Hati-Hati Saat Berada di Tanah Suci!

+4

Oleh: Etika Aisya Avicenna

Labbaik allahumma labbaik…

Labbaikalaa syariikalaka labbaik..

Innalhamda wanni’mata lakawalmulk laa syariikalak..

Saya penuhi panggilan-Mu, Ya Allah.. 

Saya penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.. Saya penuhi panggilan-Mu…

Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan kerajaan hanya milik-Mu, 

tidak ada sekutu bagi-Mu…

Alhamdulillah, air mata syukur mengalir deras saat kaki menapak di tanah suci Mekah pada Ramadhan tahun 2017 lalu. Tak hentinya saya takjub karena akhirnya berada di bumi para nabi. Hari itu kami hanya sempat sahur dengan tiga butir kurma dan air mineral karena ada kendala teknis dari panitia yang menyebabkan makanan sahur telat sampai di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Saya dan suami berdoa semoga kami diberi kekuatan untuk bisa menjalankan rangkaian rukun umrah dengan baik meskipun hanya sahur dengan kurma dan air mineral.

Air mata tak terbendung lagi kala melihat Ka’bah untuk pertama kalinya secara langsung. Bismillah, kami pun memulai thawaf. Masyaa Allah, jamaah umrah sangat ramai karena di bulan Ramadhan. Kami pun berdesak-desakan saat melakukan thawaf. Apalagi saat matahari kian meninggi dan suhu mencapai 40 derajat Celcius. Allahu akbar! Alhamdulillah, impian saya bisa thawaf sambil bergandengan tangan dengan suami terwujud. Terima kasih yaa Allah… 

Setelah mengitari Ka’bah sebanyak 7 putaran, kami melakukan salat sunnah di belakang makam Nabi Ibrahim. Lagi-lagi saya tak kuasa membendung air mata karena telah Allah beri kesempatan untuk bersujud di Masjidil Haram. 

Setelah salat Zuhur, kami melakukan sa’i antara Safa dan Marwah. Teringat kembali perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail kala itu. Kami pun melakukan sa’i dengan penuh semangat meskipun jumlah jamaah sedang membludak. Setelah sa’i, kami bertahalul. Kami sudah membawa gunting, sehingga bisa saling mencukur sebagian rambut. Meski tadi sahurnya sedikit tapi Allah benar-benar memberi kami kekuatan untuk menjalankan rangkaian rukun umrah yang sangat memerlukan energi. 

Jelang waktu salat asar, kami keluar hotel untuk salat asar di Masjidil Haram. Saat sore ternyata suhu mencapai 43 derajat Celcius. Masya Allah, terasa panas tapi tidak berkeringat. Ada beberapa orang yang membagikan takjil berisi roti, kurma, air mineral, dan yogurt pada kami. Suami pun nyeletuk, “Wah, semoga dapat mentahnya!” (Maksudnya dapat uang).

Kemudian saya dan ibu mertua mencari tempat untuk salat asar, ternyata penuh sesak. Maklum, saat Ramadan dan waktu tunggu jelang berbuka adalah waktu mustajabnya doa sehingga banyak jamaah yang memilih untuk berada di masjid. Jelang berbuka, banyak yang membagikan takjil pada kami. Tiba-tiba ada seorang muslimah berbaju serba hitam menyelipkan beberapa lembar uang riyal di tangan saya dan bunda. Saya dan bunda sempat menolak, tapi dia tetap menaruh uang tersebut. Alhamdulillah, ternyata celetukan suami tadi benar-benar dikabulkan Allah. 

Pernah juga saat di Madinah, saya membatin pengin makan kolak dan bakwan karena kangen dengan takjil favorit saya selama di Indonesia.  Tiba-tiba, atas izin Allah, saat berbuka puasa di pelataran Masjid Nabawi, tepat di samping saya duduk seorang ibu yang aslinya dari Indonesia tapi sudah bertahun-tahun tinggal di Madinah. Beliau sangat ramah dan sangat bahagia bisa bertemu dengan jamaah dari Indonesia. Beliau membawa wadah besar berisi kolak dan bakwan untuk dibagi-bagikan kepada kami. Alhamdulillah, Allahu akbar! Padahal tadi saya hanya membatin ingin kolak dan bakwan, tapi Allah mengabulkan dengan  cara tak terduga.

Hati-hati ya saat berada di tanah suci, apa yang terucap maupun terbersit dalam hati, bisa dengan mudah dan cepat Allah kabulkan. Begitulah sedikit pengalaman saya saat menjalankan ibadah umrah di Ramadhan 2017 yang lalu. Sebenarnya ada banyak cerita lainnya, semoga bisa saya bagikan di lain kesempatan.


Photo by ekrem osmanoglu on Unsplash

+4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *