dipatahkan, tangan dan kaki pejuang nafkah diamputasi, pintu-pintu rezeki ditutup, bahkan jalan masuknya terpalang rapat-rapat. Itulah penggambaran dahsyatnya dampak pandemi pada kehidupan sebagian besar masyarakat.

Kedatangan ramadan selalu dinanti suka cita setiap tahun, termasuk oleh para pengusaha. Tak terkecuali ramadan tahun 2020, saat pandemi telah berlangsung selama tiga bulan. Semua orang masih berharap pada naiknya angka-angka belanja, melonjaknya kebutuhan terutama bahan pokok dan pelengkapnya seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagai bagian dari keberkahan ramadan.

Endah adalah seorang perempuan di usia menjelang 40 tahun dengan empat orang anak usia sekolah. Suaminya, Didik, bekerja serabutan, sesekali ngojek, sesekali nukang jika ada yang mengajaknya, atau berjualan apapun yang bisa dijual. Sang istri yang sebenarnya menjadi penggerak utama perusahaan keluarga.

Yang disebut perusahaan ini berjualan aneka komoditi dengan harga tak lebih dari lima puluh ribu setiap item. Penjualannya dengan sistem pre order, karena mereka tak punya lapak, kios, apalagi toko. 

Ya makanan matang, ya baju serta barang fashion lainnya, ya bahan pokok, ya perlengkapan rumah tangga. Semua produk diperolehnya dari beberapa suplier barang murah, dengan pangsa pasar menengah ke bawah.

Omsetnya saat laris paling besar 400 ribu per hari, keuntungannya hanya 30-100 ribu rupiah. Tapi tidak setiap hari dagangannya laku. Suaminya, malah tak tiap bulan dipekerjakan jasanya oleh orang lain, sehingga pilihan terbaik adalah membantu usaha dagang sang istri.

Seperti pedagang lain, Endah berharap ramadan membuka kesempatan pada mereka untuk mengisi dompetnya yang lebih sering kempis dua bulan terakhir. Biasanya pesanan makanan matang untuk berbuka, kue-kue sajian lebaran, baju, atau perlengkapan rumah akan membludak. 

“Kang, nanti Sampean ambil dagangan ke Mbak Sri sekalian mampir ke tokonya Pak Pujo, ya. Pastikan kita dapat stok baru, tapi Sampean tawar lagi harganya lho, Kang. Kita kan jadi resellernya sudah berapa tahun,” ucapnya penuh keyakinan pada sang suami menjelang hari pertama puasa.

Suaminya mengangguk. Ia sedang menahan diri untuk tidak menambah nasi di piringnya, karena beras yang tersedia hari itu sudah menipis. Tak tega melihat keempat anaknya yang tengah lahap menandaskan nasi berlauk tempe bacem dan sayur bening di hadapannya.

Ternyata sampai minggu kedua ramadan, dompet mereka tak kunjung menebal.

“Buk, apa ndak jualan masker saja? Kemarin  Kang Rohim nawarin. Tapi aku masih ragu karena Sampean kan belum pernah jualan masker. Kata Kang Rohim, dia juga bikin pembersih tangan itu lho, apa ya, susah nyebut namanya,”

ucap suami sambil menatap wajah lesu sang istri yang tengah menghitung-hitung uang yang terkumpul hari itu.

Ia bingung, bagaimana menyediakan ponsel untuk keempat anaknya yang masih sekolah. Sekolahnya berpindah ke rumah, School From Home, dan untuk itu dibutuhkan gadget tak cukup satu. Sedang di rumah itu hanya ada satu ponsel yang sudah megap-megap, dan lebih sering dipakai untuk menerima pesanan pelanggan yang memesan secara online.

Akhirnya Endah berhasil diyakinkan oleh sang suami untuk beralih komoditi. Terlebih setelah mendengar komentar seorang pelanggan, yang tiba-tiba menanyakan apakah ia juga menjual masker dan hand sanitizer, dan bukannya membeli kue kering khas lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Jaman krisis begini yang dibutuhkan inovasi, Bu, termasuk jualan kita.”

Suaminya tak luput dari semangat. Ia merasa pandemi ini membuka jalan bagi laki-laki pemimpin keluarga ini untuk membuktikan kegagahannya. Dari mandor yang biasa mempekerjakan, ia mendapat tawaran supply perlengkapan penerapan protokol kesehatan.

“Semua bangunan mandek, ngga lanjut, Dik. Harus pinter-pinter putar modal untuk jualan yang lagi dicari orang.” Demikian Rohim, mandornya berkata.

Wajah Didik semringah. Jualan masker dari bahan kain yang beraneka warna dan corak, serta hand sanitizer (HS) olahan industri rumah tangga dari bahan-bahan kimia, laris manis. 

Begitu kewalahan melayani permintaan, ia sampai berburu pemasok yang lain. Semua stoknya pun segera ludes dalam waktu singkat, sampai pelanggan memaksa inden.

Belum dua bulan, pasar masker mulai goyah. Tersebar informasi bahwa masker yang harus digunakan adalah masker dengan lapisan dan bahan tertentu, bukan dengan bahan dan bentuk seperti yang dijual Endah dan Didik selama ini. 

Ditambah lagi beredar kabar bahwa pembersih tangan yang diracik seperti yang mereka jual mengandung bahan berbahaya. Hingga masyarakat beralih mencari hand sanitizer produksi pabrikan resmi.

Endah memandang lesu ke arah tumpukan masker scuba yang tersisa serta botol-botol HS racikan, yang terlanjur menghabiskan modalnya. Suaminya pura-pura tak melihat, sibuk membantu dua anak terkecilnya mengerjakan tugas sekolah.

Ponsel baru yang layak untuk menunjang belajar anak-anak belum terbeli. Berasnya kembali pas-pasan. Boro-boro baju baru untuk lebaran.

Sebenarnya Endah punya keahlian lain, selain berdagang. Ia menawarkan jasa memijat khusus untuk wanita dan anak-anak. Tarifnya paling mahal delapan puluh ribu per 1,5 jam. Hari libur atau akhir pekan adalah saat-saat jasanya laris diburu orang, hingga antrian kadang harus mengalah ganti hari.

Tapi begitu pandemi, sampai berminggu-minggu tak ada yang menghubungi nomornya untuk minta dipijat.

“Orang-orang kan takut, Ndah, memasukkan orang ke rumahnya. Takut kalau orang itu bawa-bawa covid terus nulari!” seloroh Mak Sarmi, tetangga dekatnya yang juga buka jasa pijat di rumahnya sendiri, bukan menawarkan home treatment seperti Endah.

Nasib bisnis Mak Sarmi tak beda jauh dengannya. Sudah sebulan tak ada yang datang minta dipijat. Hingga Mak Sarmi hanya bisa menggantungkan hidup pada anak-anaknya.

“Ndah, coba tawarkan terus jasa pijatmu, iklanin yang rajin kayak dulu,” seorang tetangganya mencoba memberi saran, “Yang penting pakai masker, bersihkan tangan sering-sering, langsung cuci baju sampai rumah.”

Endah masih menatap sang tetangga dengan pandangan buram.

“Orang-orang sudah capek hidup ketakutan dan kerja lebih keras karena pandemi. Mereka pasti butuh relaksasi, Ndah,” lanjutnya dalam bahasa Jawa, seolah tahu yang dipikirkan Endah.

Endah pun menurut. Ternyata membuka lagi jasa pijatnya, juga membuka pintu-pintu rezeki yang lain. Ia disiplin menerapkan protokol kesehatan, dan memastikan pelanggan yang akan menggunakan jasanya juga dalam kondisi sehat dan taat prokes.

Dari pelanggan lama pijatnya, Endah mendapat tawaran menjadi reseller produk-produk yang dicari masyarakat tanpa modal. Tentu kali ini yang sesuai standar kesehatan yang ditetapkan serta memiliki ijin resmi dari lembaga berwenang.

Aku, sebagai salah satu pelanggan yang merasa pijitan mba Endah enak banget bikin merem melek, memasukkannya ke komunitas-komunitas jual beli yang selalu ramai pembeli. Kuajari pula ia berjualan melalui medsos dan marketplace, setelah membuka akun terlebih dahulu.

Jualannya kembali laris, hingga beras dan lauk tak lagi menipis dan dompet tak benar-benar kempis. Bahkan salah seorang pelanggan memberikan bantuan modal, yang bebas ia kembalikan kapanpun ia bisa.

“Alhamdulillah, ya Kang. Dari salah satu pelanggan setiaku, akhirnya kita dapat donasi HP untuk sekolah anak-anak,” ucapnya lirih pada sang suami selepas shalat maghrib berjamaah. 

Sang suami tersenyum lebar, tapi buru-buru ditutup lagi mulutnya. Lupa kalau ia sedang mengunyah sepiring penuh nasi dengan sayur bobor, gurami bakar, sambal pencit, terong, oseng tahu tempe, kerupuk, yang semua kesukaannya.

Buka puasa hari ini dirasa sebagai buka puasa terbaik tahun ini. Semangkuk besar es blewah telah ditandaskan duluan oleh anak-anak selepas azan maghrib tadi. 

Tenggorokannya tak lagi kering, dadanya tak lagi nyeri.


Photo by Jan Tinneberg on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *