Tidak Ada Misi Abadi Di Bumi: Surga Tempat Istirahat Patriot Kami

+2

Oleh Lisvy nael

Empat hari ke belakang, saya berpikir keras, “Apa kisah penuh hikmah yang bisa kubagikan untuk tema Doa atau Keajaiban saat Ramadhan?” pertanyaan lainnya, “Hm … adakah momen-momen yang sangat mendalam selama hampir 30 kali ramdhan?” 

Dalam banyak kesempatan, saya benar-benar menyeriusi urusan mengingat-nginat ini. Sebisanya memanggil memori ramadhan-ramadhan yang lampau. Bahkan, kalau cuma sedikit saja, itu akan sangat membantu penulisan tema ke tiga challenge ini. Oh ya, TMI saya jadi tau kalau saya ternyata lahir pada bulan ramadhan.

Hm … ternyata, pekerjaan mengingat hal yang terjadi kemarin pun bukan hal mudah lagi buatku. Apalagi perkara yang terjadi tahun-tahun lalu. Namun, saat salat isya tadi, pikiran saya dikacaukan dengan perasaan yang sangat subtil: kematian. Ah, jangan kira iman saya cukup wah bisa membayangkan kematian saat salat. Justru pertanyakan salat saya yang tak khusyu itu.

Abaikan, bukan tentang salatnya yang ingin saya bahas. Jadi, di luar berbagai perbedaan yang berhasil disatukan Pancasila kita, sejak Rabu (21/4), Bangsa Indonesia disatukan dalam doa yang sama: semoga KRI Nanggala-402 dapat ditemukan dan seluruh awaknya selamat sampai di permukaan. 

Lantas, doanya pun berubah sejak diumumkannya senjata Baladewa itu subsunk pada Sabtu (24/4), “Semoga seluruh awak yang berada dalam misi abadi itu kembali di sisi Tuhan dalam damai.” Beragam cara masyarakat kita mengekspresikan kedukaan dan kesedihan akan kehilangan ini.

Puisi, quotes, hingga riasan wajah menjadi media baru menunjukan belasungkawa. Belum lagi lukisan, ilustrasi, dan foto-foto yang disunting melayang di antara kapas-kapas awan berwarna jambu dan jingga. Beberapa diantaranya menempatkan KRI Nanggala-402 melaju di tengah galaksi. Semuanya indah. Semuanya menyentuh.

Istri-istri, anak-orang tua, dan seluruh keluarga yang ditinggalkan saling memberikan kekuatan. Tidak ada yang mudah. Semua terasa sulit dicerna. Baru sekejap lalu mereka ada di antara kita tapi tak lama para patriot tersebut dalam dekap Tuhan yang memberikan misi mejaga Indonesia.

Laut adalah misteri paling menakjubkan yang Allah ciptakan. Ah, sebenarnya semua yang Allah ciptakan adalah misteri, karena sesungguhnya baik akal, pikiran, dan budi kita tidak mampu memebuat pengetahuan yang akurat tentang segalanya: yang terlihat apalagi yang tak kasat.

Sejak kecil, saya yang besar di daerah cenderung tinggi, tidak pernah bertemu laut. Tapi tidak juga, karena saat di Taman Kanak-kanak, saya pernah mengikuti darmawisata ke Pantai Ayah di Karanganyar, Kebumen. Tidak banyak yang bisa diingat selain kecepatan kapal yang membawa kami. 

Intesitas berwisata ke pantai baru kulakukan saat melanjutkan kuliah di Malang. Pantai Goa Cina, Bajul Mati, Tiga Warna, Sendang Biru, Gatra, Kondang Merak, Balekambang, Watu Leter, Bengkung, dll. Mungkin terlihat tidak ada hubungannya. Namun, sebenarnya ketika mendatangi pantai, selalu ada doa yang kupanjatkan, “Allah… muliakanlah saya dengan cita-cita mulia, mampukan diri ini mewujdukan kemanfaatan untuk umat manusia.”

Selain berdoa yang baik-baik, selalu juga saya sempatkan untuk meditasi. Bermuhasabah. Tentang kehidupan. Tentang kematian. Bagaimana kecilnya manusia di hadapan semesta. Bagaimana manusia berego paling besar melebihi galaksi. Saya bersedih atasnya kemudian.

Tak melulu di pantai, saya pun mulai menyukai yoga dan meditasi. Bukan, tentu saja ini bukan ibadah yang dipraktekkan ajaran lain. Tetapi, sesuatu yang baik dan diniatkan untuk ibadah juga akan menjadi baik selama itu tidak mengotori akidah? Saya hanya ingin sekadar meluruskan, supaya tidak ada salah paham. 

Setiap melakukan meditasi, satu hal yang selalu kulakukan: ziarah ke laut. Duduk bersila, menutup mata, membawa alam pikiran ke laut lepas. Mulai berlayar, melepas diri dalam rangkulan kedalaman, lalu akan menangis tersedu setiap kali berhadapan dengan biru-hitamnya laut yang tak bisa kutembus. Itulah salah satu misteri yang kumaksud, ada kesedihan jika tidak dapat memahami. Tetapi, itu juga baik, karena saya semakin yakin bahwa Allah tak terbatas. Kita manusia takkan mampu barang sehelai pun menyibak benang misteri-Nya.

Kembali pada berpikir hakikat hidup dan mati. Saat ini kita semua sedang diingatkan bahwa kita sangat dekat dengan malaikat maut. Hanya saja, kita tidak diberi pengetahuan tentangnya. Tidak terbayangkan semakin kacau ataukah bertambah damai dunia ini.

KRI Nanggala-402 juga menjadi pengingat yang sangat memilukan, bagaimana cara kerja Tuhan tidak bisa kita kendalikan. Berdoa pun tidak selalu sekarang juga dikabulkan. Di lautan, di daratan, maupun di angkasa, kematian selalu mengiri langkah kita. Sepatutnya ramadhan ini kita jadikan sebuah momen untuk mengingat kematian agar kita meng-upgrade keimanan. 

Berikut beberapa ayat yang mengingatkan kita akan kematian:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan mendapatkanmu, meskipun kamu berlindung di dalam benteng yang tinggi nan kokoh.” (QS An Nisa 78)

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

“…dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu, namun kamu tidak melihat”

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Sesungguhnya kematian yang kamu hindari itu, maka sesungguhnya kematian itu pasti akan menemui kamu…” – (Q.S Al-Jumuah: 8)

Dan bagi patriot yang kini dalam misi abadi berpatroli tanpa batas bagi bangsa ini, semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya yang terbaik. Dan keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah berikan ketabahan, kekuatan dan kemampuan untuk bangkit kembali. Ingatlah yang Allah janjikan atas orang-orang terkasih kalian:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. – (Q.S Ali Imran: 169)

Dalam Misi Abadi

Kapan kulihat bangsa Indonesia tidak saling berdebat

Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan mereka yang terhebat

Semua saling tangkupkan tangan, tengadahkan harap, berpeluk erat

Melambungkan doa yang sama, beriring air mata yang mengalir paling pekat

Bermunajat, “Tuhan … Engkau Sang Kuasa, dari laut paling gelap, lekaslah kekasih kami Kau angkat ke darat,”

Lalu laut mengirimkan pesan yang sungguh tak ingin didengar

Tapi kabar itu pun tetap menjadi kabar

Kami luaskan dada untuk bersabar

Meski kini tahu tiada lagi bahu tegap tempat bersandar

Bendera kemenangan telah kalian kibar

Dalam misi paling mulia, misi abadi untuk Sang Maha Besar


Photo by Kenny Sexton on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *