Berguru Kepada Pandemi, Belajar Bersama Ramadhan

+3

Oleh: Maydina Zakiah

Aku iri dengan mereka…yang memiliki kelapangan finansial, bisa menafkahkan rezekinya sebanyak yang mereka mau untuk pembangunan ummat, tanpa khawatir hartanya kan habis…

Aku iri dengan mereka yang memiliki ketajaman berpikir tetapi tetap rendah hati laiknya padi dengan kesederhanaannya… Semakin tinggi ilmunya, semakin merunduk dirinya…

Yah aku iri kepada mereka…yang senantiasa bisa konsisten berdialog dengan Tuhan-nya di dua pertiga malam, manakala yang lain masih terlelap dalam tidurnya…

Yah aku iri…iri dengan keindahan perilaku mereka dan ibadahnya…

Namun apa aku hanya sekedar iri? Lalu diam saja dan meratapi diri sendiri karena jauh dari sempurna? Jauh dari kata prestatif dalam akhlak dan ibadah? Atau…mampukah aku mengikuti jejak ke-tawadhu-an mereka, sang orang-orang terpilih? Dengan cara memperbaiki diri dengan ikut serta berlomba dalam kebaikan? 

Yah setidaknya ku mencoba… mencoba untuk mulai membiasakan diri untuk berbagi dari hal-hal kecil yang dapat kuberikan…sharing pengetahuan, tenaga, ataupun buku…berusaha untuk senantiasa menempa diri, belajar ilmu dan pengetahuan baru, berlatih kebiasaan baru… di Ramadhan kali ini…meski pandemi turut menyapa kita tanpa permisi, mengiringi aktivitas kita di bulan Ramadhan sedari tahun lalu.

Mungkin…aku juga belum mampu sesederhana mereka yang memiliki ketajaman berpikir dengan tingkatan ilmu yang jauh lebih tinggi dariku, tapi paling nggak kucoba berdialog dan belajar dari mereka..berusaha mencontoh hal-hal baik dari pribadi mereka…coba menerapkan setahap demi setahap. 

Tak hanya itu, mungkin aku juga belum bisa rutin bangun di 2/3 malam, laiknya mereka…tapi paling nggak, terdapat niat untuk mulai mendisiplinkan diri sendiri dalam beribadah sholat tahajud secara ikhlas. Segala sesuatu berawal dari niat, bukan? Jika niatnya tulus dan ikhlas hendak mendisiplinkan diri untuk rajin bangun di 2/3 malam, bukan mustahil terealisasi, bukan? 

Teringat sebuah percakapan dahulu dengan seorang guru PPKn-ku saat SMU, manakala suatu ketika ku merasa stuck atau buntu terhadap sesuatu hal…Kala itu ku bertanya pada beliau: ‘Bagaimana caranya mempengaruhi orang agar mereka mengerti dan mau menerima ide/gagasan kita? Paham bahwa itu penting sebagai sebuah solusi dari permasalahan yang ada, tidak dianggap sebagai newbie atau anak kemaren sore?’

Beliau kemudian menjawab sembari tersenyum: ‘Caranya…dengan tidak bosan-bosan menginfokan hal tersebut, mengedukasi bahwa hal itu penting dan… sholat tahajud…minta sama Allah agar dibukakan pintu hatinya orang-orang tersebut, sehingga mereka mau menerima ide/gagasanmu…lakukan setiap hari, rutin…Insya Allah kalau tujuannya baik, hal itu akan dikabulkan Allah…’ Aku yang mendengar jawaban beliau saat itu, tertegun seketika…Yup, beliau tidak sekedar berteori….Dalam realitas kehidupan sehari-harinya, beliau memang konsisten melakukan sholat tahajud dan lantang menyuarakan gagasannya jika memang hal itu penting disuarakan untuk kepentingan banyak orang, bangsa dan negara… Beliau adalah salah satu dari sosok guru yang menerapkan Teach by example…Lead by example…

Kembali ke Ramadhan…Bagiku, biarlah pandemi ini tetap mengiringi Ramadhan kita kali ini, biarkan mereka bercengkrama akrab… Terima ia sebagai bagian dari Ramadhan dengan penuh keikhlasan… karena bisa jadi ada nilai pembelajaran di dalamnya. Lihatlah pandemi dari sudut pandang bahwasanya hal itu sebagai wujud rahmat dari Allah yang mengingatkan kita tentang makna hidup dan kehidupan, makna memberi dan berbagi, makna kebersamaan dan empati, dan makna-makna lainnya yang membelajarkan kita akan hal-hal yang mungkin luput selama ini dari perhatian kita… Luput karena tertimpa kesibukan mengejar dunia…lupa mensyukuri hal-hal kecil yang ada di sekitar kita…Luput dari rasa syukur karena masih bisa bernafas, masih bisa melihat matahari terbit, masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang terkasih, dsb…rasa syukur bahwa kita masih dianugerahkan kesehatan… diamanahkan semua hal tersebut oleh Tuhan, Allah SWT. 

Yup…pandemi membelajarkan kita… membelajarkan kita untuk senantiasa bersyukur, sabar, dan ikhlas…

Kini yang menjadi tugas kita bersama adalah bagaimana kita memaknai hal tersebut untuk kebaikan di masa depan? Berdampak bagi lingkungan, alam, dan masyarakat…


* Penulis adalah peminat dunia kreatif, kreativitas, inovasi, dan pembelajaran. Pernah menjadi kontributor aplikasi perangkum buku pada sebuah startup rangkuman buku best seller terkait manajemen, marketing, SDM, dsb disamping juga pernah menjadi kontributor pada sebuah web portal industri kreatif. Penulis juga merupakan salah satu founder forum sebuah komunitas pembelajaran kreatif. Lebih lanjut tentang karya dan kiprah penulis dalam komunitas dan profesional bisa dilihat pada https://linktr.ee/maydina 


Photo by Markus Winkler on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *