Do’a dalam Harap

+2

Oleh: Maydina Zakiah *

Kapan kamu terakhir berdo’a? Sesering apa kamu panjatkan do’amu? Apa saja yang kau pinta dalam do’amu?

Do’a adalah hadiah terbaik bagi siapa saja, bagi diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan, pemimpin hingga bangsa dan negara bahkan dunia, termasuk bagi orang-orang yang telah mendahului kita seperti halnya do’a untuk para prajurit kita yang menjaga laut Indonesia yang kini telah gugur saat mengemban tugas. Yup, Ramadhan tahun ini memang berbeda… banyak pelajaran di dalamnya, terutama tentang makna ‘kehilangan’ dan rasa ‘syukur’, mulai dari covid yang menghampiri bumi pertiwi hingga berpulangnya ke rahmatullah para prajurit bangsa di laut lepas Indonesia.

Berdo’a di bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini memiliki makna tersendiri. Apalagi jika dilakukan pada waktu-waktu mustajab, seperti setelah selesai adzan sebelum iqamah, saat hujan ataupun di 2/3 malam saat shalat tahajud. 

Kualitas kita saat berdo’a juga mempengaruhi dikabulkannya atau tidak do’a kita. Bagaimana kita berdo’a dengan beradab dan bagaimana kita merendahkan diri saat berdo’a dengan penuh keikhlasan juga turut mempengaruhi apakah do’a kita didengar oleh Allah yang Maha Kuasa atau tidak.

 Satu hal yang senantiasa saya ingat manakala hendak berdo’a, yaitu: ‘Do’a orang yang terzalimi tidak ada hijab/penghalangnya.’ Kondisi khusyuk berurai air mata mengiringi do’a, manakala merasa terdzalimi dan merasa tidak memiliki kemampuan untuk melawan dengan tangan melalui perbuatan (meski itu selemah-lemahnya iman), di saat itulah bersandar hanya pada Allah SWT.

Dalam berdo’a juga kita mengalami transformasi diri, disadari atau tidak. Cara kita berdo’a sedari kecil hingga sekarang mengalami transformasi, meski bukan dalam bentuk fisik dan tata cara, tetapi konten do’a yang dipanjatkan. Aku sendiri mengalami transformasi dalam do’a rutin setelah salam, manakala selesai sholat. 

Kalau dahulu saat masih kecil, do’a untuk kedua orang tua dan do’a agar diselamatkan dunia dan akhir menjadi sebuah kebiasaan, ditambah berbagai do’a yang berdasar keinginan ini-itu laiknya anak kecil pada umumnya, maka kini…setelah mengalami berbagai fase kehidupan, selain do’a rutin tersebut, terselip kalimat lainnya dalam setiap do’a saat selesai sholat lima waktu. Kalimat do’a itu sederhana… kurangkai dan senantiasa kulafalkan kemudian dan terpatri dalam otak bawah sadarku semenjak suatu momen menimpaku di tahun 2016…Kala itu, selama sebulan penuh saat Ramadhan, aku tidak sedetikpun menyalakan hp…Masa-masa dimana kekecewaanku dengan keadaan yang bagiku tidak adil, sangat memuncak. Hingga pada suatu titik, kuberdo’a: ‘Ya Allah jadikanlah aku, orang yang pandai mensyukuri nikmat-Mu… Anugerakanlah kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan kepada guru-guruku, dosen-dosenku, sahabat-sahabatku, teman-temanku,saudara-saudaraku, tetanggaku dan keluargaku dan orang-orang yang telah berbuat baik padaku selama ini…Dan terhadap mereka yang pernah menzalimiku, Sesungguhnya… hanya Engkau yang dapat menyadarkan mereka …dan pabila mereka tidak sadar juga, berikanlah pembalasan yang sesuai menurut caramu ya Allah… Ya Allah luruskanlah niatku dalam belajar, berkarya, dan bekerja…Jauhkanlah aku dari sifat sombong, iri hati, dengki, dan penyakit hati lainnya.’

Lalu diakhiri dengan kalimat: ‘ Ya Allah…anugerahkanlah aku rezeki yang halal dan barokah, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang diterima…’ sebelum do’a rutin untuk orang tua dan do’a untuk keselamatan dunia-akhirat. Semenjak pengalaman di tahun itu…inilah kalimat yang senantiasa mengiringiku dalam memanjatkan do’a. Tak banyak lagi inginku…toh kita hanya mampir sementara di dunia ini. 

Dalam harap dan do’a ku berada… diantaranya ku bernafas…

Semoga Ramadhan tahun ini membelajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan pandai mensyukuri nikmat-Nya.


* Penulis adalah peminat dunia kreatif, kreativitas, inovasi, dan pembelajaran. Pernah menjadi kontributor aplikasi perangkum buku pada sebuah startup rangkuman buku best seller terkait manajemen, marketing, SDM, dsb disamping juga pernah menjadi kontributor pada sebuah web portal industri kreatif. Penulis juga merupakan salah satu founder forum sebuah komunitas pembelajaran kreatif. Lebih lanjut tentang karya dan kiprah penulis dalam komunitas dan profesional bisa dilihat pada https://linktr.ee/maydina 


Photo by Diego PH on Unsplash

+2

2 Comments on “Do’a dalam Harap”

  1. Assalamualaikum wrwb
    Puji syukur kepada allah SWT ,salam silaturahmi .
    Jadi mengingatkan saya dengan apa yang juga telah dan sedang saya jalani .
    Allah maha besar.

    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *