Antara Aku, Minion, dan Surat A-Hasyr

+5

Oleh: Denik

Minion adalah sebuah sepeda mini yang begitu aku sayangi. Sejak SD sampai sekarang tetap aku pergunakan. Padahal awalnya aku sempat kesal ketika ibu dan bapak membawa sepeda mini tersebut. Terlalu besar dan berat untuk ukuranku saat itu yang masih menik-menik.  

“Sepedanya kegedean Pak. Berat pula.”

“Ya, nanti kamu kan makin besar. Adik-adikmu juga. Pas dan kuat untuk boncengan ke sekolah. Bapak pilih sepeda ini karena kokoh.”

Begitu dalih bapak. Dalam perjalanannya sepeda mini tersebut memang menjadi alat transportasi keluarga. Artinya kalau tidak kubawa ke sekolah. Ibu yang menggunakannya untuk berbelanja ke pasar atau mengantar jemput adikku ke sekolah.

Seiring berjalannya waktu, adikku yang lelaki minta dibelikan sepeda sendiri. Adikku yang perempuan juga sama. Dia tidak mau memakai sepedaku dengan alasan berat. Akhirnya kami memiliki sepeda masing-masing. Minion pertama ini menjadi milikku sepenuh.

Aku pun semakin leluasa menggunakan dan membawa minion kemana-mana. Ke sekolah, bermain dan bertualang bahkan mengajar, ketika aku sudah bekerja sebagai guru taman kanak-kanak. Sudah tak terhitung berapa kali aku mengajak minion yang kuberi nama SiMas ini dalam berkegiatan. Teman-temanku juga sudah banyak yang mengenalnya. Pendek kata aku dan SiMas sudah satu paket. Tak terpisahkan.

Suka dan duka telah kami lalui bersama. Ada satu peristiwa yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup. Terlepas dari qodarullah atau bukan. Jika bukan karena rengkuhan sayap-sayap malaikat. Aku dan SiMas mungkin hanya tinggal kenangan alias dead.

Berawal dari niat tulusku untuk ngabuburit sambil bersilaturahim ke rumah kawan. Seperti biasa aku mengajak serta SiMas. Sebelumnya aku singgah dulu ke toko kue untuk membeli beberapa kue. Tak pantas rasanya berkunjung ke rumah orang hanya melambai tangan. Setelah kuenya terbungkus rapi dalam kardus berbentuk persegi. Kuketakkan kardus kue tersebut ke dalam keranjang sepeda. Kemudian meluncurlah aku menuju rumah si kawan.

Baru beberapa kayuhan, di perempatan sebuah jalan aku dan SiMas dihantan sepeda motor yang kebablasan alias terlalu melebar saat belok. Alhasil aku dan SiMas terpental ke tengah jalan. Pengendara motor yang  menabrakku menghantam trotoar. Aku dan SiMas tergeletak tanpa daya. Dalam kondisi demikian aku melihat sebuah metromini melaju dengan kencang ke arah kami. Kudengar teriakan ketakutan dari orang-orang di tepi jalan. Sementara aku yang merasa shock tak mampu berbuat apa-apa, selain pasrah. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil berucap.

“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Sesungguhnya semua berasal dari Engkau maka kepada Engkau tempat kembali.”

Tak lama terdengar decitan suara rem yang sangat keras berbarengan suara teriakan orang-orang. Kemudian ada suara yang memanggil-manggil supaya aku mengulurkan tangan. Kubuka mata ini. Ternyata aku masih hidup dan berada di kolong metromini. Segera kuraih tangan-tangan terulur tersebut. Aku segera ditariknya dan dipapah untuk berdiri. Kulihat yang lainnya sedang menarik SiMas juga. Lalu menegakkannya di sampingku. Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek kardus kue dalam keranjang sepeda. Ternyata masih utuh dan tidak rusak sedikit pun.

“Alhamdulillah,” seruku.

“Mbanya terluka enggak? Sepedanya kalo ada yang rusak minta ganti aja sama yang nabrak.”

Aku segera gerakkan anggota  tubuh. Tak ada yang sakit. Lecet atau memar pun tidak. Kulihat SiMas tak ada yang tergores juga. Yang utama kardus kuenya pun tak apa-apa. Karena kami baik-baik saja maka aku tak menuntut apa-apa dari si penabrak. Apalagi kulihat si penabrak justru parah. Luka dan berdarah akibat menghantam trotoar. 

“Saya tidak apa-apa, Pak. Terima kasih atas bantuannya. Saya akan melanjutkan perjalanan.”

Aku pun kembali mengayuh SiMas. Sungguh tak merasakan apa-apa. Biasa saja. Padahal beberapa menit yang lalu aku menjadi tontonan orang. 

Alhamdulillah aku bisa tiba di rumah kawan dan menyerahkan kue yang kubawa dengan perasaan haru. Sebab saat ibu si kawan membuka kardus kue yang kubawa, posisi kuenya tetap rapi. Tidak berantakan. Logikanya kardus kue itu terpental dan berhamburan di jalan. Kenyataannya? Tetap utuh dan rapi.

Dalam perjalanan pulang aku tak henti-hentinya mengucap kata syukur. Juga melafazkan doa andalanku. Aku yakin dan percaya bahwa keajaiban yang kualami tak lain berkat doa-doa penjagaan diri yang kuamalkan selama ini. Pagi dan sore aku tak lupa membacanya. Jika dalam perjalanan malah lebih intensif membacanya. Sebab aku yakin dan percaya dengan kafadolannya.

Doa apakah itu? Yakni tiga ayat terakhir surat Al-Hasyr. Dijelaskan bahwa barang siapa membaca ayat tersebut pagi dan sore, maka  ia akan dilindungi oleh 10.000 malaikat. Sepuluh ribu malaikat? Bayangkan? Satu malaikat saja bagiku sudah satu kesyukuran tersendiri. Apalagi sepuluh ribu. Oleh karenanya aku rajin mengamalkan doa tersebut. Hasilnya? Seperti yang kualami.

Kelihatannya aku terpental dan terkapar di jalan. Kenyataannya aku ditangkap dan dilindungi oleh sayap-sayap malaikat. Sebab aku memang tidak merasakan apa-apa. Tak hanya aku, SiMas dan kardus kue yang kubawa juga utuh tak ada goresan sedikit pun. Ajaib bukan?

Mustahil. Tak percaya. Mungkin begitu ujar sebagian orang yang mendengar cerita ini. Namun sebagai orang beriman. Aku percaya atas keberadaan malaikat. Aku juga percaya dengan janji Allah. Aku telah membuktikannya. Itulah sebagian keajaiban yang kualami dari sekian keajaiban lain yang pernah terjadi dalam hidupku. Bagaimana dengan kalian? (EP)


Photo by Adam Birkett on Unsplash

+5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *