Berbuka dan Bersama

Oleh: Cicih M Rubii

Tanpa terasa Ramadhan sudah sampai ke pertengahan bulan. Nuansa Ramadhan begitu kental, baik di lingkungan sekitar kompleks maupun di detil rumah kami. Mulai dari kegiatan tadarus, tarawih di malam hari, sahur, ‘ngebuburit’, dan terlebih saat-saat berkesan berkumpul untuk buka puasa. Meski pandemi masih menghantui, tetapi suasana Ramadhan kali ini lebih hangat dibandingkan tahun lalu.

Alitha adalah anak bungsu yang masih di sekolah TK. Mulai tahun ini gadis berkulit sawo matang dengan rambut keriting melewati bahu ini belajar berpuasa seharian penuh. Setiap malam, dia bersama kawan-kawannya bersukaria berkumpul menuju mesjid untuk solat isya dan tarawih. Kaki-kakinya yang kecil berlarian dengan keceriaan yang menggembirakan menuju rumah Allah. 

“Mamah, apakah semua doa akan dikabulkan oleh Allah?” tanya Alitha suatu waktu sepulang dari masjid. Lipatan mukena yang tak beraturan dalam genggaman tangan kirinya, didekapkan ke dada.

“Insya Allah, semua doa akan didengar oleh Allah, tetapi akan dijawab dengan tiga cara, mengabulkannya langsung, menundanya di waktu yang lain, menggantikan dengan kondisi terbaik lainnya.” Jelasku sambil menggenggam tangan kanannya yang mungil dan lembut. 

“Kalau begitu Alitha akan rajin berdoa ya, Mah!” ujarnya bersemangat. Beberapa helai rambut yang melingkar-lingkar halus di lehernya bergerak-gerak tertiup angin. Mukena yang tadi didekapnya dirapikan di atas meja pojok ruangan.


Susana waktu sahur mulai ramai, bau masakan menyeruak di udara yang dingin.  Pengeras suara dari setiap mesjid saling bersahutan. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar sekelompok anak-anak muda memukul rebana membangunkan setiap penghuni rumah. Keindahan yang membuat rindu, khas malam bulan Ramadhan.

Menu sahur yang sederhana sudah tertata rapi di atas meja makan. Asap mengepul dari mangkuk besar berisi sop ikan kegemaran penghuni rumah. Aku menuangkan teh hangat ke sejumlah gelas. Sebentar lagi setiap kursi di sini akan terisi dengan gaya sahur yang unik.

“Nak, bangun yuk! Sahur dulu” bujukku sambil mengusap-usap pipi Alitha yang chubby. Sementara kakanya lamgsung yang masih kelas tiga SD sudah dituntun ayahnya ke meja makan.

Tanpa membuka mata, gadis ini mengangkat badannya dan duduk di pinggiran kasur. Segera kubimbing melangkah menuju ruang makan. Di sana sudah ada tiga kakaknya yang duduk tertib di kursi masing-masing.

“Besok, kuat yaaa! Puasa itu menyehatkan dan membuat hati gembira. Rasul mengatakan bahwa orang berpuasa akan meraih dua kegembiraan yaitu kegembiraan saat berbuka, dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya,” ujarku sambil menyuapinya. Seperti biasa sambil membujuk  makan, aku menyelipkan ajaran-ajaran tentang puasa agar lebih termotivasi.

“Ya Allah, mudah-mudahan Alitha besok bisa puasa full, agar dapat ikut buka bersama. Iya kan Kak?”harap gadis ini sambil menatap kakaknya yang ketiga, yang terpaut umur 3 tahun.

“Amiin”sahutku tersenyum. “Semoga Alitha juga menjadi anak solehah selalu” lanjutku mendoakan. “Memangnya kenapa, kok Alitha doanya begitu?’ tanyaku  heran. 

“Iya, betul juga kata Mamah. Pantas saja Alitha gembiraaaa sekali, kalau waktu buka datang, apalagi semua berkumpul” celotehnya dengan mata berbinar-binar. Sesekali mulutnya mengunyah perlahan. Sementara kakaknya yang diajak bicara hanya mengunyah makanan sambil mata tetap terpejam.

“Alitha dan kakak sudah berjanji, jika puasanya hanya setengah hari, tidak boleh ikut buka bersama keluarga di meja makan,” lanjutnya menjelaskan.

“Oalaah” ujarku mengangguk-angguk. Itu rupanya ‘punishment’ yang mereka berdua sepakati jika tidak puasa sehari penuh. Padahal, berbuka bersama-sama adalah hal yang paling dirindukan oleh gadis kecil ini. Jika ada salah satu anggota keluarga yang tidak ikut bergabung, tampak sekali kekecewaan menyelimuti wajahnya.


Karena masih pandemi, gadis kecil ini hanya seminggu sekali ke sekolah. Itupun hanya berlima dalam sekelas. Dan siang ini sepulang sekolah dia tampak lemas di pojok kamar. Wajahnya memerah, dan matanya berkaca-kaca.

“Kenapa menangis, anak baik?” tanyaku heran. “Masih puasa kan?” lanjutku sambil membenahi tas dan kerudung yang berserakan di atas kasur.

Gadis itu hanya mengangguk. “Tapi…pusing kepala!” jelasnya terbata. Sepertinya dia terlalu lama di bawah terik matahari saat perjalanan pulang sekolah tadi.

“Buka puasa saja ya, kan kalau sakit boleh batal” nasehatku khawatir dengan kondisinya. Tak lama kemudian kubuatkan teh manis hangat dan nasi goreng ceplok.

“Alitha kan sudah berdoa hari ini ingin puasa penuh sehari. Nanti Allah marah sama Alitha” ujarnya tak juga mau menyentuh minuman dan makanan yang sudah kusediakan.Wajahnya tertunduk dalam-dalam.

“Lagipula, nanti tak bisa ikut buka bersama” sesalnya kemudian. Ada nada berat yang jelas tergambar dalam tekanan suaranya.

“Alitha boleh kok ikut buka bersama meskipun gak full puasanya” bujukku terharu.

“Beneran, Mah?” sontak matanya mentapaku bersinar penuh harap.

“Tadi subuh Alitha berdoa agar puasanya kuat sehari. Ternyata Allah tidak kabulkan. Berarti benar ya kata Mamah, Allah mendengarkan doa kita dengan tiga cara. Sekarang Allah mendengar doa Alitha, eh… malah ditunda. Besok Alitha akan kuat puasa.” simpulnya  takjub.

“Iya betul, Kali ini Allah menunda kabulkan doa Alitha, bahkan mengganti dengan kondisi yang lebih baik. Alitha boleh buka biar sehat, tetapi masih boleh ikut buka bersama di sini” sahutku panjang lebar dengan bahasa yang bisa dicerna olehnya.

Alitha mengangguk-anggukan kepalanya tanda puas, “Besok Alitha berdoa lagi, semoga Mamah selalu sehat dan baik.” ujarnya sambil meraih kedua tanganku dan memelukku erat.

Teruslah berdoa Nak, jangan lelah meminta. Karena Allah sangat senang ketika hambanya banyak meminta kepadaNya. “Ud’uunii, fastajib lakum, berdoalah kepadaKu maka aku akan mengabulkannya untuk kalian.”


Photo by Kenny Krosky on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *