Laa Tahzan Innallaha Ma’ana!

Oleh Delfitria

Ramadhan tahun 2020 bagiku adalah Ramadhan paling reflektif seumur hidup. Jelas saja. Pada tahun tersebut, anugerah dan cobaan rasanya beda tipis. Kondisi pandemi yang datang tepat satu minggu setelah kepulanganku dari Turki saat itu benar-benar tidak menentu. Belum lagi, tiga bulan setelah ditetapkannya pandemic, kita memasuki bulan Ramadhan. Ramadhan tanpa buka puasa bersama, Ramadhan tanpa tarawih berjamaah di masjid atau musholla bahkan Ramadhan tanpa shalat ied di lapangan. Pada tahun itu juga, aku menyandang status mahasiswa dengan beban terberat semasa kampus, apalagi kalau bukan: skripsi. 

Aku masih ingat sekali saat Ramadhan tahun lalu dimana kondisi skripsiku begitu mengkhawatirkan. Pertama, jadwal pengumpulan sidang skripsi tinggal satu bulan lagi dan aku kehilangan perhatian dari dosen pembimbing. Kedua, aku sedang menjadi project leader acara kampus yang sempat kehilangan peran wakil kepercayaanku. Ketiga, orang tua yang mendadak kehilangan pekerjaan karena pandemi sehingga menuntutku untuk ‘ngasong’ atau cari uang tambahan. Jadilah terbelah fokusku menjadi beberapa bagian dan lagi-lagi tingkat stress meningkat menuju Ramadhan. Kata orang, tekanan biasanya membuat manusia lebih dekat dengan Tuhannya.

Tapi mari kita renungkan, apakah tekanan selalu berbuah rasa syukur? 

Tekanan kadang membuat kita lupa terhadap hal-hal positif yang kita miliki. Setelah melewati Ramadhan tahun 2020, aku baru teringat bahwa dahulu pernah mendengar sebuah penggalan ayat dalam Al Quran Qs. Taubah ayat 40 yaitu “…Laa Tahzan, Innallaha ma’ana”. Penggalan ayat ini seakan Allah sedang mengajak kita berbicara saat tekanan begitu banyak. Penggalan ayat ini sangat laris ketika kita banyak mengalami rasa sedih. Sedihnya, penggalan ini terlupakan olehku ketika Ramadhan tahun lalu.

“Jangan bersedih, Sesungguhnya Allah bersama Kita” begitulah arti dari penggalan ayat pada Qs. Taubah ayat 40. Ayat yang seharusnya berwujud menjadi doa pada setiap sujud, setiap malam, setiap buka puasa, setiap apapun, sebelum apapun selama bulan Ramadhan.

Sayangnya. Ramadhanku saat itu lebih banyak berisi doa yang berisi hajat pribadi perihal skripsi dan lulus, perihal proyek yang selesai dan perihal rezeki yang banyak. Penggalan ‘Laa Tahzan Innallaha Ma’ana” menjadi slogan kosong yang terlupakan akibat deadline duniawi itu. Ramadhanku yang lebih banyak berisi kesedihan, tekanan, rasa takut, dan perbandingan terhadap apa yang dicapai orang-orang di sekitarku. Ya, Ramadhan ini berisi kesedihan yang berbeda tipis dengan kufur. 

Sujiwo Tedjo pernah berkata, “Menghina Tuhan tidak perlu dengan umpatan atau menghina Kitab-Nya. Khawatir besok kamu tidak makan saja itu sudah menghina Tuhan!”

Ungkapan ini menamparku bolak-balik. Apa aku telah menghina Tuhan dalam wajah kesedihan? Apa aku begitu takut Allah akan membuatku tidak lulus dan tertinggal? Apa Allah juga akan menutup rezeki untukku selama pandemi? Apa yang sebenarnya ku pertanyakan? Rezeki Allah? Aduh! Pusing dibuatnya. Ramadhan yang ku bilang khusyuk sejatinya berisi kesedihan tentang hal-hal yang menjadi kekhawatiranku. Padahal sebelumnya aku sangat berpegang pada penggalan Qs. Taubah ayat 40 ini, “Laa Tahzan, Innallaha ma’ana!” Tapi cobaan di tahun 2020 membuatku kehilangan arah dan lebih banyak bercerita sedih tentang target-target duniaku saat itu. 

Kalau saja “Laa Tahzan Innallaha ma’ana” menjadi sebuah doa, maka akan banyak hawa positif yang akan kurasakan. Kata seorang ahli, kebetulan aku lupa namanya, “Positive Emotion is The Key of Achievement” Beliau mengajarkan bahwa untuk kita bisa mengejar sesuatu, memperjuangkan sesuatu, salah satu yang perlu dibangun adalah emosi positif.

Oleh karena itu, doa atau ucapan yang positif sangat berpengaruh ketika seseorang sedang menghadapi tekanan atau target yang banyak. Dibandingkan mengangkat doa-doa yang berisi tekanan pada Allah, lebih baik membangun doa-doa positif agar kita dikuatkan menghadapinya sebagaimana penggalan ayat dalam Qs. Taubah ini. 

Pertama, “Laa Tahzan Innallaha ma’ana” Allah mengajakku untuk memilih agar tidak bersedih. Sedih yang biasanya termasuk dalam emosi negatif sehingga harus disingkirkan. Kedua, ada pelibatan Allah sebagai solusi yang mana menjadi kebiasaan manusia untuk bergantung pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Dua alasan ini menjadi bukti kuat bahwa penggalan ayat itu bisa menjadi doa yang kita ucapkan setiap malam. Doa yang akan memperkuat kaki dalam melangkah, melapangkan hati dalam menerima bahkan meringankan beban pikiran saat membuat keputusan. Doa ini juga hasil refleksi dari Ramadhan tahun 2020 yang penuh anugerah dan cobaan itu.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menjadikan “Laa Tahzan, Innallaha Ma ‘ana”  menjadi salah satu doa yang aku kuatkan. Doa agar terkabul menjadi diriku yang tidak mudah bersedih dan lebih menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah lillahita’ala. 


Photo by arash payam on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *