Kisahku dengan Pohon Mahoni

0

Oleh: Nanang FS

Setiap orang beriman pasti meyakini mustajabnya doa. Apalagi dilafaskan setiap saat dalam bulan penuh ampunan yakni bulan  Ramadhan ini. Pintu langit akan terbuka untuk mereka yang selalu berdoa kepada Allah SWT.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah bersabda, “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni’.” (HR.Bukhari dan Muslim).

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad).

Selain dua hadist di atas, banyak lagi hadist yang menjelaskan tentang fadhilah dan mustajabnya doa kita kepada Allah SWT.

Saat baru belajar puasa, yang pertama kali kita pelajari bukan bagaimana cara berpuasa tapi apa doa sahur dan apa doa berbuka. Baru kemudian kita diajari banyak hal tentang keutamaan-keutamaan berpuasa mulai dari rukun dan syarat sah atau tidak sahnya puasa yang kita lakukan.

Pengajian-pengajian dan ceramah-cerama khatib-khatib selama Ramadhan banyak sekali yang membahas hal ihwal pentingnya doa ini. Namun, dalam prakteknya kadang kita lalai dan lupa berdoa. Doa seringkali dilakukan saat kepepet dan terdesak saja. Seolah ajian pamungkas yang digunakan saat injury time oleh berbagai situasi dan kondisi, baru kita merengek-rengek meminta kepada Allah SWT. Bahkan dalam beberapa kesempatan mendengar pengajian, disebutkan bahwa setiap ucapan itu adalah doa. Betapa hebatnya ajaran Islam, agar kita selalu berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu.

Paling tidak selama Ramadhan ada empat waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT.

Pertama, saat kita melaksanakan sahur sebelum berpuasa siang harinya.

Kedua, saat berpuasa itu sendiri, dimana seluruh tindak tanduk kita bernilai ibadah pun sebaliknya.

Ketiga, saat berbuka puasa, waktu yang sangat baik meminta kepada Allah SWT.

Keempat, pada malam-malam qiyamulail. Ibadah malam adalah waktu yang disuka Allah SWT.

Lalu mana cerita ku tentang pengalaman dengan doa ?

Ya itu, itu adalah sebagian dari ingatan selama Ramadhan sejak kecil. Seperti kata pepatah, hafal kaji karena diulang.

Pernah suatu ketika saat masih mengaji di mushola komplek saya merasakan pentingnya doa dalam kehidupan kita. Sebagai anak yang lahir di komplek pertanian, lingkungan tempat tinggal kami selain rumah tinggal juga di tumbuhi banyak tanaman dan pohon-pohon. Berbagai jenis tanaman ada, mulai dari jenis terkecil sampai ke pohon sekelas mahoni. 

Nah, jarak dari rumah saya ke mushola Al Ikhlas nama tempat saya mengaji sebenarnya tidak begitu jauh, hanya sekitar dua ratusan meter saja. Namun, untuk anak kecil seumuran saya waktu itu, pulang mengaji mempunyai cerita horror yang tak terlupakan. 

Oh ya saat itu saya berumur 6 tahunan belum masuk SD, pun kawan-kawan sebaya mempunyai cerita masing-masing di komplek kami yang sebenarnya lebih cocok di sebut asri ketimbang menakutkan. Tapi entah setan dari mana yang kemudian membuat kami selalu harus uji nyali jika melewati simpang tiga komplek yang di salah satu pojoknya tumbuh pohon Mahoni yang sangat besar dan tinggi. Cilakanya jalanan menuju rumah saya juga minim penerangan, alias gelap. 

Oh ya lagi, kami mengaji mulai dari ba’da Magrib sampai menjelang Isya. Selepas Isya kami bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Dari sekian banyak kawan mengaji, kebetulan hanya saya sendiri yang beda jalan, lengkap sudah uji nyali saya.

Pulang mengaji menjadi horor dalam pikiran kecil saya waktu itu. Di tambah lagi kawan-kawan yang mengetahui ketakutan saya, mulai usil menambah-nambahi cerita horor sekitar pohon Mahoni itu.

Singkat cerita, mulai dari keluar mushola dalam perjalanan pulang saya mulai merapal doa-doa. Semua hafalan doa saya keluarkan, dilafazkan sekeras yang saya bisa sambil berlari sekencang-kencangnya menuju rumah.

Mungkin itulah saat dimana saya meyakini bahwa, doa itu mustajab. Dan ketakutan saya lama-kelamaan hilang, lalu gentian saya yang kemudian menakut-nakuti kawan lain yang penakut, hehehe.

NFS


Photo by Ivan Bolshakov on Unsplash

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *