Takjil Meruah dan Ramadan Mewah

+1

Oleh: Dini Nurhayati

Tentu sepakat jika Ramadan yang memiliki banyak nama lain atau alias juga sangat bisa disebut dengan bulan penuh keajaiban. Hampir seluruh masyarakat yang di bulan lain tidak berjualan, maka saat Ramadan datang, mereka memutuskan untuk berjualan. Beragam dan bermacam penganan bisa ditemui di berbagai tempat.

Di sepanjang pinggir jalan.yang mendadak menjadi pasar tumpah bakda Ashar. Di trotoar-trotoar yang menjelma street café dengan meja lesehan yang berderet memanjang. Di alun-alun seberang masjid besar, seperti yang terdapat di kota di mana saya tinggal. Dan banyak tempat lainnya, yang memungkinkan dan bisa dijadikan tempat untuk mengais rezeki.  Entah yang menjual makanan pokok, atau lauk-pauknya saja. Ataupun yang menggelar jajanan pasar dan aneka takjil, mulai dari jenis-jenis jenang atau bubur dan kolak hingga makanan jenis fast food, semacam sosis bakar, kebab dan takoyaki ala-ala.

Masya Allah. Betapa melimpahnya keberkahan dari Allah itu. Sebab dengan pedagang yang tumplek-blek, dalam satu tempat bisa terdapat banyak pedagang yang gelar lapak, pembeli pun seperti banyak saja, tetap berdatangan terus menerus dan tak pernah menyusut.

Beberapa pedagang akhirnya ada yang dikenal dengan sebutan pedagang musiman, khusus Ramadan. Karena dia spesial berjualan hanya di bulan Ramadan saja. Saya sempat mengamati sendiri, satu-dua tempat atau penjual yang kiosnya hanya buka ketika Ramadan. Mereka memiliki tempat katakanlah semacam warung, yang menetap semisal di depan rumah. Namun benar-benar hanya difungsikan mana kala kalender memasuki bulan Ramadan saja. Sungguh-sungguh hanya dibulan Ramadan. Sebab saya betul-betul mengamati selama hampir 3 tahun.

Warung itu, sebagaimana beberapa tempat lain, konsiste berjualan sop buah. Cara berjualan yang dilakukan sungguh menerapkan semboyan “Rego Gowo Rupo”. Ya, sang pemilik benar-benar menggunakan buah-buahan yang kondisinya baik, boleh dibilang buah pilihan. Gulanya memakai gula yang asli, bukan pemanis buatan yang seujung sendok saja akan terasa “manisnya bukan buatan”. Pantas jika harga yang dibandrol pun jauh berbeda dari kebanyakan. Bisa dua kali lipat tempat lain harganya. Dan ajaibnya, tempat itu selalu penuh di waktu-waktu eksklusif. Yakni pukul 5 sore hingga jelang berbuka. Saya bahkan tertakjub-takjub sendiri kala ikut mengantre.

Awalnya di kios mereka hanya ada dua orang, satu yang memasukkan buah, satu lagi yang mengikat plastik sekaligus menerima uang dari pembeli. Lalu, keesokan hari dan keesokannya lagi, berlanjut ke hari setelah itu, orang yang stand by di kios bertambah. Akhirnya jadi ada yang khusus memasukkan es batu, khusus memasukkan aneka buah, khusus mengikat plastik dan khusus penerima uang alias ada bagian kasir sendiri, meskipun masih dengan cara tradisional, menggunakan kalkulator jika jumlah yang dibeli banyak.

Dari pemandangan yang disajikan, ramai dan mengantrinya orang, justru saya yang memiliki ide terlintas dalam pikiran. Berjualan di bulan Ramadan bisa jadi tolok ukur, bahwa peminatnya sangat banyak. Bagaimana jika berjualan sop buah tersebut tetap dilanjutkan meski bulan Ramadan usai. Bagaimana kalau dijadikan ladang usaha yang kontinyu dan konsisten?

Ya, tentu saja isi kepala kami berbeda. Mereka tetap memilih hanya akan berjualan di bulan Ramadan saja. Lalu, saya pun berpikir ulang. Betul, bisa jadi jika ujian dengan banyaknya pelanggan, suatu hari malah membelokkan kemurnian usaha mereka, yang menggunakan bahan utamanya yaitu buah berkualitas dan gula asli ditambah krimmer berasal dari brand yang dikenal baik. Siapa yang tahu nantinya malah tergoda untuk mengubah dan menurunkan grade. Jika sudah demikian yang terjadi, saya kira pelanggan pasti akan bisa mendeteksinya, dan setelah itu malah menjauh. Ujung-ujungnya, saya mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan berjualan eksklusif hanya di bulan Ramadan. Sebagaimana beberapa pedagang makanan dan minuman lain yang konsisten memilih hal serupa.

Betapa ini adalah bukti jika Ramadan membawa keajaiban dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Meskipun, yang berlaku curang barangkali akan tetap ada, akan tetapi bagi sebagian besar orang, Ramadan jadi pengendali diri untuk tetap jujur dalam mengais rezeki. Sebab mereka menyadari, betapa keberkahan lah yang dicari, bukan sekadar perhitungan untung rugi.

Bukankah dengan sajian takjil yang meruah ini jadi bukti lain, jika Ramadan memang bulan yang “mewah”.[]

Cirebon, 27 April 2021


Dini Nurhayati, yang kerap menggunakan nama Dinu Chan di beberapa tulisan dalam genre fiksinya. Kelahiran Bandung, akan tetapi kini tinggal di Kota Cirebon. Penulis dapat disapa di akun media sosialnya seperti FB Dinu Chan dan IG @dinu_chan.


Photo by Roman Kraft on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *