Musjatab Doa di Ramadan

Oleh: Mita Hidayanti

Diawali jatuh dari motor, Papah mengalami patah tulang. Kondisi tersebut mengharuskan lelaki kesayangan kami itu harus operasi pasang pen. Namun, saat pemeriksaan pra-operasi, ditemukan kenyataan ternyata Papah memiliki kanker prostat dan sel kanker itu sudah mulai menyebar ke tulang.

Hasil pemeriksaan itu membuat dokter orthopedi merujuk ke dokter urologi untuk bisa mengobati kankernya terlebih dahulu. Menurut dokter orthopedi, percuma dilakukan operasi jika sel kanker di tulang masih ada.

Dokter Urologi, setelah melakukan berbagai pemeriksaan, merekomendasikan untuk kemoterapi rutin tiap tiga bulan sekali. Selain itu, Papah juga harus mengonsumsi obat kanker tanpa putus selama Sembilan bulan. Qodarulllah, pengobatan rutin yang rencana hanya selama Sembilan bulan, harus ditambah tiga bulan lagi karena sel kanker belum hilang sepenuhnya. 

Januari 2021, Dokter menyatakan kemoterapi sudah bisa dihentikan. Maka, rencana operasi pasang pen dilanjutkan. Papah kembali melakukan pemeriksaan lengkap dan menunggu jadwal operasi. 

April 2021, di siang hari Ketika sedang kegiatan dengan Direktorat SD Kemdikbud, telepon masuk dari Rumah Sakit. Pihak rumah sakit mengabarkan bahwa alat sudah siap dan operasi sudah terjadwal tiga hari lagi. Jangan ditanya bagaimana perasaan saat ini, semua campur aduk. Rasa senang karena akhirnya jadwal operasi yang ditunggu selama satu tahun setengah akhirnya datang, bercampur dengan rasa cemas karena Papah sudah berusia lanjut. Tahun 2021 ini Papah akan berusia 76 tahun. Semoga beliau panjang umur dalam sehat aamiin.

Ketegangan menerpa kami ketika lelaki kesayangan kami berada di ruang operasi. Waktu operasi yang diperkirakan empat jam ternyata molor hingga enam jam, sehingga kami diliputi kecemasan luar biasa. Mama, aku dan kedua kakakku entah sudah berapa kali mondar-mandir untuk menghilangkan ketegangan. Zikir dan doa terus kami lantunkan agar kakek dari anak-anakku itu segera keluar dari ruang operasi dalam kondisi sehat wal afiat.

Waktu terasa berjalan lambat. Hati kami gelisah, menduga apa yang terjadi di ruang operasi. Alhamdulliah, setelah enam jam dalam ketegangan, kami bisa menyambut papah ke luar ruang operasi dalam kondisi baik. Beliau langsung bisa diajak berkomunikasi, meski bius spinal masih ada.  Ketangguhan beliau luar biasa, menjalani operasi selama enam jam.

Keajaiban terus Allah hadiahkan kepada kami. Lelaki yang sudah menjadi kakek dari delapan cucu itu pulih dengan cepat. Beliau hanya perlu dirawat di rumah sakit selama empat hari. Tak hanya itu, bahkan di hari pertama pasca operasi, beliau sudah bisa turun dari tempat tidur dan jalan sendiri ke kamar mandi dengan bantuan tongkat beroda. Dokter memuji perkembangan yang diperlihatkan pasien tuanya itu. Keinginan Papah untuk kembali bisa berjalan sangat besar, membuatnya terus bersemangat untuk smebuh.

Keajaiban kembali menghampiri kami saat kontrol dan mengambil hasil patalogi atonomi tulang panggul yang telah digantikan pen. Hasil PA (patalogi atonomi) menyatakan Papah telah bersih dari sel kanker. Masyaallah, Alhamdulillah, betapa hadiah yang begitu indah Allah berikan di Ramadan ini.


Mita Hidayanti, ibu tiga anak yang lahir dan besar di Jakarta. Impiannya adalah memilik rak buku yang berisi karyanya dan karya anak-anaknya. Saat ini penulis sudah memiliki karya berupa 12 buku antologi, 2 novel solo dan 3 buku teks pelajarana. Penulis dapat disapa di FB Mita Hidayanti dan IG @mita.hidayanti


Photo by Treddy Chen on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *