The Power of Giving

Oleh: Fisra Firsty

Duluuu, di awal baru di Jakarta dan lagi nyari-nyari kerja saya rasanya ‘hidup’ terasa sangat beraaat. Kalau ngga kuat-kuat hati rasanya pengen ‘balik kanan grak’ pulang kampung lagi. Soalnya saya ke Jakarta ‘sendiri’ ngga ada saudara atau keluarga di Jakarta. Tapi alhamdulillah ada teman-teman yang selalu ngasih semangat untuk bertahan. Walaupun nggak banyak tapi ada, sehingga mampu bertahan di Jakarta meski dengan kondisi yang sangat sulit.

Salah satu cara untuk menghadapi kesulitan tersebut adalah, rajin membaca Surah Al-Ma’tsurat. Saking rapuhnya saya, saya butuh kekuatan lebih dari yang di atas sana supaya saya kuat dan hati saya tenang. Sehingga di bis kota ataupun di kopaja dan metromini, saya tetap jabanin membaca surah Al-Ma’tsurat. Alhamdulillah pelan-pelan saya bisa melewati fase-fase sulit dalam hidup saya.

Dan alhamdulillah ketika kehidupan membaik secara ekonomi, saya juga ‘belajar’ untuk rajin bersedekah. Pelan-pelan saya azamkan untuk bersedekah melalui lembaga-lembaga resmi via atm. Walaupun ngga banyak, tiap bulan saya mencoba untuk mentransfer via atm. Alhamdulillah, hati saya sudah akrab dengan infak sedekah. Dan saya ingin selalu bisa berinfak dan bersedekah sesering dan sebanyak mungkin.

Suatu waktu pada bulan ramadhan tahun 2014, saya pergi ke Gramedia Grand Indonesia bersama sahabat saya. Karena udah capek saya keluar dulu dari Gramedia dan duduk di bangku yang tersedia di (semacam) lobi depan Gramedia. Waktu itu tersedia bangku di sana. Di sana juga terdapat sebuah stand sebuah lembaga amil zakat terbesar di Indonesia. Stand tersebut hanya ada pada bulan Ramdhan saja ‘menjemput bola- bagi kaum muslimin yang ingin membayarkan zakat, infak dan sedekahnya melalui lembaga tersebut.

Saat itu saya melihat sepasang muda seumuran saya atau mungkin lebih kecil satu tahun atau dua tahun dari saya. Kedua anak muda tersebut berpakaian casual, yang perempuan juga _ngejins_ dan memakai baju kaos biasa aja, tidak memakai jilbab. Mereka membayar zakat, entah zakat mal atau zakat penghasilan sebesar masing-masing Rp. 500.000.

Jujur saja saya kagum sama mereka. Dengan gaya santai tersebut mereka ‘mampu’ berzakat yang cukup besar nilai nominalnya. Tiba-tiba saja saya iri sama mereka. Saya diliputi rasa ‘cemburu’ yang luar biasa pada mereka. Saya juga merasa tertampar dengan sangat keras dengan apa yang saya lihat dari mereka.

Saya berjilbab, saya sering mendengarkan ceramah agama termasuk tentang infak dan shadaqah. Tetapi saya belum mampu berinfak shadaqah yang besar seperti mereka. Meskipun setiap bulan saya berusaha selalu berinfak sedekah yang kalau dikumpulkan bisa melebihi infak shadaqah masing-masing mereka tersebut, itu kan saya ‘cicil tiap bulan.’ Saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya bershadaqah ‘jebreet’ Rp. 500.000 secara tunai.

Saya pun berazzam pada diri saya. Insya Allah pada Ramadhan tahun depan saya juga mampu berinfak shadaqah Rp. 500.000 secara tunai. Bukan hanya dicicil tiap bulannya, tetapi juga Rp.500.000 untuk Bulan Ramadhan. Mereka terlihat biasa saja pemahaman agama mereka. Tapi mereka mampu memahami agama jauh lebih baik. Makanya saya pun berazzam harus mampu seperti mereka berdua.

Ramadhan tahun depan, alhamdulillah karrna azzam saya yang kuat dan juga dimampukan Allah. Saya akhirnya bisa menunaikan keinganan saya, berinfak shadaqah Rp.500.000, tunai. Alhamdulillah saya bisa menunaikan azzam saya sebelum saya pulang lebaran ke kampung, sehari menjelang pulang. Hati saya bahagia tak terkira. Mungkin inilah yang disebut dengan salah satu fadhilah atau keutamaan shadaqah atau ‘The Power of Giving,’ yakni membuat orang yang bersedekah menjadi bahagia. Serius, saya jadi tenang dan bahagia banget.

Beberapa hari kemudian ketika berada di kampung, saya membuka email. Terlihat beberapa email terbaru yang belum saya baca. Salah satunya dari sebuah penerbit besar, yang dikirim dua atau tiga hari sebelumnya. Sebuah email yang membuat saya berucap bahagia, “Allahu akbaaaar,” dengan sangat ekspresif. Ada ibu dan adik saya waktu itu, mereka kaget melihat saya yang terlihat kaget tapi bahagia. Mereka bertanya ada apa.

Aku menjawab dengan ekspresif, “Alhamdulillah bukuku di-oke-in penerbit!”

Sungguh saya sangat bahagia sekali. Tak ada niatan apapun saya ketika berinfak shadaqah sebesar Rp.500.000, tapi Allah memberikan ‘balasan’ yang indah : editor menerima bukuku untuk diterbitkan di peenerbit besar tersebut. Laahaula walaa quwata illabillah.


Photo by Micheile Henderson on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *