Hikmah Pandemi di Bulan Ramadhan

+2

Oleh: Arya Noor Amarsyah

Masih segar dalam ingatan datangnya tamu tak diundang, datangnya pandemi Covid 19. Banyak karyawan di rumahkan. Ada yang dirumahkan dalam arti bekerja di rumah (Work From Home/WFH). Banyak pula yang benar-benar dirumahkan alias di PE-HA-KA. Termasuk di kantor tempat saya bekerja. Alhamdulillah saya termasuk yang masih bekerja; bekerja dari rumah.

WFH adalah dampak dari pandemi ini. Sebagai upaya menerapkan salah satu protokol kesehatan; hindari kerumunan.

Ini juga berdampak pada aktivitas sholat berjamaah di masjid. Termasuk sholat Tarawih di bulan Ramadhan. Ya, sejak setahun lalu sholat Tarawih ditunaikan di rumah. Saya, ibu, istri dan ART. 

Saya tipe orang yang tidak begitu rajin sholat Tarawih. Dalam bulan Ramadhan, sepertinya hampir tidak pernah penuh sholat sunnah ini, kecuali waktu kecil. Entah mengapa. 

Sementara ibu, tipe orang yang tidak ingin meninggalkan sehari pun sholat Tarawih. Kapan lagi, mumpung bulan Ramadhan, begitu katanya.

Nah, sejak pandemi, kami sholat Tarawih di rumah. Ibu tidak ingin sholat sendirian, ‘terpaksa’ saya pun meng-imaminya. Mau tidak mau ikuti keinginannya. Alhamdulillah tahun lalu bukan saja puasa yang full, tapi tarawih juga tidak ada yang ‘kalah’.

Ibu juga benar-benar memanfaatkan momen Ramadhan ini. Ramadhan yang sudah-sudah, beliau alhamdulillah mampu khatam Al-Quran sekali. Sementara saya jarang khatam, walau di bulan Ramadhan. Biasanya sering kali ketinggalan. Ibu sudah juz 9, saya baru juz 7, misalnya.

Akan tetapi setahun yang lalu, saya coba naikkan target membaca Al-Quran, menjadi dua kali khatam. Ternyata menaikkan target, efeknya luar biasa. Jika target rendah, terkesan meremehkan. Sementara ketika target tinggi, saya benar-benar mulai mengatur waktu. 

Satu juz sama dengan dua puluh halaman. Jika membacanya usai tunaikan sholat fardhu, maka kudu membaca 4 halaman. Sehingga selepas Isya, selesailah satu juz. Penghitungan ini mudah, tapi penerapannya jarang berhasil.

Alhamdulillah begitu target dinaikkan jadi dua juz perhari, berbeda kondisinya. Mulai belajar, mulai menentukan target minimal membaca Al-Quran di pagi hari. Saya jadi paham pada diri ini. Bila mengejar target baca Al-Quran di saat Maghrib dan Isya, badan sepertinya sudah sulit untuk diajak ‘berjuang’. Maunya istirahat dan santai.

Oleh karenanya, target minimal di pagi hari ditingkatkan jadi dua kali lipat. Seharusnya minimal di pagi hari delapan halaman, maka dilipat gandakan jadi enam belas halaman. Karena enam belas halaman, sudah mendekati satu juz, maka terkadang digenapkan saja jadi dua puluh halaman alias satu juz. Yang penting target harus sudah selesai sebelum Maghrib. 

Alhamdulillah di tahun lalu, di saat Pandemi, target dua juz perhari tercapai, sehingga bisa dua kali khatam di tahun lalu. Semoga di tahun ini pun dapat dua kali khatam. Aamiin.       

#RamadhanWritingChallenge 

#RamadhanBersamaBooks4Care

#RamadhanProduktif


Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *