Bonding Ramadhan

+1

Oleh: Cicih M Rubii

Maret 2020, merupakan bulan pertama ketika kami dikagetkan dengan keputusan pemerintah untuk pembelajaran dari rumah selama 2 minggu. Tanpa persiapan dan perpisahan, anak-anak meninggalkan kelasnya begitu saja. Begitu juga dengan anakku yang kuliah di luar kota, segera pulang dan berkumpul di rumah.

Tak pernah ada yang mengira, ternyata tak cukup sampai di situ. Dua minggu kemudian fakta lain membuat sudut hati terluka, ketika akhirnya pemerintah mengumumkan perpanjangan sekolah dari rumah. Sebagai guru, hati kami gulana terpisah jarak dengan para murid. Ruang-ruang kelas yang sepi dengan bangku-bangku kosong yang berderet membuat hati kami berdesir dan nyeri. Kami rindu celotehan dan keceriaan mereka. Rindu kebersamaan yang selama ini terbingkai sempurna dalam keseharian kami yang padat.

Pertengahan April 2020, awal bulan Ramadhan yang kami harap sudah ada perubahan kembali ke kehidupan normal tanpa Covid-19. Tetapi kondisi pandemi ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, meskipun sudah memasuki bulan puasa. Suasana yang tak biasa tergambar jelas dalam hari-hari kami.

“Marhaban ya Ramadhan. Covid-19 pergilah,” harap kami yang terabadikan dalam berbagai status media sosial, menguatkan doa-doa yang kami panjatkan di sujud panjang kami. Berharap mimpi buruk ini segera berakhir, dan semesta menjadi kembali berwarna.

Hingga Ramadhan benar-benar tiba, susana pandemi semakin mencekam. Zona merah di berbagai daerah membuat masyarakat ketakutan, bahkan untuk melaksanakan salat tarawih di masjid. Baru di tahun ini pula, kebudayaan buka bersama menjadi kegiatan yang dianggap salah, karena bertentangan dengan slogan ‘Di Rumah Saja” atau “Stay at Home” yang digaungkan pemerintah. Jika tak ada keperluan mendesak, sebaiknya tidak keluar rumah. Jaga protokol kesehatan dengan sangat ketat yaitu menjaga jarak, gunakan masker, dan rajin mencuci tangan dengan sabun.

Seminggu lagi hilal Idul Fitri dipastikan muncul, tetapi ternyata status jumlah penderita Covid-19 bahkan menguat. Setiap hari pemerintah mengumumkan jumlah penderita yang terpapar virus, membuat merinding dan hati ketar-ketir.

Sejak jauh-jauh hari pemerintah mengumumkan larangan mudik. Jadwal mudik yang sudah digadang-gadang oleh para perantau sejak beberapa bulan lalu harus kandas. Impian mereka untuk berkumpul keluarga, Ibu, Bapak, juga saudara di kampung harus ditekan kuat-kuat. Keinginan hati untuk sholat ied di tempat kelahiran dan berbagi sedekah melalui uang THR hanyalah bayangan semata.

Meski demikian, beberapa pihak dengan berbagai alasan masing-masing ada saja yang melanggar larangan mudik tersebut. Ada yang mudik secara sembunyi-sembunyi, tetapi ternyata ditolak masyarakat di tempat tujuan dan akhirnya harus isolasi mandiri selama 14 hari di luar desa. Bahkan ada yang mudik dengan cara-cara tak biasa, bersembunyi di kandang hewan yang mau dikirim ke luar kota. Banyak kisah baru yang mencengangkan, yang tak pernah dialami dalam sejarah sebelumnya.

“Ibu, mohon maaf kita sholat ied di rumah saja ya sekeluarga” bujuk kami menjelang lebaran. Ibu hanya terdiam dengan wajah gamang. Tampak jelas hatinya bimbang. Berkecamuk berbagai perasaan yang ditahannya dalam hati. Kami tahu, ibu ingin protes dan berontak, tapi kondisi tak berpihak.

“Bukankah Corona hanya ada di Jakarta? Di desa kita mana ada?” perlahan suara ibu mempertanyakan pilihan tersebut. Matanya berkaca-kaca, sekuat tenaga menahan butiran air mata yang akan jatuh di pipinya yang keriput. Termasuk absennya gadis bungsu yang disayanginya karena terhalang aturan mudik dari Jakarta, memperberat suasana hatinya yang redup.

“Tapi Bu, kita tidak tahu apakah semua jamaah yang solat di masjid bukan berasal dari kota. Siapa tahu ada yang lolos mudik dari Jakarta dan ikut solat di mesjid. Kemungkinan mereka terpapar virus dan membawa serta dalam tubuhnya akan membahayakan kita orang-orang desa” ucap kakak mencoba menjelaskan.

Ibu tak bergeming, wajahnya terpekur membayangkan suasana lebaran yang aneh, yang tak pernah terjadi seumur hidupnya.

***

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan kedua dalam masa pandemi. Jumlah penderita Corona masih banyak, OTG (Orang Tanpa Gejala) bisa jadi berkeliaran di mana-mana. Tetapi susana kini sudah tidak semencekam tahun lalu. Masyarakat sebagian sudah melaksanakan vaksin 2 kali, dan sebagian besar sudah memahami pentingnya saling menjaga protokol kesehatan. Meskipun tak bisa kita pungkiri jika berkunjung ke pelosok-pelosok kampung sebagian besar masyarakatnya sudah tak mau lagi peduli protokol kesehatan. Bagi mereka Covid-19 tidak akan ada di daerah mereka. Covid-19 hanya isapan jempol semata, hanya dongeng yang sengaja dihembus-hembuskan oleh sekelompok tertentu yang berkepentingan.

Ramadhan kini, kajian-kajian kembali dibuka, meskipun masih banyak juga yang melakukan secara virtual. Barisan shaf-shaf solat tarawih kembali penuh. Masjid-masjid ramai kembali dengan suara tadarus. Berkumpul di luar rumah seperti buka bersama kembali menjamur terutama di 14 hari terakhir puasa. Mall, pasar, dan toko ramai dikunjungi untuk membeli keperluan lebaran.

Di samping banyak hal yang tak diharapkan akibat pandemi, namun ada juga hal yang membahagiakan bagi keluarga kecil kami. Salahsatunya moment ramadhan saat pandemi adalah bisa melaksanakan kegiatan puasa bersama-sama di rumah dengan formasi lengkap. Sesuatu yang sudah lama tak bisa dilaksanakan dalam kondisi normal tanpa pandemi. Karena kondisi semua WFH (Work From Home) atau belajar dalam jaringan, maka anak-anak yang seharusnya kuliah di luar kota bisa berpuasa di rumah bersama keluarga.

“Aku senang sekali Ramadhan sekarang, apalagi saat buka puasa dan sahur. Karena kita bisa kumpul bersama-sama.” celoteh Alitha si bungsu dengan matanya yang berbinar-binar ceria.

“Iya nak, dalam setiap kondisi pasti ada hal yang bisa kita syukuri. Sebaiknya kita bisa menerima semua keadaan ini dengan hati ikhlas, penuh rasa syukur, dan menjauhi keluh kesah” sahutku sambil memeluknya. Kurapikan maskernya yang bergambar lucu agar menutup hidung dan mulutnya sempurna.

Entah sampai kapan masker ini masih menutupi wajah-wajah kami. Entah sampai kapan gadget menguasai hari-hari kami agar terhubung dengan orang lain. Dan entah kapan kelas-kelas yang kosong dan sepi akan ceria kembali penuh tawa anak-anak yang berkejaran. Doa tak putus, semoga kondisi ini segera membaik. 


Penulis adalah guru SDIT Raudhatul Jannah di Cilegon. Pembelajar tahap awal dalam kepenulisan. Terbuka untuk bersahabat dalam media sosial Facebook dan Instagram, Cicih Mulyaningsih.Semangat dan sehat, sahabat!


Photo by Daiga Ellaby on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *