Ramadan dan Doa

+1

Oleh: Nur Afilin

Siapa hafal ayat 183 surat Al-Baqarah? Saya yakin hampir setiap orang yang beragama Islam, bahkan yang masih bersekolah jenjang SD, akan banyak yang mengacungkan tangan jika ditanya demikian. Pasalnya, ayat yang berisi kewajiban puasa Ramadan ini sering dikutip dimana-mana. Khotbah Jumat, ceramah atau kultum Ramadan, serta media cetak maupun elektronik dapat dipastikan mencantumkan ayat tersebut saat menyinggung bulan Ramadan. 

Bagaimana jika pertanyaannya diganti menjadi: Siapa hafal Q.S. Al-Baqarah: 186 yang masih berkaitan dengan Ramadan? Dugaan saya pribadi sekian orang yang tadi mengaku tahu ayat 183 akan menurunkan tangan yang semula teracung. Ya, sangat disayangkan jika ayat yang spesial ini sering terlupakan. Padahal, ayat ini sangat dekat maknanya di kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat Ramadan. Apalagi jika ia disisipkan dalam ayat-ayat yang membicarakan seputar Ramadan, tentu sebaiknya lebih kita perhatikan bukan?

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Demikianlah terjemahan dari ayat 186 surat Al-Baqarah. Tentang ayat ini, Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Guru Besar Fakultas Syariah Universitas Qashim, Arab Saudi, meringkas maknanya sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah itu sangat dekat dengan kita, sehingga tidak ada penghalang antara Dia dengan kita. Dia mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Maka, selayaknya kita menunaikan permintaan-Nya dengan ikhlas, mengerjakan perintah-Nya berupa keimanan dan amal saleh, serta mempercayai tentang kedekatan Allah dengan kita, juga pengabulan-Nya atas doa-doa kita. Itu semua dimaksudkan agar kita mendapat petunjuk kepada kebaikan dunia dan akhirat.”

Ramadan Sebagai Momentum Istimewa untuk Berdoa

Saat iman dan amal saleh sebagian kaum muslimin sedang naik dengan saum, tarawih, interaksi dengan Alquran, sedekah, dan sebagainya, maka adalah wajar jika kemudian Ramadan disebut sebagai waktu istimewa untuk berdoa. 

“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi” (H.R. Tirmidzi) 

Pada dasarnya, Allah sudah menyatakan akan selalu mengabulkan doa hamba-Nya. Namun demikian, kita pun tahu bahwa pengabulan doa itu tidak selalu sesuai keinginan kita atau kontan di dunia ini. Hadits di atas serta beberapa riwayat lain menegaskan bahwa doa punya tempat lebih spesial saat Ramadan. 

Terkait dengan contoh makbulnya doa saat Ramadan, tak ada salahnya jika kita berkaca pada sejarah Perang Badar. Secara logika memang sulit dicerna jika 300-an pasukan kaum muslimin menang melawan sekitar 1.000 lebih pasukan kafir Quraisy. Terlebih saat itu pasukan muslimin minim perlengkapan dan persiapan teknis perang karena sejak awal memang tidak diniatkan berperang saat berangkat ke Badar. 

Apa yang Allah kehendaki tentu saja terjadi. Doa Rasulullah SAW di saat genting itu dikabulkan-Nya secara kontan. Pasukan kafir Quraisy menderita kekalahan memalukan. Banyak pula pembesar mereka yang tewas di medan Badar. Sebaliknya, kaum muslimin mencatatkan tinta emas dalam sejarah sebagai pemenang.

Ya, semestinya cukuplah sejarah nyata itu sebagai pelajaran bagi kita selaku kaum muslimin yang hidup di masa kini. Bahwa Allah mudah saja mengabulkan apapun keinginan hamba yang secara ikhlas meminta kepada-Nya di bulan Ramadan. Terlebih jika doa yang dipanjatkan berkaitan erat dengan kebaikan untuk orang banyak. Maka, doa apa yang sudah kita siapkan khusus pada Ramadan ini? Mari langitkan pinta kita kepada Penguasa Semesta. Sertakan pula adab dan ketentuan doa agar lebih berbobot dan layak diijabah oleh-Nya. Selamat memperbanyak doa.

Bogor, 27 April 2021  


*Terlahir di Pemalang, dan kini tinggal di Bogor sejak 2017. Filin, begitu ia kerap disapa, adalah anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Jakarta karena dulu pernah menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sampoerna, Jakarta. Aktifitas sehari-hari penulis saat ini ialah mengajar daring, menemani Rania (anak pertama) bermain, serta mengerjakan beberapa hobi. Sila ikuti IG @nur_afilin jika ingin berkenalan lebih lanjut.


Photo by Rachael Gorjestani on Unsplash

+1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *