Suasana yang Dirindukan

+4

Oleh : Lina Mustika

Pandemi Covid-19 mulai menyerang di tanah air pada tahun 2020. Memasuki bulan April tahun 2020, seluruh kegiatan belajar mengajar dihentikan secara total, aktivitas perkantoran juga dilakukan secara WFH (work from home), pabrik pabrik berhenti produksi, transportasi transportasi otomatis sepi karena semua masyarakat diharapkan untuk tinggal di rumah saja.

Berjemur sinar matahari pagi menjadi kebiasaan baru di masyarakat. Memakai masker apabila keluar rumahpun sudah menjadi keharusan. Serta mencuci tangan dengan sabun menjadi rutinitas sehari hari kami. Itu semua untuk menjaga menyebarnya virus corona di masyarakat.

Panic buying melanda masyarakat yang kebetulan mempunyai simpanan uang. Di pusat-pusat perbelanjaan, mini market – mini market dipenuhi masyarakat yang memborong bermacam macam kebutuhan pokok. Sehingga menyebabkan naiknya harga harga dan kelangkaan barang barang pokok. Sebagai contoh kelangkaan gula pasir sehingga menyebabkan naiknya harga gula pasir di pasaran. Berbagai vitamin terutama vitamin C dan E terjadi kekosongan di toko toko obat maupun di apotek. Jikalau ada, harganyapun sudah mahal. Selain itu alat alat kesehatan seperti masker tidak luput dari incaran serbuan masyarakat.

Perekonomian pada saat itu sangat terpuruk, gelombang PHKpun terjadi di mana mana. Kesulitan ekonomi di masyarakatpun dialami oleh seluruh rakyat. Semua pasrah akan keadaan, karena tidak bisa berbuat banyak untuk berusaha keluar dari keterpurukan. Karena semua orang berdiam diri di rumah.

Begitupun ketika memasuki bulan Ramadhan, keadaan belum banyak berubah, masih dalam situasi pandemi. Dimana orang masih harus berdiam diri di rumah “’stay at home”’. Masjid masjid yang biasanya rame untuk ibadah di bulan Ramadhan, kali ini sepi. Tak boleh orang untuk berkumpul – kumpul.

Ramadhan di th 2020 yang lalu merupakan Ramadhan  pertama dalam suasana pandemic yang saya alami. Semua aktivitas keagamaan hanya bisa dilakukan dari rumah. Tetapi banyak sisi positifnya juga selama masa pandemic kita bisa berkumpul, bercanda, dengan keluarga setiap hari. Yang mana situasi berkumpul dengan keluarga biasanya hanya terjadi pada waktu waktu tertentu saja. Kehangatan dan kebersamaan dalam sebuah keluarga sangat terasa sekali, mulai dari sholat wajib berjamaah, memasak bersama untuk menyiapkan makanan berbuka dan sahur, mengaji bersama. Kehangatan tersebut suatu saat akan menjadi cerita tersendiri dan akan sangat dirindukan.

Di masa stay at home, saya harus bisa mengatur keuangan supaya bisa bertahan di saat saat dan situasi pandemic. Mulai dari menghemat pengeluaran berbelanja bahan makanan,dan lain lain. Kamipun hanya bisa memakai masker dari kain, yang harganya terjangkau, karena masker medis harganya sudah melambung tinggi. Dan masker medis pada waktu itupun mengalami kelangkaan, sehingga pemakaian masker medis diutamakan untuk tenaga medis dahulu, yang merupakan garda terdepan dalam penanganan pasien pasien yang terkena covid 19.

Sampai sekarang di bulan april tahun 2021, masa pandemic belum berakhir juga. Kita harus patuh pada protocol kesehatan, supaya kita terhindar dari covid itu sendiri. Saya hanya bisa berdoa supaya pandemic ini cepat berakhir. Saya merindukan suasana rame orang beribadah di masjid masjid. Saya merindukan saat saat kesibukan di pagi hari menyiapkan sarapan pagi buat anak anak berangkat ke sekolah. Suasana yang dirindukan.


Penulis adalah Lina Mustikawati,Merupakan seorang Fisioterapi, yang lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Sekarang penulis tinggal di Bogor, Jawa Barat. Fb,Lina Mustika,Ig,@lina.mustika.store.


Photo by Ifrah Akhter on Unsplash

+4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *